Functional Ingredients from Egg

Who does not know an egg? An egg is the origin of a newborn chicken and therefore it provides all nutrients needed to sustain life. In other words we can say that ‘an egg a day will keep malnutrition away’. From food ingredient point of view an egg can alter and improve impressively the organoleptic properties of food product. The functional properties of egg comes from the components therein.

 

 

Apa sajakah komponenkomponen penyusun telur?
Tabel 1 merangkum komponen penyusun sebutir telur dan komposisi zat gizi putih, kuning telur, dan cangkang. Sifat fungsional dalam pengolahan pangan yang diberikan oleh sebutir telur (tentu saja tidak termasuk cangkangnya) diberikan oleh sifat fungsional protein dalam putih telur dan lemak dalam kuning telur. Protein putih telur
memberikan sifat pembentukan busa (foaming) karena mampu memperangkap udara yang masuk dalam matriks protein. Ini berarti juga menambah volume produk. Protein telur juga mampu merubah bentuk fisik telur yang cair menjadi lebih padat dan mengikat berbagai ingridien pangan lainnya. Sifat fungsional dalam pengolahan ini didasari oleh sifat kimia protein telur sebagai molekul yang berbentuk lipatan 3 dimensi. Struktur lipatan 3 dimensi inilah yang juga memberikan sifat fungsional dalam sistim biologis seperti diberikan di Tabel 2.
 Sifat fungsional dalam sistem biologis seperti disebutkan di Tabel 2 pada intinya adalah untuk melindungi embrio ayam dan memberikan suplai zat gizi yang dibutuhkan selama pertumbuhan dan perkembangan menjadi anak ayam yang siap keluar dari cangkang telur. Meski demikian, protein telur yang telah mengalami pengeringan (dengan suhu rendah) dapat dipertahankan fungsionalitasnya apabila struktur tersebut juga tetap dipertahankan. Sebaliknya pada sifat fungsional dalam pengolahan pangan, struktur asli protein sengaja diganggu dan kemudian berubah membentuk ikatan dan jaringan protein yang berbeda.
 
Struktur lipatan 3 dimensi protein telur dapat diganggu dan menjadi terbuka lipatannya melalui perlakuan fisik pengolahan seperti pemanasan dan pengocokan. Ketika molekul protein telur dipanaskan, lipatannya terbuka dan memanjang sehingga permukaannya menjadi lebih luas. Terbukanya struktur lipatan ini disebut denaturasi protein. Dalam kondisi ini asam-asam amino penyusun protein menjadi terpapar (tidak dalam lipatan) dan lebih mudah berikatan dengan protein telur lainnya (Tabel 2) sehingga terjadi ikatan baru antar protein yang berbeda. Akhirnya hal ini membawa berbagai protein telur menyatu dan menggumpal atau memadat seperti yang kita temui bila telur direbus atau digoreng. Derajat pemanasan menentukan derajat denaturasi dan karenanya juga kepadatan dan tekstur telur yang dihasilkan, seperti misalnya telur mata sapi yang dimasak matang sekali atau setengah matang. Ketika telur dikocok, lipatan 3 dimensi berbagai jenis protein telur juga membuka. Asam-asam amino penyusun berbagai protein tersebut ada yang bersifat menyukai air ada yang tidak. Maka yang menyukai air akan berikatan dengan air yang terkandung dalam telur (lihat Tabel 1, telur mengandung banyak sekali air), sedangkan yang tidak suka air cenderung menghadap ke udara. Terbentuknya ikatan-ikatan baru inilah yang menyebabkan perubahan struktur lipatan protein (dari aslinya) sehingga menghasilkan jaringan protein baru yang memperangkap udara seperti yang terjadi pada pembentukan busa saat putih telur dikocok
.Glycoproteins  Persentase Total Protein   Fungsi
Ovomucoid            11 %                                    Menghambat enzim-enzim pencerna
Ovalbumin             54 %                                    Sumber zat gizi, menghambat enzim-enzim pencerna
Ovotransferrin     12-13 %                                Mengandung zat besi dan perekat
Lysozyme           3.4-3.5 %                                Enzim yang memecah dinding sel bakteri sehingga melindungi telur dari serangan bakteri
Ovomucin          1.5-3.5 %                                 Mengentalkan putih telur, menghambat virus
G2 Ovoglobulin   1.0 %                                     Menambal kerusakan-kerusakan di selaput cangkang dan cangkang telur
G3 Ovoglobulin    1.0 %
Ovoflavoprotein    0.8 %                                    Mengikat riboflavin
Ovostatin               0.5 %                                    Menghambat proteinase (enzim pemecah protein)
Cystatin               0.05 %                                    Menghambat cystein proteinase
Avidin                   0.05 %                                    Mengikat vitamin biotin
 
