Mengeksplorasi Potensi Minyak Atsiri


 

Dewan Atsiri Indonesia (DAI) tahun ini mendapat giliran untuk menggelar Asian Aroma Ingredients Congress & Expo (AAIC) 2012- yang berlangsung di Grand Hyatt, Nusa Dua, Bali pada tanggal 13-15 Mei lalu. Kegiatan yang bertemakan Strengthening Asian Resources through Research and Business Convergence for a Sustainable Aroma Industry, dihadiri oleh lebih dari 300 peserta yang berasal dari 16 negara dan menghadirkan pembicara dari 8 negara yang merupakan pakar dari bidangnya. Disamping itu, terdapat 28 stan pameran yang penuh terisi mulai dari stan Kemenperin, Koperasi dan perusahaan swasta dari 4 negara dengan ragam produksi mulai dari hulu (minyak atsiri) hingga ke hilir (produk spa dan aromaterapi). AAIC 2012 adalah seri kedua yang merupakan kelanjutan dari kegiatan pertama yang digelar pada 7-9 Mei 2010 di New Delhi, India. AAIC 2014 yang merupakan seri ketiga akan dilaksanakan di Kunming, China dan AAIC 2016 yang menjadi seri keempat akan dilaksanakan di Sri Lanka. AAIC merupakan kegiatan yang terdiri dari himpunan pengusaha industri perisa (flavor) dan pewangi (fragrance) di Asia – atau yang lebih dikenal dengan F&F Industries, yang terutama
berasal dari Cina, India, Indonesia dan Sri Lanka. Pelaksanaan konferensi ini mendapat dukungan dari berbagai perusahaan maupun lembaga, diantaranya PT. Indesso Aroma, SOM Extracts Limited, Tien Yuan Chemicals Pte Ltd, PT. Van Aroma, Indukern F&F Ingredients Division, Dhopeshwar Engineering Pvt. Ltd., Ernesto Ventós, S.A, Javaplant, FTIP-UNPAD, dan lain-lain. Kegiatan ini pun menunjukkan bahwa Dewan Atsiri Indonesia ingin memajukan industri atsiri dengan mendorong seluruh pelaku industri atsiri di Indonesia untuk berpartisipasi melalui kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.
 
Pada acara welcome reception, Menteri Pertanian Suswono menyampaikan keynote speech yang menjelaskan kebijakan dan dukungan Pemerintah RI bagi pengembangan minyak atsiri yang berkelanjutan. Adapun Menteri Perindustrian pada opening ceremony, melalui Keynote speech yang disampaikan Dirjen Industri Kecil Menengah, Dra. Euis Saidah, mengungkapkan bahwa negara di Asia, seperti India dan Cina merupakan pasar terbesar yang mengelola minyak atsiri. “Oleh sebab itu, kegiatan ini diharapkan menjadi solusi yang berdampak pada penjualan dengan adanya produk baru dan potensi pasar Indonesia sebagai salah satu penghasil minyak atsiri dunia. Negara produsen harus bekerjasama dengan negara lain karena sangat penting untuk kemajuan teknologi”, tutur Menperin. Sementara itu pada sesi pleno pertama, Dr. Anton Apriyantono (Indonesia Essential Oil Council) membahas tentang potensi bahan aroma alami di Indonesia. Indonesia merupakan pelaku ekspor minyak atsiri yang sering digunakan untuk bahan aromatik, yakni minyak nilam, minyak daun cengkeh, minyak pala, minyak kenanga. Di samping itu, Indonesia memiliki sumber bahan aromatik lainnya yang memiliki karakter dan keunikan, diantaranya andaliman, jeruk purut (kaffir lime), dan honje. Jeruk purut (Citrus hystrix) merupakan salah satu jenis tanaman citrus yang biasanya digunakan sebagai flavor dalam makanan dan minuman. Selain digunakan untuk industri makanan, tanaman ini juga banyak dimanfaatkan untuk produk skin care, komponen utama yang terkandung ialah citronela (80%). Laja Gowa (Alpinia Malaccensis (Burm. F.)) banyak dimanfaatkan dalam industri farmasi dan perawatan tubuh, kandungan yang terdapat dalam minyak atisiri laja gowah, yaitu α pinene, α tepineol, dan α cineol. Jintan putih juga memilki potensi sebagai minyak atsiri yang baik dengan kandungan utama berupa cuminaldehyde sebesar 62%. Selain bahan-bahan tersebut, Indonesia juga memiliki sumber minyak atsiri lainnya yang berpotensi, yaitu kencur, temu kunci, mangga kweni, pala, dan jeruk pontianak. Sumber-sumber tersebut harus terus dieksplorasi sehingga dapat dimanfaatkan lebih baik lagi. Contoh sumber minyak atsiri/bahan aroma yang telah dikembangkan dengan baik adalah vanila, nilam, dan pala.
 
