Optimalisasi Flavor Sari buah


 

Fruit juice drinks are not just thirst quenchers, but they supply nutrients especially vitamins such as vitamin A and C. They also contain phytochemicals that are known to have important role in preventing some degenerative diseases through their antioxidant activities. Fruit juice drinks are preferred because of their various specific flavor. The natural flavor of fruit juice, however, may change during processing and storage, besides undesired flavor is possibly formed. Technologically, the changes of the flavor compounds can be minimized so that the desired natural flavor of the product can be preserved.
 
Minuman sari buah disukai karena flavor khasnya yang bervariasi. Di tengah-tengah kompetisi berbagai jenis produk minuman di pasaran global, produk minuman sari buah (fruit juice) tampaknya tak akan surut dan diperkirakankan tetap mampu bersaing di masa depan. Walaupun demikian, produsen minuman sari buah tentu harus bersungguh-sungguh dalam menjaga mutu produknya. Dan perlu diingat, di samping keunggulan karena sifat fungsionalnya, bagaimanapun, flavor merupakan penentu utama mutu produk sari buah.
Ada dua tipe minuman sari buah di pasaran, yaitu jenis keruh dan jernih. Sari buah tipe jernih diproses (biasanya apple dan grape) melalui proses penyaringan untuk memisahkan serat, mineral dan partikel-partikel lain. Dari berbagai macam produk sari buah, sampai saat ini tampaknya yang paling populer di masyarakat adalah orange juice. Saking populernya orange juice, perusahaan-perusahaan kemudian terinspirasi dan membuat produk-produk substitute untuk minuman jenis ini. Produk-produk substitute (pengganti orange juice) ini di samping diperkaya dengan zat-zat gizi, dalam pembuatannya ditambahkan gula, artificial color, dan artificial flavor. Kata-kata “drink”, “ade” dan lain-lain telah umum di pasaran, produk-produk dengan akhiran-akhiran kata tersebut tidak saja mengandung gula dan food additive lain, tetapi dipersyaratkan harus mengandung paling tidak 10% sari buah asli. Produk berlabel “orange soda” dan “imitation orange” adalah tergolong soft-drink, produk-produk ini tidak harus mengandung sari buah asli, meskipun “fruit soda” dipersyaratkan mengandung ‘true fruit flavor”.
C:\Users\farah\Pictures Mempertahankan
flavor alami sari buah
Senyawa-senyawa yang memberikan flavor sari buah umumnya golongan terpena (limonene), aldehida (asetaldehyde), ester (ethylbutirate) dan golongan alkohol (linalool, dan lain-lain). Jenis dan kadar senyawa-senyawa tersebut bervariasi terutama tergantung macam buah dan tingkat ketuaan. Senyawa-senyawa volatil ini mudah mengalami perubahan sehingga sangat menentukan mutu flavor sari buah. Faktor-faktor yang mempengaruhi cepat-lambatnya degradasi senyawa itu meliputi suhu, oksigen, sinar, jenis bahan pengemas, dan kadar air.
Untuk mendapatkan kandungan gizi serta flavor dan tingkat kesegaran maksimum, cara termudah adalah, tentu saja dengan cara lama, yaitu memproduksinya sendiri. Citrus juice (sari buah jeruk) dapat dibuat sendiri secara mudah dengan memeras menggunakan hand juicer, tetapi jenis buah-buah lain perlu alat ekstraktor yang lebih kuat. Sari buah segar umumnya sangat mudah mengalami kerusakan mutu dan harus dikonsumsi sesegera mungkin, atau disimpan di kulkas dalam waktu tidak lama.
 
Untuk skala industri, tentu saja minuman sari buah diproduksi secara mekanis melalui berbagai tahap proses pengolahan. Ada banyak cara untuk menimbulkan kerusakan flavor alami selama pengolahan dan penyimpanan. Tahap ekstraksi di pabrik yang dilakukan pada suhu lebih rendah akan lebih aman terhadap senyawa-senyawa flavor. Pasteurisasi yang umumnya menggunakan panas untuk memusnahkan mikroba, dapat merusak zat-zat gizi serta senyawa flavor, sehingga kualitas flavor berkurang.
 
Sari buah tipe jernih karena dalam permbuatannya melewati proses penyaringan, sehingga flavornya cenderung lebih rendah daripada jenis keruh, kecuali diberikan tambahan flavoring.
 
