Fortitech Peroleh Sertifikasi FS 22000


Description: http://www.fortitech.com/campaigns/qaqc/images/quality_seal.png

Salah satu perusahaan premix ingredient terbesar di dunia, Fortitech, mengumumkan bahwa mereka telah memperoleh sertifikat FS 22000 untuk semua fasilitasnya.  Sertifikasi tersebut dilakukan untuk memenuhi tuntutan customer yang semakin ketat terhadap mutu dan keamanan pangan.  Menurut siaran pers yang diterima Redaksi Majalah FOODREVIEW INDONESIA, sertifikasi yang baru diperkenalkan tersebut telah disetujui oleh Global Food Safety Initiative (GFSI).  Bahkan, Fortitech juga mengklaim sebagai industri yang pertama kali menerima FS 2200 untuk semua fasilitasnya, baik domestik maupun internasional.

Vice President of Scientific Affair Fortitech, Panna Chaudari Ph.D., mengungkapkan bahwa sertifikasi FS 22000 melengkapi sertifikat ISO 9001 yang sudah dimilikinya.  "Kami selalu menerapkan panduan keamanan pangan secara ketat, oleh sebab itu sebenarnya banyak persyaratan FS 22000 yang sudah kami lakukan," ujar Panna.  Tidak hanya itu, Panna juga menuturkan jika pihaknya juga melakukan peningkatan terhadap semua prosedur dan proses yang telah ada, termasuk persyaratan dasar sanitasi dan hygiene.  "Program HACCP yang telah dilaksanakan juga ditingkatkan dengan menerbitkan rencana yang lebih detail untuk mengidentifikasi risiko bahaya melalu perbaikan pengawasan, critical limits, prosedur monitoring, koreksi, tanggung jawab, dan pencatatan" tambah Panna.  Fri-09



(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Desember 2011)

Artikel Lainnya

  • Mei 26, 2018

    Tantangan penerapan industri 4.0 di Indonesia

    Penerapan industri 4.0 di beberapa negara memiliki caranya masing-masing yang disesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan di negara tersebut. Penerapan industri 4.0 di suatu negara bertujuan untuk meningkatan perekonomian suatu negara. Di Indonesia, industri pangan merupakan industri yang digadang-gadang sebagai industri yang menerapkan industri 4.0. ...

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...