Rumput Laut Ingredient (Bahan Tambahan Pangan) Berkelas Internasional

 

Rumput laut memiliki peluang untuk terus dikembangkan baik sebagai bahan baku maupun bahan tambahan pangan. Indonesia dengan daerah pantai yang luas merupakan salah satu penghasil rumput laut terbesar, setelah Chili untuk Gracilaria sp. dan setelah Filipina untuk Euchema sp.,.  Dua jenis rumput laut tersebut adalah andalan Indonesia : Gracilaria sp. merupakan bahan baku untuk pembuatan agar, sedang Euchema sp. biasa dikembangkan menjadi karagenan, yang merupakan ingridien pangan untuk penstabil, pengental, dan pembentuk gel.

                Salah satu pelaku industri yang bergerak di bidang pengolah rumput laut nasional PT. Dunia Bintang Walet, yang menjadikan rumput laut sebagai bahan pangan sumber serat dan mineral yang lengkap. Export Manager PT. Dunia Bintang Walet Soerianto Kusnowirjono mengatakan, rumput laut memiliki kandungan serat soluble dan insoluble serta kaya akan iodium dan kalsium.  “Banyak penelitian yang mendukung hal tersebut, terutama di Jepang di mana rumput laut yang dikenal dengan nama ‘kanten’ tersebut telah menjadi bahan pangan mereka selama lebih dari 300 tahun,” kata Soerianto. 

                Di Indonesia, perkembangan industri rumput laut cukup memuaskan.  Hal tersebut bisa dilihat dari jejak perkembangan PT. Dunia Bintang Walet yang dulu harus mengimpor tepung rumput laut, melalui PT. Agarindo Bogatama, maka sejak tahun 1999-2000 telah berhenti mengimpor dan saat ini telah menggunakan 100% bahan baku lokal yang terutama diperoleh dari daerah Sulawesi Selatan. 

                Didirikan pada tahun 1970-an, PT. Dunia Bintang Walet memulai usahanya dengan mengimpor tepung rumput laut dari Chili dan Jepang untuk dijadikan agar.  Kemudian menjelang akhir 1980-an didirikan PT. Agarindo Bogatama yang lebih banyak bertindak sebagai penyuplai kebutuhan akan tepung rumput laut.  Soerianto memaparkan, bahan yang akan diolah menjadi tepung diterima dalam bentuk bulk kering.  Untuk menjamin mutunya, Agarindo melalui binaannya melakukan pembinaan pada petani-petani rumput laut.  Pengeringan yang dilakukan tidak lagi menggunakan sinar matahari, tetapi sudah menggunakan oven.  Kadar air rumput laut  yang dipersyaratkan Agarindo adalah kurang dari 18% dengan usia 60 hari.  Rumput laut yang lembab dengan kadar air lebih dari 18% akan mengakibatkan rumput laut mengalami fermentasi dan menimbulkan bau yang tidak diharapkan.  Cara budi daya dan pasca panen juga menjadi perhatian Agarindo.  Rendemen rumput laut, umumnya hanya berkisar sekitar 12%. 

                PT. Agarindo Bogatama berperan sebagai pengolah rumput laut dari petani menjadi tepung rumput laut.  Adapun dari total tepung rumput laut yang dihasilkan, 30% diantaranya diekspor dalam bentuk bulk ke berbagai negara di Asia, Amerika, dan Australia.  “Ada juga yang ke Eropa, tetapi tidak langsung dari kami,” ungkap Soerianto.  Dia menambahkan, dengan kebersihan dan konsistensi yang lebih baik, menjadikan produknya di pasar ekspor lebih disukai dibanding tepung rumput laut dari negara lain, terutama di Jepang yang kini banyak meminta suplai dari Indonesia. Di samping diekspor, sebagian besar tepung rumput laut diolah menjadi berbagai macam produk pangan jadi oleh PT. Dunia Bintang Walet.

 

Menghasilkan berbagai variasi produk

                                Untuk menghasilkan produk berkualitas tinggi, PT. Dunia Bintang Walet menggunakan teknologi yang diadopsi dari Jepang.  ”Dengan teknologi tersebut, bisa dihasilkan produk dalam kuantitas dan kualitas yang terjamin, terutama dari segi higienitasnya,” kata Managing Director PT. Agarindo Bogatama Anthonio. Produk utama yang dihasilkan PT. Dunia Bintang Walet adalah Agar dengan merek Swallow.  Berdasarkan jenis dan kualitas rumput laut yang digunakan, merek Swallow dideferensiasi menjadi beberapa jenis, yaitu Swallow Globe untuk segmentasi kalangan menengah ke atas, dan second brand-nya adalah Swallow jenis lainnya, antara lain cap Matahari Walet, Rumput Walet, dan Lily.

