Perkembangan Pangan Fungsional


Saat ini telah beredar begitu banyak istilah dan pengertian serta persepsi mengenai jenis pangan baru. Yang pasti hal itu dapat membingungkan masyarakat. Tetapi sebetulnya masing-masing dapat dibedakan dari bentuk dan fungsinya. Secara singkat pangan pharmaceutical, adalah jenis pangan kesehatan yang bersifat kuratif (penyembuhan) dan biasanya berbentuk tablet, pil, kapsul, kaplet dan sebagainya. Karena fungsinya untuk menyembuhkan harus terlebih dahulu diuji secara ketat, terhadap efektivitasnya sebelum produk dipasarkan.

 

PANGAN FUNGSIONAL DAN PANGAN SUPLEMEN
 
Pangan fungsional dan pangan suplemen, adalah jenis pangan kesehatan yang berfungsi untuk memelihara kesehatan tubuh dan dapat pula mencegah penyakit, bukan untuk tujuan menyambuhkan penyakit. Dengan demikian, kedua jenis makanan tersebut tidak perlu melewati pengujian ketat sebelum boleh dipasarkan. Dan biasanya tidak diawasi terlalu ketat oleh pemerintah.
Yang membedakan kedua jenis pangan tersebut ialah bentuknya. Pangan suplemen bentuknya seperti obat-obatan (tablet, pil, kapsul dan sebagainya). Sedangkan pangan fungsional memiliki bentuk dan rupa yang dapat diterima dan dirasakan atau dinikmati seperti layaknya makanan atau minuman oleh para konsumen.
 
Pangan Nutraceutical
 
Bahkan kini sangat terkenal produk baru yang disebut nutraceutical, suatu istilah baru tetapi sudah sangat populer. Istilah tersebut merupakan kombinasi dari dua pengertian yaitu : nutrional dan pharmaceutical. Neutraceutical adalah jenis pangan dan minuman yang memiliki nilai kandungan zat gizi lebih, seperti senyawa phytokimia, probiotik dan prebiotik, yang menguntungkan bagi kesehatan tubuh.
Senyawa phytokimia meliputi diantaranya komponen berikut: isoflavon dan fenol, yang terdapat di dalam buah buahan dan sayuran. Indol, thiosianat, serta komponen pangan lain yang mengandung ion sulfur, seperti bawang putih.
 
FOSHU = FOOD FOR SPECIFIED HEATH USES
 
FOSHU adalah jenis pangan fungsional yang telah secara resmi dikembangkan di Jepang. Di negara tersebut FOSHU berarti pangan yang mengandung bahan atau senyawa yang memiliki fungsi bagi kesehatan manusia, dan secara resmi diakui oleh pemerintah yang berwenang, dan diperbolehkan melakukan klaim efek physiologis terhadap tubuh manusia.
Pangan FOSHU diproduksi dengan tujuan untuk dikonsumsi dengan maksud menjaga kesehatan atau meningkatkan kesehatan atau dapat digunakan untuk mengendalikan kesehatannya, misalnya terhadap tekanan darah, atau kadar kolesterol darah.
Untuk bisa dijual sebagai pangan FOSHU, produk perlu terlebih dahulu diuji keamanannya, serta efektifitasnya terhadap fungsi yang ditawarkan.
Persyaratan untuk dapat disetujui sebagai pangan FOSHU adalah sebagai berikut :
• Daya efektifitasnya terhadap tubuh manusia terjamin secara ilmiah
• Tidak diperbolehkan mengandung masalah kesehatan (dibuktikan dengan hasil tes terhadap racun/toxin hewani negatif, dan telah diuji pengaruhnya bila dikonsumsi berlebihan)
• Penggunaan senyawa secara benar menurut standar yang ditentukan (tidak menggunakan garam berlebih)
• Telah dipastikan kesesuaiannya dengan spesifikasi produk pada saat produk dikonsumsi
• Diterbitkan metoda pengendalian mutu, seperti spesifikasi produk dan ingridien, proses, dan metoda analisis
 
