Alternatif Bagi IPS untuk Mengatasi Kenaikan Harga Susu


 

Menurut survei yang dilakukan oleh Euromonitor pada Maret 2006, pasar produk susu di Indonesia masih menunjukkan kecenderungan meningkat sampai dengan tahun 2010 (lihat Tabel).  Tetapi survei itu dilakukan sebelum harga bahan baku susu impor melonjak tinggi dikwartal kedua tahun 2007.  Dengan asumsi bahwa potensi pasar masih besar tetapi konsumen terkendala oleh daya beli yang rendah, maka hal ini menjadi tantangan bagi IPS untuk membuat produk-produk susu alternatif yang harganya terjangkau.

                Beberapa alternatif yang bisa dilakukan tanpa mengurangi nilai gizi produk olahan susu, antara lain :

                Penggunaan protein whey sebagai pengganti protein penuh dari susu bubuk skim. Sampai saat ini harga protein whey masih lebih murah dibandingkan harga susu bubuk skim, karena whey adalah ‘by product’ pembuatan keju yang memiliki nilai ekonomis yang jauh lebih tinggi. Sekarang justru banyak riset mutakhir yang menunjukkan keunggulan nilai gizi whey, yaitu daya cerna yang tinggi dan kandungan komponen bioaktif seperti laktoferin yang berperan menghambat pertumbuhan bakteri patogen, oligosakarida yang bersifat prebiotik untuk menstimulasi pertumbuhan bakteri baik dalam saluran pencernaan, glikomakropeptida yang bisa berperan sebagai anti toksin.  Daya cerna whey yang tinggi ditunjukkan dengaan nilai Protein Digested Corrected Amino Acid Score (PDCAAS) =1.0, lebih tinggi dari kasein, telur dan kedelai.  Karena daya cerna yang tinggi tersebut, sekarang banyak suplemen untuk atlet yang diformulasi menggunakan protein whey dan dijual dengan harga mahal.  Secara tidak langsung hal ini meningkatkan ‘daya jual’ protein whey sebagai produk bergengsi.

                Penggunaan lemak nabati sebagai pengganti lemak susu.  Lemak nabati yang biasa digunakan adalah minyak kelapa sawit.  Meskipun harga minyak kelapa sawit sedang naik tinggi sampai Rp 10,000 per kg tetapi masih jauh lebih murah dari lemak susu yang harganya sudah mencapai Rp 55,000 per kg.  Minyak kelapa sawit banyak mengandung beta-karoten yang dibutuhkan untuk mengatasi defisiensi vitamin A pada anak-anak dan meningkatkan kekebalan terhadap infeksi. Artinya, penggunaan minyak kelapa sawit pada produk susu akan secara otomatis menjadikan produk susu tersebut sebagai sumber beta-karoten yang berarti juga membantu program pemerintah menurunkan masalah gizi kekurangan vitamin A.

                Selain minyak kelapa sawit,  bisa juga digunakan minyak kelapa yang banyak mengandung Medium Chain Triglyceride (MCT)  sebagai sumber energi instan.  Mayoritas lemak dan minyak yang kita konsumsi terdiri dari 98% Long Chain Triglyceride (LCT) yang memerlukan enzim pankreas dan asam empedu untuk bisa dicerna dengan sempurna.  Sedangkan MCT sudah bisa dicerna dengan sempurna oleh enzim saliva dan asam lambung sehingga bisa langsung diserap oleh tubuh untuk menghasilkan energi.  Kecepatan daya cerna MCT mirip dengan karbohidrat.  Daya cerna MCT yang tinggi ini akan membuat tubuh lebih cepat menghasilkan energi, meningkatkan kecepatan metabolisme zat-zat gizi yang lain, meningkatkan efisiensi fungsi sel termasuk sistem kekebalan tubuh.  Dengan kata lain, MCT bisa meningkatkan kesehatan tubuh secara keseluruhan.  Seperti halnya protein whey, MCT sekarang juga banyak dipakai dalam formulasi suplemen untuk atlet, ‘hospital food’ dan susu formula untuk bayi.

