Pemanfaatan Natural Extract pada Pangan dalam Kemasan

 

Selain mengandung aroma chemical, perisa juga mengandung natural extract. Meskipun tampak ada duplikasi kandungan natural extract pada perisa maupun pada pangan dalam kemasan, ternyata fungsi yang diberikan berbeda.  Natural extract dalam perisa berfungsi untuk memberikan kompleksitas atau memperkuat karakter organoleptik tertentu yang tidak dapat diperoleh dari aroma chemical.  Sedangkan pada pangan dalam kemasan, selain fungsi di atas, natural extract bisa digunakan sebagai:
 

  • Substitusi (sebagian atau keseluruhan) bahan baku segar/kering pangan yang bersangkutan
  • Pembawa kandungan aktif  alami yang dapat memberi manfaat fungsional seperti kesehatan (anti-oxidant, vasodilator, anti-aging, dan lain-lain), warna, dan pengawetan
  • Body pada produk sehingga antara base dengan top note lebih menyatu.

 
Natural extract merupakan sediaan bahan baku yang memiliki beberapa keunggulan sekaligus antara lain: konsentrasi tinggi (dosis pemakaian rendah), risiko kontaminasi mikroba dan pestisida yang rendah, kualitas terstandarisasi dan masih menyandang status natural (alami).

Dari berbagai macam teknologi, ekstraksi dengan menggunakan CO2 dalam kondisi super kritis disebut-sebut sebagai yang terbaik, namun hasilnya hanya layak dimanfaatkan pada produk-produk

premium.  Saat ini, teknologi ekstraksi yang paling populer dan layak secara bisnis (bisa dimanfaatkan pada produk-produk pangan dalam kemasan pada umumnya) adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut organik (solvent extraction). 



Meskipun sama-sama menerapkan teknologi ekstraksi dengan pelarut organik, setiap jenis natural extract bersifat unik tergantung dari pemilihan kualitas bahan baku, pengolahan bahan baku sebelum ekstraksi, jenis dan kualitas alat ekstraksi, jenis dan kualitas pelarut, teknik dan tahapan proses ekstraksi, suhu dan tekanan yang diterapkan dan sebagainya.  Oleh karena itu, pertimbangan untuk memakai natural extract dalam produk sebaiknya dimulai dari awal produk pangan dalam kemasan tersebut dikembangkan.  Beberapa natural extract yang banyak dipakai adalah ekstrak teh (tea extract),  dan ekstrak kopi (coffee extract).  Berikut ini adalah contoh pemanfaatan ekstrak teh dalam minuman “ready to drink” (RTD) dan ekstrak kopi dalam permen kopi.

 

Ekstrak teh dalam minuman RTD

Di Indonesia, teh adalah minuman kedua terpopuler setelah air putih.  Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila minuman dalam kemasan yang sukses di pasar banyak yang bercita rasa teh dan mencantumkan ekstrak teh sebagai kandungan utama selain gula dan bahan lainnya.  Ektraksi teh yang paling sederhana adalah menyeduh dengan air panas sebagai pelarut. Pada skala industri, penyeduhan teh membutuhkan investasi peralatan yang besar serta kompleksitas proses tinggi dibandingkan membeli ekstrak teh  dari pembuat ekstrak teh seperti PT Indesso Aroma.  Teknologi ektraksi dengan “filtering bottom extractor” (filtrasi dan ekstraksi pada unit yang sama) beragitator fleksibel serta evaporator “spinning cone” (seperti yang dimiliki PT Indesso Aroma) memungkinkan daun teh diekstrak tuntas tanpa mengurangi keutuhan karakter organoleptik teh.  Bahkan dalam ekstraksi teh hijau, kandungan epigallocatechin gallate (EGCG) yang didapat lebih tinggi dibanding produk sejenis di pasaran (hasil pengukuran dengan High

 

Performance Liquid Chromatography, HPLC), tanpa mengurangi keutuhan rasa dan aroma teh hijau.

Dosis pemakaian ekstrak teh untuk minuman RTD yang disarankan adalah antara 0.1% sampai dengan 0.2% apabila ekstrak teh digunakan sebagai substitusi total daun teh yang diseduh.  Air yang dipakai sebaiknya “reversed osmosis water” atau “demineralized water”.  Hal untuk menghindari reaksi antara polyphenol teh dengan mineral tertentu dalam air. 