Kepedulian konsumen berubah
 
Seiring dengan kemajuan jaman, ilmu dan teknologi, informasi, serta transportasi di seluruh dunia, tingkat pengetahuan dan kepedulian konsumen terhadap jenis pangan yang akan dikonsumsi semakin meningkat pula. Mereka semakin kritis dalam memisahkan hubungan antara menu/diet dengan pengaruhnya terhadap kesehatan. Para konsumen semakin haus terhadap informasi yang terkait dengan pangan baru, khususnya terhadap pangan fungsional.
Hal ini didorong oleh kemajuan di bidang ilmu dan teknologi, serta meningkatnya beban biaya perawatan kesehatan (heath care), yang harus mereka pikul. Ditambah lagi dengan perubahan peraturan perundangan mengenai pangan yang beredar, baik itu mengenai label, klaim kesehatan, serta khasiat produk pangan yang akan diedarkan ke pasar luas.
Sebetulnya pangan fungsional dapat banyak membantu dalam usaha mencegah timbulnya penyakit, menekan terhadap risiko timbulnya penyakit atau mampu meningkatkan (enhance) status kesehatan tubuh konsumen.
 
KLAIM DALAM LABEL PANGAN
 
Ketentuan pokok mengenai pengawasan pangan fungsional yang relatif baru telah dikeluarkan oleh pemerintah (BPOM RI) No Hk 000.52.0685. Sedangkan mengenai klaim pangan fungsional juga diatur dalam lampirannya
Ada dua jenis klaim dalam label pangan yaitu :
 
1. Klaim terhadap
struktur dan fungsi,
 
Hal itu digambarkan sebagai efek terhadap fungsi normal dari tubuh. Tetapi tidak diizinkan ada klaim yang menyatakan bahwa pangan tersebut dapat mengobati, atau mendiagnosa, mencegah atau dapat menyembuhkan penyakit.
Contoh klaim yang dapat dizinkan: meningkatkan pengaturan (regulatory), atau “menolong mempertahankan kesehatan kardiovaskuler”, dan mampu mendukung sistem immunitas tubuh
 
2. Klaim Kesehatan :
 
Klaim yang menyatakan dapat mengurangi risiko penyakit, sering disebut sebagai klaim kesehatan. Klaim kesehatan wajib hukumnya mendapat izin dahulu (approval) dari Lembaga autoritas yang diberi tanggung jawab untuk itu. Setiap klaim kesehatan sebelumnya harus dapat dibuktikan terlebih dahulu, sebelum produk tersebut dipasarkan atau digunakan dan harus merefleksi konsensus ilmiah yang dianggap benar.
Contohnya, klaim kesehatan bagi protein kedelai yang erat kaitannya dengan penyakit kardiovaskuler harus muncul dalam label berbunyi sebagai berikut : ”Menu dengan asam lemak rendah dengan kolesterol rendah, yang melibatkan 25 gram protein kedelai/hari, kemungkinan dapat menurunkan risiko penyakit jantung ”
Kemajuan dan perkembangan pangan fungsional ternyata banyak yang menguntungkan terhadap kesehatan manusia. Sebagai contoh: fortifikasi orange juice dengan Ion Calcium, yang jumlahnya sama dengan kadar calcium dalam susu. Langkah tersebut besar artinya , mengingat bahwa lebih dari 50% anak anak balita dan perempuan dan hampir 85r% perempuan usia 12 – 19 tahun tidak memenuhi kebutuhan kalsium seperti yang ditetapkan dalam AKG (Angka Kecukupan Gizi).
 
 
Oleh Prof. FG Winarno, Chairman Asosiasi Laboratorium Pangan Indonesia

 

 
 

(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Januari 2012)

Artikel Lainnya

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...

  • Mei 21, 2018

    Mengenal asam lemak trans dalam produk pangan

    Lemak merupakan salah satu bahan tambahan yang banyak digunakan pada produk bakeri. Lemak pada produk bakeri memberikan beberapa manfaat seperti dapat memperbaiki tekstur, memberikan efek yang glossy serta memberikan flavor yang lebih baik dan gurih. Lemak pada produk bakeri merupakan komponen yang tak terpisahkan dan keberadaanya dapat menentukan kualitas dari suatu produk bakeri. Selain produk bakeri, beberapa produk lain yang juga menggunakan lemak dalam proses produksinya adalah krimer kopi, makanan ringan, es krim, dan makanan cepat saji. Bahkan, beberapa diantara produk tersebut juga menggunakan asam lemak trans pada produksinya.  ...