Tabel Penjualan Ritel Produk Susu di Indonesia

 

Condensed / Evaporated Milk (juta liter)

Powder Milk (juta kg)

Flavoured Milk Drink (juta liter)

Flavoured Powder Milk Drink

(juta kg)

Yoghurt (juta kg)

2000

128.50

60.97

50.50

32.61

10.31

2001

140.50

66.45

55.30

35.51

13.25

2002

155.07

71.77

59.40

38.07

19.35

2003

172.00

77.34

63.70

40.73

21.17

2004

189.80

83.69

68.80

43.93

24.51

2005

207.54

90.80

75.33

47.04

28.62

2006

226.01

98.79

83.02

50.13

33.70

2007

244.99

107.68

91.98

52.96

39.19

2008

264.71

117.69

102.10

56.19

45.10

2009

285.72

127.58

113.53

59.77

51.04

2010

308.08

137.79

126.59

63.57

57.13

Total Growth

140 %

126 %

151 %

95 %

454 %

Sumber : Euromonitor, Dairy Products-Indonesia (Maret 2006)

 

                Ada satu lagi lemak nabati yang bisa digunakan untuk mengganti lemak susu, yaitu minyak kedelai yang banyak mengandung asam linoleat, yaitu asam lemak esensial untuk pertumbuhan anak. Beberapa produk susu pertumbuhan (growing up milk) telah menggunakan  minyak kedelai karena kandungan asam linoleatnya.

                                Penggunaan protein nabati sebagai substitusi sebagian dari protein susu, misalnya protein kedelai atau kacang tanah.  Protein kedelai dan kacang tanah memiliki nilai gizi yang tinggi.  Studi  yang dilakukan di Amerika Serikat dan telah dipresentasikan dalam International Soy Symposium pada tahun 2001 menunjukkan bahwa mengkonsumsi protein kedelai dapat meningkatkan kemampuan tubuh untuk menyerap dan menyimpan kalsium.  Hal ini akan menjadi sinergi yang bagus, dimana susu sebagai sumber kalsium dan kedelai meningkatkan kemampuan retensinya di dalam tubuh.  FDA telah menyetujui ‘health claim’ yang berhubungan dengan kesehatan jantung untuk protein kedelai pada tahun 1999 dan untuk protein kacang tanah pada tahun 2003.  Kombinasi susu sapi dan kedelai atau susu sapi dan kacang tanah menghasilkan produk yang cukup populer di Thailand dan Cina dengan kenaikan pangsa pasar sekitar 10% setiap tahun.

                Pencampuran dengan susu lain.  Di beberapa negara Asia Selatan seperti India, Pakistan dan Srilangka susu sapi dicampur dengan susu kerbau, sedangkan di Timur Tengah susu onta dan susu kambing juga biasa dikonsumsi.  Di Indonesia, yaitu di daerah Sumatera Barat, susu kerbau juga sudah lazim dikonsumsi dalam bentuk fermentasi (dadih), yang secara tradisional dipercaya sebagai minuman yang menyehatkan pencernaan dan menjaga stamina.  Dari segi zat gizi, susu kerbau dan susu kambing tidak lebih rendah dari susu sapi.  Hanya dari segi rasa, konsumen Indonesia belum terbiasa sehingga perlu waktu dan edukasi untuk bisa diterima dengan baik. Tetapi dengan teknologi ‘flavour masking’ yang semakin maju, semestinya tidak sulit untuk membuat rasa susu non sapi menjadi mirip susu sapi.  Mungkin perlu dibuat suatu terobosan baru untuk memproduksi susu non sapi secara komersial.  Amerika Serikat dan Meksiko sudah mulai memproduksi susu kambing secara komersial dalam bentuk susu bubuk dan sebagian sudah dieksport ke beberapa negara.

                Tentu saja pembuatan produk susu alternatif seperti tersebut diatas tidak bisa langsung begitu saja dilakukan.  Diperlukan pengetahuan yang cukup untuk memadu-padankan bermacam bahan dalam formulasi dan teknologi proses yang tepat agar produk yang dihasilkan memiliki rasa yang enak dan stabil selama penyimpanan.  Inovasi terus menerus yang dilakukan oleh produsen susu (IPS) disertai dengan kebijakan pemerintah yang kondusif terhadap industri susu nasional, diharapkan dapat mengatasi masalah kenaikan harga susu dalam waktu yang tidak terlalu lama.  Dengan demikian anak-anak Indonesia akan mendapatkan kembali hak asasinya untuk pemenuhan produk pangan bergizi.