Prof. Haifang Mao (Jiaxiang ZhongHua Chemical Co., Ltd.) memberikan penjelasan mengenai chinese vanilin industry. Vanila merupakan salah satu bahan yang banyak digunakan sebagai flavor dalam industri pangan, industri pakan maupun farmasi. Perkembangan terakhir yang ditemukan dalam produksi sintesis vanili terdiri dari 2-methoxybenzamine, guaiacol, glyoxylic acid dan natural eugenol.
Nilam adalah suatu tanaman semak tropis penghasil sejenis minyak atsiri, dalam dunia perdagangan internasional, minyak
 
nilam dikenal sebagai patchouli oil. Permintaan pasar minyak atisiri jenis ini diperkirakan akan terus melonjak dari seluruh dunia. Patchouli oil tergolong dalam minyak atsiri dengan komponen utamanya adalah patchoulol. Daun dan bunga nilam mengandung minyak ini, tetapi orang biasanya mendapatkan minyak nilam dari penyulingan uap terhadap daun keringnya. Prof. Vasundhara dari India menerangkan tentang pathouli oil. Minyak nilam mengandung beberapa komponen. Kandungan terpenting yang terdapat di dalamnya, yaitu patchouli alcohol (30%-40%) sedangkan senyawa nor patchoulenol sebesar 0,3%-0,5%. Peningkatan kualitas minyak jenis ini dapat dilakukan dengan sistem bioteknologi yang terdiri dari tissue and cell culture, synthesis of volatiles by micro-organism serta genetically engineered. Sistem ini dapat dikembangkan dengan fungi, bacteria atau yeast. Manfaat utama dari penggunaan sistem ini, yaitu produk yang dihasilkan oleh microbial system dapat diklasifikasikan sebagai produk alami.
gallery/Komponen pada beberapa jenis pala.jpg
 
 
Selain Nilam dan Vanila, Indonesia memiliki sumber minyak atsiri lain, yaitu minyak atsiri yang diambil dari biji pala. Dr. Ilyas Marzuki dari Universitas Patimura menuturkan tentang karakteristik dan komponen dari minyak atsiri pala Banda (Myristica fragrans Houtt). Minyak atsiri pala banda telah dipelajari kandungan minyak dan komponennya. Pala dipanen pada dua tingkat kematangan dan dijadikan sebagai bahan untuk ekstrasi minyak.
Minyak atsiri pala dihasilkan dari physico-chemical dan GC-MC analysis. Kandungan minyak yang terdapat dalam biji pala matang yang berasal dari Banda, Ambon, dan Luhu, masing-masing sebesar 11,69%, 11,92% dan 9, 99%. Sementara yang berasal dari Ternate, Tidore dan Bacan masing-masing sebesar 7,90%, 59,61% dan 8,64%. Kandungan minyak atsiri lebih banyak ditemukan pada biji pala yang belum matang. Contohnya, minyak atsiri dari biji pala belum matang yang berasal dari Banda, Ambon dan Luhu sebesar 13,32%, 11,99% dan 11,03%. Selanjutnya, minyak pala dari Maluku memiliki berat jenis berkisar antara 0,897-0,909 g/ml sedangkan yang berasal dari Maluku Utara memiliki berat jenis sebesar 0,884-0,910 g/ml. Analisis GC-MS menunjukkan bahwa minyak pala dari Maluku tersusun dari 28-31 komponen, sedangkan yang terdapat pada pala Maluku Utara, yaitu 29-31 komponen minyak atsiri. Analisis tersebut pun menunjukkan perbandingan komponen pada pala Banda, Ambon, Luhu, Ternate, Tidore dan Badan. Komponen pala dari masing-masing daerah dapat dilihat pada tabel berikut.
 
