IMMPPG Pilih Ketua Baru


 

Ikatan Mahasiswa Muslim Peduli Pangan Gizi (IMMPPG) di Universitas Brawijaya Malang pada akhir Desember lalu menggelar Musyawarah Besar yang ke-6 untuk memilih kepengurusan baru  VI periode 2010-2011. Terpilih sebagai Ketua Umum IMMPPG pada periode tersebut yakni Adi Syamsuri (Universitas Brawijaya). Ia didampingi oleh Sekretaris Jenderal Ahmad Bukhori (Universitas Jember), Bendahara Umum Nurin Imanah (Universitas Gadjah Mada), Bidang Kemitraan Mega Utami (Politeknik Kesehatan, Jakarta), Bidang Organisasi Athika Dyah (Universitas Brawijaya), Bidang Ilmiah Syaefuddin (Institut Pertanian Bogor), Bidang Pendanaan Bhayu Dimas (Politeknik Kesehatan Yogyakarta), Bidang Humas Eka Mustika (Universitas Negeri Jember), Koordinator Wilayah Timur Erick Mustaqim (Universitas Negeri Jember), Kordinator Wilayah Tengah Taufiq Hidayat (Universitas Jenderal Soedirman), Koordinator Wilayah Barat Ayudya Rahmah (Politeknik Kesehatan Jakarta).
 
Acara “Pekan Pangan Halal” dimulai awal bulan Nopember dengan acara Lomba Poster untuk umum dengan tema “Peran Pemuda Dalam Kehalalan Pangan” -yang pemenangnya adalah Juara I Tidar Nurindah NF dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, Juara II Achmad Taufiq dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya, serta Juara III Harist Ulhaq dari alumni FTP Universitas Brawijaya.
Adapun Workshop Sertifikasi Halal menghadirkan instruktur  Hendra Utama (LPPOM MUI), yang membawakan topik sertifikasi halal sebagai tonggak Indonesia sebagai sentral produk halal dunia; dan  Asep S Nur (PT Santos Premium Krimer) tentang titik kritis keharaman pangan dalam industri pangan.
 
oleh : Fri-08
 
 
(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Februari 2011)

 

Artikel Lainnya

  • Mei 26, 2018

    Tantangan penerapan industri 4.0 di Indonesia

    Penerapan industri 4.0 di beberapa negara memiliki caranya masing-masing yang disesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan di negara tersebut. Penerapan industri 4.0 di suatu negara bertujuan untuk meningkatan perekonomian suatu negara. Di Indonesia, industri pangan merupakan industri yang digadang-gadang sebagai industri yang menerapkan industri 4.0. ...

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...