Menuju Indonesia yang Berdaya Saing Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) 2011-2025


Masterplan ini merupakan langkah awal untuk mengangkat Indonesia menjadi Negara maju dan bagian dari kekuatan 10 besar dunia di tahun 2025, dan 6 besar dunia pada tahun 2050 melalui pertumbuhan ekonomi tinggi yang inklusif, berkeadilan dan berkelanjutan. Untuk mencapai hal tersebut pertumbuhan ekonomi riil harus mencapai sekitar 7 – 8 % pertahun secara berkelanjutan. Fokus program utama meliputi 22 kegiatan prioritas yaitu industri besi-baja, makanan-minuman, tekstil, peralatan transportasi, perkapalan, nikel, tembaga, bauksit, kelapa sawit, karet, kakao, perikanan, pariwisata, telematika, batubara, minyak dan gas serta pengembangan Metropolitan Jabodetabek dan pembangunan Kawasan Selat Sunda.

Kementerian Koperasi dan UMKM berusaha menjabarkan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia 2011 – 2025 beberapa waktu yang lalu melalui penyusunan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pemberdayaan Koperasi dan UMKM. Adapun tujuannya adalah : mendeteksi masalah pada kondisi saat ini dan harapan di masa depan ditataran makro, meso, maupun mikro; menjaring informasi terkait sumber daya yang dimiliki oleh masing-masing elemen bangsa pada seluruh tataran; menentukan langkah strategis merumuskan target-target yang ingin dicapai bersama terkait dengan penanganan permasalahan yang telah terdeteksi; merangkum komitmen dari masing-masing elemen bangsa dalam mencapai target-target yang telah dirumuskan untuk mendukung kelancaran proses percapatan dan perluasan pemberdayan KUMKM; merumuskan rencana aksi dan program kerja yang mengakomodir kebutuhan KUMKM, berorientasi pencapaian target bersama yang telah dirumuskan, dan dalam prosesnya melibatkan seluruh elemen bangsa berdasarkan komitmennya masing-masing; dan menyepakati mekanisme koordinasi, monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan dari rencana aksi dan program kerja bersama tersebut.

Senada dengan hal tersebut Modernisator, BKPM dan Microsoft juga menyelenggarakan forum kolaborasi bertajuk “National Competitiveness Towards Indonesia 2025”. Laporan Daya Saing 2011 hasil penilaian World Economic Forum atau WEF khusus tentang Indonesia yang diluncurkan di Jakarta untuk pertama kali, menjelang pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Asia Timur ke-20, pada 12-13 Juni 2011. Laporan ini mengacu pada temuan Indeks Daya Saing Global atau GCI 2010-2011. Peringkat Indonesia telah meningkat namun harus disadari kebutuhan untuk terus meningkatkan daya saing Indonesia. Pemerintah memprioritaskan mengatasi tantangan itu, terutama hambatan infrastruktur. Berdasarkan laporan World Economic Forum tersebut, saat ini Indonesia berada di peringkat 44 dari 139 negara. Modernisator sendiri adalah sebuah gerakan kaum muda yang independen, non-politik dan organisasi non-profit dengan tujuan untuk mencoba mengubah pola pikir orang dan persepsi para pemuda Indonesia untuk lebih sensitif dalam membaca perubahan jaman, dan lebih adaptif terhadap berbagai perubahan di dunia pada abad ke-21 dengan semboyan “pengabdian, keunggulan, inovasi, keterbukaan, dan konektifitas”. Modernisator menargetkan,dalam kurun waktu satu generasi di Indonesia akan ada 100.000 Phd, 100 pusat keunggulan di seluruh penjuru negeri, 25 universitas bertaraf dunia, dan tampilnya komunitas besar ilmu pengetahuan (knowledge society) yang cemerlang dan dinamis, mempunyai empat juta pengusaha, menjadi salah satu ekonomi unggul yang paling kompetitif di Asia, handal beradaptasi dan meraih keuntungan dari arus globalisasi, dan melesat jauh melampaui target internasional Millenium Development Goals dengan kemakmuran yang relatif merata dari Sabang sampai Merauke.Fri-27

 

 

(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Juli 2011)

Artikel Lainnya

  • Mei 26, 2018

    Tantangan penerapan industri 4.0 di Indonesia

    Penerapan industri 4.0 di beberapa negara memiliki caranya masing-masing yang disesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan di negara tersebut. Penerapan industri 4.0 di suatu negara bertujuan untuk meningkatan perekonomian suatu negara. Di Indonesia, industri pangan merupakan industri yang digadang-gadang sebagai industri yang menerapkan industri 4.0. ...

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...