Pada analisis lainnya didapatkan empat bagian penting dalam minyak atsiri pala, yakni myristicin, elemicin, safrole dan eugenol. Pada pala Maluku terdapat 5,57%-13,76% myristicin sedangkan di Maluku Utara kandungan myristicin sebesar 5,97%-11,42%. Kemudian, kandungan safrole dalam pala Maluku sebesar 0,97%-2,46% dan dalam pala Maluku Utara sebesar 1,49%-3,37%.
Informasi lebih lengkap seputar AAIC 2012 dapat dilihat di www.aaic2012.com. Kiki
 
(FOODREVIEW INDONESIA | VOL. VII/NO. 6/JUNI 2012)

Artikel Lainnya

  • Mei 19, 2018

    Tantangan aplikasi pewarna alami untuk produk pangan

    Atribut warna pada produk pangan menjadi atribut penting bagi konsumen untuk memilih suatu produk pangan. Konsumen cenderung memilih produk pangan dengan warna yang menarik, sebelum memperhatikan atribut lainnya. Berdasarkan sumbernya, pewarna makanan dibedakan menjadi dua jenis, pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami diproduksi dari proses ekstraksi senyawa pemberi warna dari bahan-bahan alami, melalui proses dan teknologi yang cukup panjang, sedangkan pewarna sintetis berasal dari bahan-bahan kimia sintetis yang penggunaannya diizinkan sebagai pewarna makanan. Baik pewarna alami maupun pewarna sintetis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. ...

  • Mei 18, 2018

    Granola Bar sebagai salah satu produk confectionery

    Di pasar, golongan granola bar dimasukkan dalam countline, yaitu  produk-produk yang dijual secara individual dalam bungkusan kecil  dan diperuntukkan untuk konsumen langsung. ...

  • Mei 17, 2018

    Aplikasi pewarna alami larut minyak untuk produk pangan

    Berdasarkan sifat kelarutannya, pewarna alami dibedakan menjadi pewarna larut air dan pewarna larut minyak. Pewarna larut air dan pewarna larut minyak diperoleh dari proses ekstraksi yang berbeda. Keduanya juga memiliki pemanfaatan yang berbeda-beda tergantung pada aplikasi produknya. Menurut Technical Industry Manager, Natural Color division Global Marketing CHR Hansen Denmark, Rikke Sakstrup Frandsen pada acara In-depth Seminar Unleashing The Potency of Oil Soluble Food Coloring yang diadakan oleh Foodreview Indonesia, 19 April 2018 lalu, produk berbasis lemak secara umum membutuhkan pewarna larut minyak untuk menghasilkan pewarnaan yang optimal dan lebih stabil. Pewarna larut minyak dalam bentuk bubuk memiliki kelebihan pada aplikasinya dalam produk berbasis lemak atau rendah air, beberapa di antaranya yaitu mudahnya aplikasi bubuk pewarna baik dalam bentuk bubuk maupun bentuk suspensi, menghasilkan pewarna alami yang mudah larut, dapat disimpan pada suhu ruang, umur simpan mencapai 6 ñ 9 bulan, stabil dan tidak menimbulkan migrasi warna. ...

  • Mei 16, 2018

    Food wastage dalam industri pangan

    Food wastage merupakan istilah gabungan dari food loss dan food waste, atau dengan kata lain, food wastage adalah hasil dari food loss dan food waste yang menjadi permasalahan hampir di seluruh dunia. Total pemborosan dari food wastage secara global mencapai 32 persen dari rantai pasok pangan yang 16 persennya disebabkan oleh food loss yang banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan sisa 16 persen disebabkan oleh food waste di negara-negara maju. Secara istilah, food loss merupakan produk pangan yang terbuang selama produksi pascapanen, tidak sampai pada rantai konsumen. Dalam tahap ini, sisa produk pangan dapat terjadi karena proses pascapanen yang kurang baik sehingga terjadi pembusukan sebelum proses selanjutnya, maupun sisa-sisa potongan yang terlalu besar pada saat produksi. Sedangkan food waste adalah produk pangan yang sudah tidak diinginkan atau dibuang oleh konsumen. ...

  • Mei 15, 2018

    Cara industri 4.0 dalam menangani food wastage

    ìSensor, keseluruhan data, artificial intelligence, dan internet of things merupakan kemampuan dari industri 4.0 yang harus dioptimalkan untuk menekan food wastage,î Direktur The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Indonesia, Archie Slamet dalam Seminar Strategi dan Inovasi Sektor Pangan: Menjawab Tantangan Era Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh IFIC di Jakarta, 21 Maret 2018.  ...