                 ”Teknologi yang digunakan adalah sama, yang membedakan cuma jenis dan kualitas rumput lautnya, sehingga tingkat kekenyalannya berbeda,” ungkap Anthonio.

                Selain dalam bentuk agar, juga dikembangkan produk rumput laut dalam bentuk minuman, diantaranya jus yang dicampur dengan rumput laut dan difortifikasi dengan vitamin C, serta hot fiber drink, yaitu kopi kaya serat.

 

Peranan Pemerintah

                Pemerintah, terutama melalui Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan (P2HP) Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP)  telah banyak membantu industri pengolah rumput laut, dengan memberi bantuan bibit awal kepada petani rumput laut dan memfasilitasi industri untuk mengundang mitra dan kelompok-kelompok petani jika ada pertemuan atau pelatihan.  Selain itu, DKP juga memfasilitasi pertemuan dengan daerah-daerah yang ingin mengembangkan budidaya rumput lautnya. Untuk memperluas pasar, DKP juga memfasilitasi industri rumput laut untuk turut serta dalam pameran internasional, serta memberikan konsultasi dan bimbingan dalam rangka menembus pasar Eropa. ASML-Advertorial



(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Oktober 2007)

Artikel Lainnya

  • Apr 23, 2018

    Perubahan Tekstur Cokelat selama Proses Conching

    Seperti diketahui bahwa pada tahap awal proses conching terbentuk gumpalan berbentuk bola-bola kecil. Pada proses penghalusan, baik pada gula maupun susu akan terjadi perubahan bentuk amorf dari partikel gula dan partikel susu. ...

  • Apr 23, 2018

    Perbedaan Kandungan Komponen Gizi Susu Kambing dan Susu Sapi

    Susu kambing  mengandung protein kasein lebih rendah, sehingga tinggi proporsi protein serum yang menyebabkan lebih mudah dicerna daripada susu sapi. Susu kambing dan kolostrumnya kaya poliamin dibanding susu dari mamalia lain,  sehingga susu kambing merupakan sumber poliamin yang sangat bagus bagi bayi.  Poliamin penting untuk pertumbuhan optimal, fungsi  sel saluran cerna,  maturasi enzim-enzim saluran cerna dan mempunyai implikasi dalam mengurangi insiden alergi pangan pada bayi (Vaquil and Rathee, 2017).  ...

  • Apr 22, 2018

    Perlu Pencegahan Oksidasi Pada Produk Daging

    Produk daging termasuk daging merah dan daging olahan merupakan produk pangan yang memiliki banyak kandungan gizi yang menjadi sumber tinggi akan protein. Selain itu, daging memiliki banyak zat gizi yang baik bagi kesehatan karena adanya asam amino esensial yang lengkap dan seimbang, air, karbohidrat, dan komponen anorganik lainnya. Meskipun demikian, konsumsi daging merah pada khususnya dihubungkan dengan beberapa penyakit degeneratif seperti jantung koroner dan beberapa tipe penyakit kanker. Tidak hanya pada daging segar, produk daging olahan seperti sosis dan ham menghasilkan senyawa kimia beracun seperti karsinogen dan menyebabkan mutasi gen selama proses pengolahannya yang meliputi proses pengasapan, fermentasi, maupun pengolahan dengan panas.  ...

  • Apr 21, 2018

    Menjamin Kemasan Halal untuk Produk Pangan

    Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Edi Rivaíi mengatakan bahwa produk pangan halal tidak hanya berdasarkan ingridien dari pangan tersebut, namun status halal juga harus dipenuhi oleh kemasan yang digunakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam lingkup kemasan halal meliputi sertigikasi halal dalam kemasan, metode yang halal dalam penanganan produk dan ketertelusuran halal dalam bahan kemasan. ...

  • Apr 21, 2018

    Nilai Fungsional Tempe Multigrain

    Terdapat berbagai komponen bioaktif yang terdapat pada beberapa multigrain tempe. Pada tempe yang terbuat dari Oat dan Barley, adanya variasi proses pengolahan akan memengaruhi kandungan mineral dan juga asam fitat (Sandberg dkk., 2006). ...