Pengocokan putih telur yang kuat menyebabkan terjadinya denaturasi sempurna dan putih telur menjadi kehilangan elastisitasnya atau menjadi kaku. Bila pengocokannya hanya sampai menghasilkan busa lembut, maka elastisitas protein tetap ada. Apabila selanjutnya dipanaskan (misalnya menggunakan oven) maka terjadi denaturasi sempurna dan protein menjadi mengeras dan menjadi pelindung udara yang terperangkap di dalamnya. Contohnya adalah busa pada ‘meringue’. Denaturasi protein dapat pula terjadi melalui perlakuan dengan bahan kimia seperti dengan penambahan garam, asam, atau basa (baking soda). Sedangkan sifat fungsional protein putih telur dalam bentuk molekul aslinya seperti lysozyme karena memiliki sifat anti bakteri digunakan dalam tetes mata dan obat flu.
Berbeda dengan protein telur, lemak kuning telur memberikan sifat fungsional pengolahan sebagai pengemulsi yaitu membentuk suspensi yang stabil dua jenis cairan yang kurang dapat bercampur. Komponen kuning telur didominasi oleh molekul lipoprotein dengan jumlah komponen fosfolipid yang besar (Tabel 3). Sifat pengemulsi kuning telur berasal dari komponen fosfolipidnya yaitu jenis lemak yang mengandung gugus polar (menyukai air) dan non polar (tidak menyukai air). Emulsifikasi sudah banyak dibahasa
C:\Users\farah
 

 

 

di berbagai Edisi FOODREVIEW INDONESIA dan pada intinya adalah menyatukan komponen lemak dan komponen air dalam adonan sehingga menyatu dengan stabil. Bersatunya komponen-komponen tersebut memberikan tekstur yang kental (tekstur krim), halus, dan mengkilat.

Sifat-sifat fungsional lainnya adalah memberikan warna kuning alami dari kuning telur. Warna ini berasal dari pigmen lutein dan astaxanthin. Selain itu dari sisi gizi, protein dan lemak telur beserta kelengkapan mineral dan vitaminnya termasuk kolin (juga telah dibahas di FOODREVIEW) merupakan sumber zat gizi yang ideal bagi anak-anak dan dewasa yang aktif dan produktif. Protein putih telur dapat digunakan sebagai pengganti protein gandum (yaitu gluten yang bersifat alergen bagi sebagian konsumen) untuk produk pangan bebas gluten. Juga sangat ideal untuk orang tua yang membutuhkan asam-asam amino yang lengkap untuk pemeliharaan jaringan yang menua.
 
Sebutir telur sebagai ingridien pangan berfungsi memberikan struktur, koagulasi, pembentukan busa, pengemulsi, dan pengental. Koagulasi menyebabkan terekatnya berbagai ingridien pangan dalam suatu adonan sehingga menjadi kompak atau lebih homogen. Fungsionalitas telur dalam pengolahan tersebut akan meningkatkan kualitas produk yang meliputi perbaikan tekstur yang lebih lembut, pembentukan dan peningkatan volume, warna, dan cita rasa. Dengan demikian terbuka pula aplikasi telur dalam pengembangan produk pangan dengan bahan dasar berbagai jenis tepung lokal untuk menghasilkan produk pangan olahan yang sehat dan bergizi.
Oleh Dr. Retno Murwani
 
(FOODREVIEW INDONESIA | VOL. VII/NO. 4/APRIL 2012)