Perkembangan teknologi telah memungkinkan melakukan proses pasteurisasi tanpa menggunakan panas (non-thermal process) yang dapat meminimalisir menurunnya kualitas flavor, salah satunya adalah dengan High Pressure Processing (HPP). Keunggulan unik HPP adalah proses ini dapat mematikan mikroba seperti bakteri, yeast, dan kapang, dan dapat memperpanjang daya simpan pangan tanpa memberikan pengaruh merugikan terhadap nilai gizi, kualitas flavor, dan warnanya.
 
Prinsip pasteurisasi dengan HPP adalah bahan pangan diberikan tekanan sangat tinggi, sekitar 6000 atmosfir yang dapat mematikan mikroba pembusuk. Dalam pelaksanaan proses HPP tertentu, produk yang akan dipasteurisasi dikemas dalam pengemas fleksibel seperti pouch atau botol plastik, dimasukkan dalam suatu chamber berisi air, kemudian tekanan sangat tinggi diberikan dan diteruskan melalui pengemas ke dalam produk (Gambar 1) selama beberapa menit. Produk yang telah dipasteurisasi kemudian siap disimpan atau didistribusikan. Berbeda dengan pasteurisasi konvensional yang menggunakan panas dan bahkan tidak jarang dikombinasikan dengan penambahan pengawet, HPP dapat menghindari turunnya kualitas flavor. Penelitian membuktikan bahwa sari pegagan yang dipasteurisasi dengan HPP dapat menahan senyawa-senyawa volatil lebih besar daripada pasteurisasi biasa yang menggunakan panas (Wongfhun et al., 2010). Hasil penelitian lain, orange juice yang dipasteurisasi dengan HPP pada 600MPa suhu 400C selama 4 menit di samping dapat mengawetkan juga terbukti dapat mempertahankan aktivitas antioksidannya (Polydera et al., 2005). Pasteurisasi dengan HPP yang merupakan green technology ini dapat menghasilkan produk yang lebih aman, alami dan segar daripada proses pasteurisasi biasa.
 
Metode lain pasteurisasi non-thermal yang dapat memperhankan flavor adalah HIPEF (High Intensity Pulsed Electric Field). Prinsip pengolahan dengan HIPEF adalah, bahan dikenai medan listrik denyut intensitas tinggi dalam waktu singkat sehingga dapat memusnahkan mikroba pembusuk yang ada dalam bahan. Seperti halnya HPP, karena tidak menggunakan panas, pasteurisasi dengan HIPEF dapat memperpanjang daya simpan pangan tanpa merusak zat-zat gizi dan kualitas flavor. Penelitian menunjukkan bahwa sari buah semangka yang dipasteurisasi dengan HIPEF menggunakan aliran listrik 35kV/cm selama 1727μs menghasilkan produk yang lebih awet dan lebih besar mempertahankan senyawa-senyawa volatil pembentuk aroma asli. Sari buah semangka yang diberi perlakuan HIPEF dengan kekuatan medan listrik 30–35 kV/cm, frekuensi denyut 50–250 Hz, selama 50–2050 μs juga dapat mempertahankan aktivitas antioksidannya (Oms-Oliu et al., 2009).
 
Selama penyimpanan, perubahan-perubahan kualitas flavor pangan juga dapat disebabkan oleh bahan pengemas. Interaksi bahan pangan dengan polimer film pengemas dapat terjadi melalui beberapa kemungkinan, yaitu permeasi, migrasi, dan absorpsi. Permeasi, yaitu proses terjadinya keluar masuknya oksigen, uap air, CO2 dan gas lainnya melalui pengemas. Kalau terjadi perpindahan oksigen dan uap air dari lingkungan luar ke dalam bahan pangan melewati pengemas (polimer film) maka dapat memicu terjadinya oksidasi senyawa-senyawa flavor yang akan mengakibatkan penurunan kualitas flavor. Off flavor pangan juga dimungkinkan karena terjadi migrasi atau perpindahan senyawa-senyawa monomer dan additive bahan pengemas ke dalam bahan pangan. Adapun absorpsi yaitu terjadinya penyerapan senyawa aroma seperti jenis minyak, asam-asam organik dan zat warna dari bahan pengemas oleh bahan yang dikemas. Oleh karena itu dalam pemilihan pengemas sari buah maka bahan pengemas harus diperhatikan compatibility-nya dengan jenis dan sifat sari buah yang akan dikemas agar flavor alami produk dapat dipertahankan.
 
