Shoppers Trend 2008


lebih penting dibandingkan product range, lokasi, serta convenience dan environmental friendliness. Selain itu, harga, promosi, dan persepsi merupakan faktor yang paling berpengaruh untuk mendukung konsumen menemukan sebuah persepsi akan sebuah nilai.

Berdasarkan global survey yang dilakukan oleh AC Nielsen, Good Value for Money merupakan faktor terpenting bagi konsumen untuk menentukan di mana mereka akan membelanjakan anggaran belanjanya. Pada pertengahan 2007, Nielsen mensurvey 26.486 pengguna internet di 47 negara yang meliputi Eropa, Asia Pasifik, Amerika, dan Timur Tengah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pemilihan grocery store.

Nielsen menemukan bahwa lebih dari 85% konsumen memilih Good Value for Money sebagai pertimbangan terpenting ketika memilih grocery store tempat berbelanja -nilai tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan product range, lokasi, convenience dan environmental friendliness- Dengan konsumen dari Filipina dan Singapura yang berada dalam top global ranking yang memilih faktor Good Value for Money tersebut.

Menurut Yongky Susilo, Retailer Service Director, Nielsen Indonesia, hasil survei tersebut memberikan snapshot global unik mengenai shopping habits dan motivasi dibalik tingkah laku belanja di grocery. Lebih lanjut Yongky mengungkapkan bahwa apa yang diinginkan dan diminta konsumen dari para pelaku ritel sangat bervariasi tergantung pada daerah dan negara. Dan dengan peningkatan konsolidasi dan globalisasi industri ritel, sangat penting bagi pelaku ritel untuk mengetahui preferensi konsumen dalam memilih tempat belanja.

Survei Nielsen juga menyebutkan bahwa disamping Good Value for Money, faktor kedua terpenting bagi konsumen adalah apakah outlet ritel tersebut menawarkan pilihan merek dan produk berkualitas yang lebih baik, diikuti dengan lokasi, serta convenient/kemudahan parkir. Sedangkan, agak berbeda di Indonesia faktor-faktor terpenting yang mempengaruhi secara berturut-turut adalah lokasi, convenience, product range, dan environmental friendliness. ?Konsumen yang sama mengharapkan harga termurah di beberapa kategori, dan yang terbaik dari yang terbaik di lainnya,? kata Yongky.

Rangking tertinggi di dunia yang konsumennya memilih supermarket berdasarkan pemilihan merek dan produk berkualitas yang lebih baik adalah konsumen negara-negara yang kondisi ekonominya sedang booming, yaitu Rusia (93%), India (79%), Latvia (79%), Cina (78%), dan Lithuania (77%).

Konsumen yang memilih supermarket karena dekat dengan tempat tinggalnya adalah Korea Selatan (69%), dan Indonesia (66%). Sedangkan konsumen Malaysia lebih mempertimbangkan faktor convenient/kemudahan parkir, yaitu sebesar 74%.

Dalam pasar yang berkembang pesat, terdapat banyak konsumen dalam jumlah besar yang memiliki disposable income dan citarasa khas. Konsumen jenis tersebut menghendaki pasar berkualitas premium yang menawarkan produk bermerek berkualitas tinggi.

Bagaimana konsumen mendefinisikan ?Good Value?? Survei tersebut juga mengungkapkan harga, promosi, dan persepsi sebagai faktor terpenting dalam membantu konsumen menemukan persepsi dari nilai. Tiga diantara empat konsumen dunia mengakui bahwa promosi yang gencar dan pemberian diskon secara regular oleh grocery stores sebagai Good Value untuk Uang, dan 70% mengatakan bahwa sangat penting bagi store untuk memiliki reputasi dengan harga murah dibanding pesaing. Selain itu, harga yang dipublikasikan di leaflet dan materi promosi lainnya, diikuti dengan riset dan perbandingan harga dengan ritel lainnya secara individual, yang kemudian mendorong penurunan harga melalui kartu keanggotaan atau loyalitas yang menjanjikan harga rendah setiap harinya.