Prosedurnya adalah: sebelum flavor ditambahkan, produk dipanaskan sampai 1000 C. Flavor kemudian ditambahkan saat suhu turun ke 750 C.

 

Ekstrak kopi dalam permen kopi

Ekstrak kopi, selain dimanfaatkan dalam minuman RTD, juga banyak dimanfaatkan dalam produk bakery dan confectionery.  Pemanfaatan ekstrak kopi dalam confectionery seperti misalnya permen kopi sangat vital.  Aroma kopi yang keluar saat penyeduhan kopi panas tidak dapat diperoleh dari perisa (flavor) saja.  Proses ekstraksi kopi dengan tambahan proses ”aroma recovery” (seperti yang dimiliki PT Indesso Aroma) salah satu tujuan utamanya adalah menangkap kembali aroma yang menguap dalam proses pemanasan.  Permen kopi yang memanfaatkan ekstrak kopi, pada saat dikulum dalam rongga mulut, aroma kopinya akan lebih terasa dibanding permen kopi tanpa menggunakan ekstrak kopi.

 

Prosedurnya adalah gula pasir, glucose syrup, air, garam, GMS dan cloud powder dipanaskan 1420 C; ditambahkan mentega, susu kental manis, coffee extract dan caramel color; dan ditambahkan coffee flavor, aduk rata dan tuang ke depositor. 

Sumber: PT Indesso Aroma

 



(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Oktober 2011)

Artikel Lainnya

  • Apr 23, 2018

    Perubahan Tekstur Cokelat selama Proses Conching

    Seperti diketahui bahwa pada tahap awal proses conching terbentuk gumpalan berbentuk bola-bola kecil. Pada proses penghalusan, baik pada gula maupun susu akan terjadi perubahan bentuk amorf dari partikel gula dan partikel susu. ...

  • Apr 23, 2018

    Perbedaan Kandungan Komponen Gizi Susu Kambing dan Susu Sapi

    Susu kambing  mengandung protein kasein lebih rendah, sehingga tinggi proporsi protein serum yang menyebabkan lebih mudah dicerna daripada susu sapi. Susu kambing dan kolostrumnya kaya poliamin dibanding susu dari mamalia lain,  sehingga susu kambing merupakan sumber poliamin yang sangat bagus bagi bayi.  Poliamin penting untuk pertumbuhan optimal, fungsi  sel saluran cerna,  maturasi enzim-enzim saluran cerna dan mempunyai implikasi dalam mengurangi insiden alergi pangan pada bayi (Vaquil and Rathee, 2017).  ...

  • Apr 22, 2018

    Perlu Pencegahan Oksidasi Pada Produk Daging

    Produk daging termasuk daging merah dan daging olahan merupakan produk pangan yang memiliki banyak kandungan gizi yang menjadi sumber tinggi akan protein. Selain itu, daging memiliki banyak zat gizi yang baik bagi kesehatan karena adanya asam amino esensial yang lengkap dan seimbang, air, karbohidrat, dan komponen anorganik lainnya. Meskipun demikian, konsumsi daging merah pada khususnya dihubungkan dengan beberapa penyakit degeneratif seperti jantung koroner dan beberapa tipe penyakit kanker. Tidak hanya pada daging segar, produk daging olahan seperti sosis dan ham menghasilkan senyawa kimia beracun seperti karsinogen dan menyebabkan mutasi gen selama proses pengolahannya yang meliputi proses pengasapan, fermentasi, maupun pengolahan dengan panas.  ...

  • Apr 21, 2018

    Menjamin Kemasan Halal untuk Produk Pangan

    Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Edi Rivaíi mengatakan bahwa produk pangan halal tidak hanya berdasarkan ingridien dari pangan tersebut, namun status halal juga harus dipenuhi oleh kemasan yang digunakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam lingkup kemasan halal meliputi sertigikasi halal dalam kemasan, metode yang halal dalam penanganan produk dan ketertelusuran halal dalam bahan kemasan. ...

  • Apr 21, 2018

    Nilai Fungsional Tempe Multigrain

    Terdapat berbagai komponen bioaktif yang terdapat pada beberapa multigrain tempe. Pada tempe yang terbuat dari Oat dan Barley, adanya variasi proses pengolahan akan memengaruhi kandungan mineral dan juga asam fitat (Sandberg dkk., 2006). ...