Referensi
• Oms-Oliu, G., Odriozola-Serrano,I., Soliva-Fortuny, R., and Martín-Belloso,O., 2009. Effects of high-intensity pulsed electric field processing conditions on lycopene, vitamin C and antioxidant capacity of watermelon juice. Food Chem. Vol. 115 (4), p. 1312–1319.
• Polydera, A.C., Stoforos, N.G., and Taoukis, P.S.,2005. Effect of high hydrostatic pressure treatment on post processing antioxidant activity of fresh Navel orange juice. Food Chem. Vol.91 (3) p.495–503.
• Wongfhun,P., Gordon, M. H., and Apichartsrangkoon, A., 2010. Flavour characterisation of fresh and processed pennywort (Centella asiatica L.) juices. Food Chem. Vol. 119, p. 69–74.
Oleh Prof. Dr. Ir. Umar Santoso
Dosen Jurusan Teknologi Pangan & Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian
UGM, Yogyakarta dan Ketua II Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI)
 
(FOODREVIEW INDONESIA | VOL. VII/NO. 5/MEI 2012)
 

 

Artikel Lainnya

  • Jun 20, 2018

    Regulasi produk seasoning di Indonesia

    Produk seasoning yang termasuk ke dalam kategori pangan 12.0 meliputi garam,  rempah, sup, saus, salad, dan protein yang telah diatur di dalam Peraturan Kepala BPOM No. 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan 01.0 ñ 16.0.  kategori produk seasoning tersebut merupakan jenis bahan-bahan yang sering ditambahkan pada pangan olahan. Untuk itu, pangan olahan yang mengandung produk seasoning juga sangat perlu memenuhi beberapa poin yang menjadi konsentrasi baik pihak produsen, konsumen, maupun pemerintah dalam pengawasan.  Beberapa poin tersebut adalah keamanan yang meliputi bahan tambahan pangan (BTP), bahan baku, cemaran, bahan penolong, dan kemasan pangan; mutu, gizi, label, dan iklan.  ...

  • Jun 19, 2018

    Praktek higiene dan sanitasi dalam penanganan susu segar

    Berdasarkan standar kualitas susu segar (SNI 31411:2011) jumlah mikroba maksimum yang diperbolehkan adalah 1 juta koloni per mililiter (10 CFU/mL). Oleh sebab itu, susu segar pada umumnya akan mengalami kerusakan setelah 4-5 jam pada suhu kamar. Untuk menghasilkan susu segar dengan angka mikroba yang rendah harus dimulai dengan praktek higiene dan sanitasi yang baik sebelum pemerahan, saat pelaksanaan pemerahan, hingga penanganan pasca pemerahan. Pada waktu masih di dalam tubuh dan ambing ternak yang sehat, susu masih dalam keadaan steril. Kontaminasi mikroba di dalam susu terjadi pada saat proses pemerahan, yaitu berasal kulit tubuh ternak khususnya bagian seputar ambing dan puting, dari tangan pemerah, dari wadah/ peralatan penampungan susu, dan lingkungan tempat pemerahan. ...

  • Jun 18, 2018

    Potensi pemanfaatan peptida bioaktif dalam produk susu

    Meningkatnya perhatian akan hubungan asupan pangan terhadap kesehatan membuat konsumen menginginkan produk pangan yang bisa bermanfaat dalam mencegah  munculnya penyakit serta secara sinergi meningkatkan status kesehatan. Protein merupakan salah satu zat gizi utama yang terdapat dalam asupan harian dan di samping  perannya dalam menyuplai gizi, protein juga mempunyai komponen fungsional yang memiliki fungsi positif bagi tubuh, yaitu berupa peptida bioaktif (bioactive peptide). ...

  • Jun 15, 2018

    Perancangan proses pengolahan susu untuk mengantisipasi ancaman foodborne pathogen

    Penyakit yang disebabkan oleh patogen (foodborne pathogen) masih menjadi permasalahan hampir di seluruh negara secara global. Penyakit  tersebut paling sering disebabkan oleh mikrobiologi seperti bakteri dan metabolitnya serta virus dan toksinnya.  ...

  • Jun 14, 2018

    Penggunaan laktoperoksidase untuk pengawetan susu segar

    Dewasa ini telah dikembangkan suatu metode pengawetan susu segar dengan cara mengaktifkan enzim laktoperoksidase (LPO) yang secara alami sudah ada di dalam susu. LPO merupakan salah satu dari puluhan jenis enzim di dalam susu segar dengan berat molekul berukuran sedang (78.000 Dalton) dan mengandung karbohidrat sekitar 10%. Di samping ada di dalam susu segar, LPO juga ditemukan pada cairan tubuh hewan mamalia dan manusia, seperti pada saliva dan kolostrum. Metode pengaktifan LPO untuk pengawetan susu segar dikenal dengan sebutan lactoperoxydase-system atau sistem laktoperoksidase (Sistem-LPO). Aktifnya LPO di dalam susu dapat menghasilkan efek antibakteri pada susu segar (Legowo et al., 2009). ...