Penambahan Fiber pada Produk Bakery

Penggunaan serat pangan sebagai ingridien pangan kian populer dan luas seiring dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan manfaat konsumsi serat bagi kesehatan. Meskipun konsep penggunaan serat pangan sebagai ingridien pangan fungsional masih relatif baru, namun aplikasinya berkembang dengan cepat.

 

Tidak hanya untuk kesehatan, serat pangan juga memiliki kemampuan penting yang diperlukan dalam produksi berbagai jenis pangan olahan, mulai dari sebagai pengatur rheology pada saus, anti-caking carrier pada rempah-rempah dan bumbu, bahan pembantu proses ekstrusi, agen penguat dalam produk ekstrusi hingga texture improver pada produk-produk bakery.
 
Dengan penambahan serat selulosa pada adonan muffin dan kue, para baker kini dapat menentukan desain, tinggi mahkota (crown height) dan bentuk akhir yang diinginkan dari produk-produk tersebut karena serat selulosa fungsional memiliki kemampuan untuk membentuk jaringan dalam sistem pangan. Menurut penelitian yang telah dilakukan oleh International Fiber Corporation (IFC) -produsen ingridien serat terkemuka, selain pada muffin dan kue, konsep ini juga dapat diaplikasikan pada banyak produk bakery lainnya.
 
Ingridien serat pangan yang digunakan untuk tujuan tersebut harus memiliki ukuran yang relatif panjang. Hal ini penting untuk fungsionalitasnya karena jaringan serat akan lebih kuat jika terbentuk dari serat-serat yang berukuran panjang. Dalam serangkaian uji coba yang dilakukan pada blueberry muffin dengan dosis penggunaan 0,5%, 1%, 1,5% dan 2%, terlihat dengan jelas bagaimana penambahan serat selulosa dapat meningkatkan mutu. Hasil penelitian yang telah dipresentasikan pada pertemuan American Association of Cereal Chemists (AACC) International, menunjukkan bahwa adonan yang diberi penambahan serat selulosa memiliki berat jenis yang lebih rendah dengan konsistensi yang lebih kental daripada kontrol. Ini berarti adonannya memiliki kemampuan yang lebih besar untuk “memerangkap” udara. Hasil pengukuran volume menunjukkan bahwa muffin yang mengandung serat selulosa memiliki volume yang lebih besar (Gambar 1 dan 3).
 
Hal yang sama juga terjadi pada kue yang dibuat dengan penambahan serat selulosa. Dengan penambahan 0,5% pada blueberry muffin volume produk meningkat sebesar 16% sedangkan dengan penambahan 2% volumenya mengalami peningkatan sebesar 32%. Selain itu, muffin yang diberi penambahan serat selulosa dipersepsikan lebih ringan dan tidak terlalu padat.
 
Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa peningkatan jumlah serat selulosa yang ditambahkan akan mengakibatkan penurunan bake loss (susut akibat pemanggangan). Bake loss diperhitungkan sebagai kadar air yang hilang sejak produk masih berupa adonan sampai berbentuk produk jadi. Bake loss ini sangat berpengaruh terhadap rendemen produksi. Produk-produk bakery yang menggunakan blueberry dan buah-buahan lainnya memiliki kadar air yang lebih tinggi daripada produk-produk sejenis yang tidak diberi buah-buahan karena adanya tambahan kadar air dari buah yang ditambahkan. Serat selulosa memiliki kemampuan untuk menahan kandungan air dan juga memperpanjang masa simpan produk. Hasil uji rasa menunjukkan tidak adanya perbedaan rasa antara muffin yang diberi penambahan serat selulosa dan yang tidak, karena ingridien tersebut tidak memiliki rasa/flavor.
C:\Users\farah\Pictures
 
 
 
 
 
 
 
