RFID System on Food Packaging

 

RFID menggunakan tag atau transponder, readerdan sistem computer (software, hardware, networking dan database). Tag RFID berisi integrated circuit (IC), antena tag dan baterai jika tag tersebut aktif -tetapi jika tag tersebut pasif tidak memerlukan baterai. Pertukaran data diantara tag dan reader secara nirkabel membuat teknologi RFID lebih fleksibel dibandingkan sistem identifikasi lainnya misalnya barcode. Oleh karena itu sangat ideal digunakan untuk kemasan pangan.
 
Prinsip kerja sistem RFID
sebagai berikut;
• Data yang tersimpan di dalamtag diaktivasi oleh reader pada saat item yang ditempeli tag RFID memasuki zona elektromagnetik dari reader
• Data ditransmisi ke reader untuk dikodekan 
• Data yang telah dikodekan dikirim ke sistem komputer untuk diproses lebih lanjut
Frekuensi yang digunakan berhubungan dengan prinsip kerja sistem RFID dan jarak bacanya. Frekuensi bergantung pada jenis tag, reader dan biaya yang dianggarkan. GS1 Indonesia telah mendapatkan alokasi frekuensi dari Ditjen Postel untuk alokasi frekuensi ultra high frequency yang dapat digunakan di jalur supply di Indonesia pada bandwidth 923 Mhz – 925 Mhz. Jenis frekuensi RFID yang berlaku saat ini adalah: low frequency, high frequency, ultra high frequency dan microwave. Umumnya sistem low frequency jarak bacanya pendek dan kecepatan pembacaan lambat, biaya lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan sistem RFID pada frekuensi yang lebih tinggi. Untuk frekuensi microwave membutuhkan tag RFID aktif.
 
EPC (Electronic Product Code)
Pada tahun 2004 EPC Global Network mulai membuat generasi kedua protocol RFID EPC class 1 versi 2 biasa disebut Gen2. Tujuan utama dari Gen2 adalah menciptakan standar tunggal yang bersifat global dan sesuai dengan standar ISO. Tag akan bekerja di berbagai negara yang mempunyai band frekuensi komersial yang berbeda-beda. EPC mempunyai fungsi yang signifikan pada teknologi RFID untuk industri komersial. Untuk penomoran EPC-RFID ini dapat diajukan ke GS1 Indonesia. EPC meningkatkan traceability item dan memfasilitasi penarikan produk (product recall) secara efisien juga untuk mengetahui keaslian suatu barang. EPC sama dengan kode GS1 yang saat ini umumnya dipakai pada barcode. Dibandingkan dengan barcode EAN-13 yang hanya menggunakan 13 digit, EPC mempunyai 64 hingga 256 bit data alphanumeric sehingga dapat memuat informasi tambahan lainnya seperti nomor seri dan lain-lain. Hambatan utama untuk penggunaan RFID adalah biaya yang dikeluarkan untuk tag. Tag harganya cukup mahal jika digunakan pada individual primary packaging selain itu dibutuhkan infrastruktur lain untuk sistem RFID seperti reader, database server dengan sistem komunikasi dan teknologi informasi lainnya yang juga sangat membutuhkan biaya. Penggunaan EPC secara global membutuhkan kesesuaian dengan berbagai regulasi dan standar frekwensi. Tantangan terbesar untuk memperluas penggunaan EPC untuk RFID adalah perlindungan privasi yang dapat memicu potensi timbulnya masalah. Untuk itu harus dibuat petunjuk penggunaan yang layak pada system RFID untuk pengambilan data, handling data dan sistem keamanannya.
 