Perlu kembali disadari, bahwa setiap daerah dan negara memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Bagi konsumen Eropa mengunjungi toko yang memiliki banyak promosi dan menawarkan harga diskon secara reguler, serta memiliki reputasi harga yang lebih murah merupakan dua indikator terbaik dari Good Value tersebut. Konsumen Eropa juga percaya bahwa penurunan harga melalui kartu keanggotaan merupakan Good Value. Sedangkan bagi konsumen Asia Pasifik, harga yang tercantum pada materi promosi suatu supermarket, dan janji untuk memberikan harga rendah tiap hari, serta riset individu untuk membandingkan harga antar ritel menjadi faktor terpenting. Selain itu, penyebaran informasi dari mulut ke mulut mengenai toko/supermarket penyedia harga terbaik juga merupakan faktor penting bagi konsumen Asia.

Bagi konsumen Indonesia, Yongky menjelaskan bahwa reputasi suatu toko/supermarket yang menyediakan barang lebih murah dibanding kompetitor merupakan faktor terpenting (84%) dalam menentukan Good Value for Money. Faktor terpenting kedua adalah rekomendasi dari teman mengenai tempat yang membrikan harga terbaik (78%), diikuti promosi yang gencar dan pemberian diskon secara regular (71%), riset pribadi dan pembadingan harga antar ritel (71%), harga yang tercantum di materi promosi dan leaflet (61%), penurunan harga melalui kartu keanggotaan (59%), dan janji toko/supermarket untuk selalu memberikan harga murah setiap hari (56%).

Yongky menambahkan, bahwa berdasarkan riset di Amerika Serikat, Good Value dan harga murah lebih banyak berkaitan dengan golongan menengah ke bawah. Sedangkan, golongan menengah ke atas biasanya lebih memperhatikan kualitas kesegaran produk fresh, meat, dan seafood.

Indonesia market overview
Ritel di Indonesia berdasarkan data yang dimiliki oleh AC Nielsen masih didominasi oleh toko tradisional, yaitu sebesar 1,8 juta. Sedangkan ritel modern baru berjumlah 9 ribu. toko tradisional tersebut juga masih tumbuh sekitar 3% (bertambah 58 ribu toko pada 2007). Selain itu, took tradisional juga masih yang palin sering dikunjungi dibanding ritel modern

Sedangkan dari segi penjualan, pertumbuhan penjualan ritel modern masih lebih besar dibandingkan toko tradisional, yakni 20,7%. Sedangkan toko tradisional hanya 12%. Pertumbuhan penjualan melalui minimarket nasional tumbuh sekitar 36%, dan supermarket 5,5%. Sedangkan pertumbuhan penjualan melalui hypermarket adalah sebesar 22,6%, lebih rendah dari pertumbuhan periode sebelumnya (42,6%). Penyebabnya adalah adanya ekspansi toko yang tertunda.

(Sumber AC Nielsen)

(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Mei 2008)

Artikel Lainnya

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...

  • Mei 21, 2018

    Mengenal asam lemak trans dalam produk pangan

    Lemak merupakan salah satu bahan tambahan yang banyak digunakan pada produk bakeri. Lemak pada produk bakeri memberikan beberapa manfaat seperti dapat memperbaiki tekstur, memberikan efek yang glossy serta memberikan flavor yang lebih baik dan gurih. Lemak pada produk bakeri merupakan komponen yang tak terpisahkan dan keberadaanya dapat menentukan kualitas dari suatu produk bakeri. Selain produk bakeri, beberapa produk lain yang juga menggunakan lemak dalam proses produksinya adalah krimer kopi, makanan ringan, es krim, dan makanan cepat saji. Bahkan, beberapa diantara produk tersebut juga menggunakan asam lemak trans pada produksinya.  ...

  • Mei 19, 2018

    Tantangan aplikasi pewarna alami untuk produk pangan

    Atribut warna pada produk pangan menjadi atribut penting bagi konsumen untuk memilih suatu produk pangan. Konsumen cenderung memilih produk pangan dengan warna yang menarik, sebelum memperhatikan atribut lainnya. Berdasarkan sumbernya, pewarna makanan dibedakan menjadi dua jenis, pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami diproduksi dari proses ekstraksi senyawa pemberi warna dari bahan-bahan alami, melalui proses dan teknologi yang cukup panjang, sedangkan pewarna sintetis berasal dari bahan-bahan kimia sintetis yang penggunaannya diizinkan sebagai pewarna makanan. Baik pewarna alami maupun pewarna sintetis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. ...