C:\Users\farah\Pictures Dengan menggunakan standar uji kualitas AACC, hasil penelitian memperlihatkan bahwa Symmetry Index pada muffin yang mengandung serat selulosa lebih tinggi daripada Symmetry Index pada muffin kontrol. Symmetry Index merupakan metode untuk menentukan crown height (tinggi mahkota) pada muffin (Gambar 2). Tinggi mahkota terus bertambah pada penambahan 0,5% dan 1% serat selulosa, sedangkan pada penambahan 1,5% dan 2%, tinggi mahkotanya mengalami sedikit penurunan. AACC Uniformity Index yang mengukur keseragaman bentuk bagian atas muffin pada semua sisi menunjukkan bahwa dengan penambahan serat selulosa sebesar 1,5% dan 2% maka bentuk muffin menjadi lebih beraturan dibandingkan dengan kontrol. Berdasarkan temuan ini para baker dapat merancang bentuk muffin atau kue dengan tinggi mahkota yang disesuaikan dengan keinginan konsumen. Sebagian konsumen menghendaki muffin dengan mahkota yang tinggi dan nyata, sedangkan sebagian lainnya lebih menyukai muffin dengan mahkota yang lebih pendek dengan bagian atas yang datar. Selain itu, bentuk keseluruhan dan kesimetrisan kue dan muffin juga dapat dimanipulasi sesuai dengan preferensi konsumen.
 
International Fiber Corporation (IFC) yang berkantor pusat di North Tonawanda, New York, Amerika Serikat memiliki beberapa pabrik yang memproduksi ingridien serat pangan untuk memenuhi permintaan pasar di seluruh dunia. Beragam jenis serat pangan yang diproduksi, antara lain cellulose fiber, wheat fiber, bamboo fiber, sugar cane fiber, pea fiber, oat fiber, cottonseed fiber dan lain-lain termasuk campuran dari beberapa jenis fibers. PT. Markaindo Selaras merupakan distributor resmi produk-produk IFC di Indonesia.
Oleh Jit F. Ang,
Executive Vice President,
International Fiber Corporation (IFC)
 
(FOODREVIEW INDONESIA | VOL. VII/NO. 5/MEI 2012)

 

Artikel Lainnya

  • Apr 23, 2018

    Perubahan Tekstur Cokelat selama Proses Conching

    Seperti diketahui bahwa pada tahap awal proses conching terbentuk gumpalan berbentuk bola-bola kecil. Pada proses penghalusan, baik pada gula maupun susu akan terjadi perubahan bentuk amorf dari partikel gula dan partikel susu. ...

  • Apr 23, 2018

    Perbedaan Kandungan Komponen Gizi Susu Kambing dan Susu Sapi

    Susu kambing  mengandung protein kasein lebih rendah, sehingga tinggi proporsi protein serum yang menyebabkan lebih mudah dicerna daripada susu sapi. Susu kambing dan kolostrumnya kaya poliamin dibanding susu dari mamalia lain,  sehingga susu kambing merupakan sumber poliamin yang sangat bagus bagi bayi.  Poliamin penting untuk pertumbuhan optimal, fungsi  sel saluran cerna,  maturasi enzim-enzim saluran cerna dan mempunyai implikasi dalam mengurangi insiden alergi pangan pada bayi (Vaquil and Rathee, 2017).  ...

  • Apr 22, 2018

    Perlu Pencegahan Oksidasi Pada Produk Daging

    Produk daging termasuk daging merah dan daging olahan merupakan produk pangan yang memiliki banyak kandungan gizi yang menjadi sumber tinggi akan protein. Selain itu, daging memiliki banyak zat gizi yang baik bagi kesehatan karena adanya asam amino esensial yang lengkap dan seimbang, air, karbohidrat, dan komponen anorganik lainnya. Meskipun demikian, konsumsi daging merah pada khususnya dihubungkan dengan beberapa penyakit degeneratif seperti jantung koroner dan beberapa tipe penyakit kanker. Tidak hanya pada daging segar, produk daging olahan seperti sosis dan ham menghasilkan senyawa kimia beracun seperti karsinogen dan menyebabkan mutasi gen selama proses pengolahannya yang meliputi proses pengasapan, fermentasi, maupun pengolahan dengan panas.  ...

  • Apr 21, 2018

    Menjamin Kemasan Halal untuk Produk Pangan

    Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Edi Rivaíi mengatakan bahwa produk pangan halal tidak hanya berdasarkan ingridien dari pangan tersebut, namun status halal juga harus dipenuhi oleh kemasan yang digunakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam lingkup kemasan halal meliputi sertigikasi halal dalam kemasan, metode yang halal dalam penanganan produk dan ketertelusuran halal dalam bahan kemasan. ...

  • Apr 21, 2018

    Nilai Fungsional Tempe Multigrain

    Terdapat berbagai komponen bioaktif yang terdapat pada beberapa multigrain tempe. Pada tempe yang terbuat dari Oat dan Barley, adanya variasi proses pengolahan akan memengaruhi kandungan mineral dan juga asam fitat (Sandberg dkk., 2006). ...