RFID untuk industri pangan
RFID saat ini banyak digunakan dibeberapa aplikasi di industri pangan, mulai dari food monitoring dan traceability untuk meningkatkan keamanan makanan (food safety) hingga untuk meningkatkan efisiensi di jalur rantai pasok. Manfaat yang paling besar dari teknologi RFID di industri ini adalah kecepatan dan efisiensi di dalam perputaran stok dan tracking produk melalui rantai pasok, menghasilkan peningkatan pada ketersediaan barang di rak retailer. Teknologi tersebut cocok untuk digunakan pada operasi proses manufacturing makanan dan manajemen rantai pasok. Penggunaan RFID pada industri makanan saat ini fokus pada identifikasi dan tracking. Beberapa perusahaan makanan telah mengintegrasi RFID kedalam proses manufacturing dan distribusi. Retailer seperti Wal-Mart di Amerika Serikat telah menggunakan tag RFID untuk distribusi. Pada tahun 2003 Wal-Mart mengeluarkan mandat kepada 100 suplier besar untuk menggunakan tag RFID pada karton dan palet yang akan masuk Distribution Center Wal-Mart di tahun 2005. RFID merupakan proyek jangka panjang Wal-Mart. Teknologi RFID menyediakan manfaat security dan safety pada perusahaan makanan dengan mengetahui asal pengirim. Contohnya perusahaan wine di Kalifornia menggunakan RFID untuk melacak barel/tong wine dan untuk meningkatkan pembuatan wine dengan menyelaraskan pengambilan data. Perusahaan menaruh tag RFID pada tangki dan tong tempat hasil panen anggur, memungkinkan pengawasan produksi wine dan tracking yang lebih baik. Sebagai tambahan, dengan menempelkan tag RFID pada kemasan, maka kemasan menjadi “intelligent” karena dapat menyimpan data informasi yang sangat berharga yang dapat disimpan dan dibaca peralatan RFID.
 
 
Oleh Ir. Sri Suhartati,
Training Manager GS1 Indonesia

 

 
(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Maret 2012)

 

 

Artikel Lainnya

  • Apr 23, 2018

    Perubahan Tekstur Cokelat selama Proses Conching

    Seperti diketahui bahwa pada tahap awal proses conching terbentuk gumpalan berbentuk bola-bola kecil. Pada proses penghalusan, baik pada gula maupun susu akan terjadi perubahan bentuk amorf dari partikel gula dan partikel susu. ...

  • Apr 23, 2018

    Perbedaan Kandungan Komponen Gizi Susu Kambing dan Susu Sapi

    Susu kambing  mengandung protein kasein lebih rendah, sehingga tinggi proporsi protein serum yang menyebabkan lebih mudah dicerna daripada susu sapi. Susu kambing dan kolostrumnya kaya poliamin dibanding susu dari mamalia lain,  sehingga susu kambing merupakan sumber poliamin yang sangat bagus bagi bayi.  Poliamin penting untuk pertumbuhan optimal, fungsi  sel saluran cerna,  maturasi enzim-enzim saluran cerna dan mempunyai implikasi dalam mengurangi insiden alergi pangan pada bayi (Vaquil and Rathee, 2017).  ...

  • Apr 22, 2018

    Perlu Pencegahan Oksidasi Pada Produk Daging

    Produk daging termasuk daging merah dan daging olahan merupakan produk pangan yang memiliki banyak kandungan gizi yang menjadi sumber tinggi akan protein. Selain itu, daging memiliki banyak zat gizi yang baik bagi kesehatan karena adanya asam amino esensial yang lengkap dan seimbang, air, karbohidrat, dan komponen anorganik lainnya. Meskipun demikian, konsumsi daging merah pada khususnya dihubungkan dengan beberapa penyakit degeneratif seperti jantung koroner dan beberapa tipe penyakit kanker. Tidak hanya pada daging segar, produk daging olahan seperti sosis dan ham menghasilkan senyawa kimia beracun seperti karsinogen dan menyebabkan mutasi gen selama proses pengolahannya yang meliputi proses pengasapan, fermentasi, maupun pengolahan dengan panas.  ...

  • Apr 21, 2018

    Menjamin Kemasan Halal untuk Produk Pangan

    Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Edi Rivaíi mengatakan bahwa produk pangan halal tidak hanya berdasarkan ingridien dari pangan tersebut, namun status halal juga harus dipenuhi oleh kemasan yang digunakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam lingkup kemasan halal meliputi sertigikasi halal dalam kemasan, metode yang halal dalam penanganan produk dan ketertelusuran halal dalam bahan kemasan. ...

  • Apr 21, 2018

    Nilai Fungsional Tempe Multigrain

    Terdapat berbagai komponen bioaktif yang terdapat pada beberapa multigrain tempe. Pada tempe yang terbuat dari Oat dan Barley, adanya variasi proses pengolahan akan memengaruhi kandungan mineral dan juga asam fitat (Sandberg dkk., 2006). ...