Artikel Lainnya

  • Feb 20, 2018

    Penambahan Garam Tingkatkan Pelepasan Flavor Produk

    Ingridien dalam fase air lainnya yang berpengaruh pada pelepasan flavor adalah garam. Ingridien ini secara umum dikathui dapat meningkatkan persepsi flavor melalui peristiwa salting-out, yaitu penambahan garam akan menurunkan kelarutan senyawa utama terhadap air dalam larutan. Pada komponen flavor yang hidrofilik, salting-out dapat menurunkan  jumlah molekul air yang tersedia untuk melarutkan komponen flavor tersebut. Sementara itu, pada komponen flavor yang lipofilik, adanya salting-out dapat menurunkan konsentrasi komponen flavor dalam fase air dan membuatnya lebih banyak berada dalam fase minyak dan kemudian berubah menjadi fase gas. Hal ini menyebabkan konsentrasi garam yang tinggi akan memberikan efek pada meningkatan pelepasan flavor.  ...

  • Feb 19, 2018

    Pemilihan Warna Pangan sebagai Alat Pemasaran

    Saat ini warna juga menjadi salah satu dari alat pemasaran.  Hasil survei pasar menunjukkan bahwa 97% merek produk pangan menggunakan pewarna untuk mengindikasikan flavor. Warna digunakan dalam pemasaran dengan sejumlah alasan seperti menutup warna yang tidak diinginkan, lebih menarik konsumen, menutup degradasi warna alami selama distribusi dan penyimpanan, dan lainnya. Tingkat penjualan produk juga dipengaruhi oleh warna. Sebagai contoh, produk saos yang diproduksi industri besar mengalami peningkatan yang dramatis setelah diberi tambahan warna sehingga warna produk menjadi tidak pucat lagi. Demikian pula, produk minuman cola yang tidak berwarna ternyata gagal di pasar. ...

  • Feb 17, 2018

    Pembentukan Flavor Karamel pada Cokelat Crumb

    Hal yang penting dalam pembuatan cokelat crumb adalah reaksi Maillard dan kristalisasi gula. Reaksi Maillard menggabungkan gula dan gugus asam amino (Gambar 2). Apabila susu dengan kadar air yang rendah(20-30%) dipanaskan, maka akan terjadi reaksi kimia yang menyebabkan terbentuknya warna cokelat dan mempunyai ìrasa karamelî. Flavor karamel ini adalah penggabungan reaksi antara protein(gugus amino) dan gula pereduksi golongan karbonil. Laktosa dalam susu adalah senyawa gula pereduksi. Flavor yang dihasilkan dari proses ini berbeda dengan flavor yang dihasilkan dengan pemanasan gula biasa, yang menghasilkan karamel juga. ...

  • Feb 12, 2018

    Kayu Manis sebagai Sumber Senyawa Flavor

    Dimas & Koen (2017) menjelaskan bahwa bagian-bagian kayu manis seperti kulit kayu, daun, ranting, kayu, dan buah dapat dengan mudah digunakan untuk produksi minyak folatil dengan metode distilasi dan oleoresin dengan solvent extraction. Oleoresin merupakan konsentrat ekstrak dari rempah atau herba aromatik yang diperoleh dari perlakuan pertama rempah dengan pelarut dan kemudian mengilangkan pelarut tersebut. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perbedaan spesies kayu manis ...

  • Feb 10, 2018

    Flavor Umami dan Kokumi pada Produk Pangan

    Secara sensoris, baik umami maupun kokumi mempunyai kemampuan untuk meningkatkan cita rasa suatu produk pangan. Umami berperan dalam meningkatkan cita rasa ke-empat rasa dasar sedangkan kokumi meningkatkan rasa asin dan umami itu sendiri. Secara tidak langsung, kokumi dapat menguatkan rasa umami pada produk pangan. Penelitian di Jepang mengenai kokumi menyatakan bahwa senyawa kokumi, meningkatkan rasa dasar dan menstimulasi respon sel reseptor calcium-sensing (CaSR) (Maruyama dkk., 2012).  ...