Lira Oktaviani, Direktur PT. Milko Beverage Industry



(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Oktober 2007)

Artikel Lainnya

  • Jun 20, 2018

    Regulasi produk seasoning di Indonesia

    Produk seasoning yang termasuk ke dalam kategori pangan 12.0 meliputi garam,  rempah, sup, saus, salad, dan protein yang telah diatur di dalam Peraturan Kepala BPOM No. 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan 01.0 ñ 16.0.  kategori produk seasoning tersebut merupakan jenis bahan-bahan yang sering ditambahkan pada pangan olahan. Untuk itu, pangan olahan yang mengandung produk seasoning juga sangat perlu memenuhi beberapa poin yang menjadi konsentrasi baik pihak produsen, konsumen, maupun pemerintah dalam pengawasan.  Beberapa poin tersebut adalah keamanan yang meliputi bahan tambahan pangan (BTP), bahan baku, cemaran, bahan penolong, dan kemasan pangan; mutu, gizi, label, dan iklan.  ...

  • Jun 19, 2018

    Praktek higiene dan sanitasi dalam penanganan susu segar

    Berdasarkan standar kualitas susu segar (SNI 31411:2011) jumlah mikroba maksimum yang diperbolehkan adalah 1 juta koloni per mililiter (10 CFU/mL). Oleh sebab itu, susu segar pada umumnya akan mengalami kerusakan setelah 4-5 jam pada suhu kamar. Untuk menghasilkan susu segar dengan angka mikroba yang rendah harus dimulai dengan praktek higiene dan sanitasi yang baik sebelum pemerahan, saat pelaksanaan pemerahan, hingga penanganan pasca pemerahan. Pada waktu masih di dalam tubuh dan ambing ternak yang sehat, susu masih dalam keadaan steril. Kontaminasi mikroba di dalam susu terjadi pada saat proses pemerahan, yaitu berasal kulit tubuh ternak khususnya bagian seputar ambing dan puting, dari tangan pemerah, dari wadah/ peralatan penampungan susu, dan lingkungan tempat pemerahan. ...

  • Jun 18, 2018

    Potensi pemanfaatan peptida bioaktif dalam produk susu

    Meningkatnya perhatian akan hubungan asupan pangan terhadap kesehatan membuat konsumen menginginkan produk pangan yang bisa bermanfaat dalam mencegah  munculnya penyakit serta secara sinergi meningkatkan status kesehatan. Protein merupakan salah satu zat gizi utama yang terdapat dalam asupan harian dan di samping  perannya dalam menyuplai gizi, protein juga mempunyai komponen fungsional yang memiliki fungsi positif bagi tubuh, yaitu berupa peptida bioaktif (bioactive peptide). ...

  • Jun 15, 2018

    Perancangan proses pengolahan susu untuk mengantisipasi ancaman foodborne pathogen

    Penyakit yang disebabkan oleh patogen (foodborne pathogen) masih menjadi permasalahan hampir di seluruh negara secara global. Penyakit  tersebut paling sering disebabkan oleh mikrobiologi seperti bakteri dan metabolitnya serta virus dan toksinnya.  ...

  • Jun 14, 2018

    Penggunaan laktoperoksidase untuk pengawetan susu segar

    Dewasa ini telah dikembangkan suatu metode pengawetan susu segar dengan cara mengaktifkan enzim laktoperoksidase (LPO) yang secara alami sudah ada di dalam susu. LPO merupakan salah satu dari puluhan jenis enzim di dalam susu segar dengan berat molekul berukuran sedang (78.000 Dalton) dan mengandung karbohidrat sekitar 10%. Di samping ada di dalam susu segar, LPO juga ditemukan pada cairan tubuh hewan mamalia dan manusia, seperti pada saliva dan kolostrum. Metode pengaktifan LPO untuk pengawetan susu segar dikenal dengan sebutan lactoperoxydase-system atau sistem laktoperoksidase (Sistem-LPO). Aktifnya LPO di dalam susu dapat menghasilkan efek antibakteri pada susu segar (Legowo et al., 2009). ...