Tips Menerbitkan Karya Ilmiah di Jurnal Internasional



Penerbitan karya ilmiah dalam jurnal sangat penting dalam perkembangan ilmu dan teknologi pangan. Selain itu, dengan publikasi tersebut, peneliti juga dapat memberikan kontribusi kepada masyarakat melalui penyebaran hasil risetnya, mendapatkan pengakuan keprofesiannya, dan juga sebagai pengabdian dalam profesinya. Hal tersebut diungkapkan oleh Scientific Editor Journal of Food Science, Dr. Daryl Lund, di Kampus IPB Bogor beberapa waktu lalu. "Terdapat beberapa kriteria agar sebuah karya dapat diterbitkan di jurnal internasional," ujar Profesor Emiritus University of Wascinson Madison USA tersebut. Kriteria tersebut mencakup keaslian, kualitas ilmiah, kejelasan dalam penyajian, serta tingkat manfaatnya bagi pembaca dan ilmu pengetahuan.

Dr. Lund juga menjelaskan beberapa alasan ditolaknya artikel dalam penerbitan jurnal internasional. Antara lain tidak menarik bagi pembaca; kurang memberikan informasi baru; hasil yang trivial, predictable, atau duplikat dengan lainnya; tidak terlalu menarik secara internasional; penarikan kesimpulan yang kurang tepat; dan diduga melakukan fabrication atau plagiatisme. "Namun demikian, kita tidak boleh putus asa, karena hampir setiap ilmuwan mengalami penolakan," tutur Dr. Lund. Menurutnya, yang terpenting adalah mengevaluasi mengapa terjadi penolakan tersebut, sehingga dapat memperbaiki kualitas karya ilmiah yang dihasilkan.
Hendry Noer F

(FOODREVIEW INDONESIA Edisi April 2012)

Artikel Lainnya

  • Mei 26, 2018

    Tantangan penerapan industri 4.0 di Indonesia

    Penerapan industri 4.0 di beberapa negara memiliki caranya masing-masing yang disesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan di negara tersebut. Penerapan industri 4.0 di suatu negara bertujuan untuk meningkatan perekonomian suatu negara. Di Indonesia, industri pangan merupakan industri yang digadang-gadang sebagai industri yang menerapkan industri 4.0. ...

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...