Better Process with Rotary Sterilizer




Sterilisasi dengan menggunakan proses rotary memberikan beberapa keuntungan, antara lain penghematan energi dan ruang instalasi peralatan. Selain itu, produk yang dihasilkan juga diklaim memiliki mutu organoleptik yang lebih baik.

Aplikasi proses sterilisasi dengan menggunakan proses termal berkembang pesat dewasa ini di industri pangan. Berbagai inovasi pun dilakukan untuk menghasilkan sterilizer yang semakin efektif dan efisien. Salah satunya adalah yang dikembangkan oleh LEAP Machinery yang berinovasi dengan mengembangkan continous rotary sterilizer dengan struktur modular, Hydrolock. Executive Director LEAP Machinery, Chew Foo Keong, mengungkapkan bahwa Hydrolock memiliki beberapa keunggulan. Beberapa diantaranya adalah meminimalkan risiko terjadinya kontaminasi sebelum proses sterilisasi; mampu menelusuri semua kemasan untuk meminimalkan terjadinya kesalahan dalam tahapan proses; tidak ada kemasan yang rusak, karena tidak menggunakan tekanan dari luar; setiap tahap dikontrol dan dianalisa untuk menjamin integritas dan mutu produk; dapat memonitor kualitas air yang digunakan; serta memungkinkan untuk digunakan oleh berbagai ukuran kemasan tanpa membutuhkan perubahan peralatan. “Jadi bersifat lebih fleksibel,” tutur Chew.

Lebih lanjut Chew menjelaskan, terdapat beberapa tahapan dalam proses sterilisasi menggunakan Hydrolock. Proses diawali dengan loading produk yang dikendalikan secara otomatis. Dilanjutkan dengan preheating. “Pada tahapan ini produk melalui pemanasan awal dengan disemprot menggunakan air panas hingga suhu 98oC,” kata Chew. Setelah preheating, produk kemudian disterilisasi dalam suatu chamber menggunakan steam. Suhunya dapat mencapai 143oC dengan tekanan 3 bars. Kemudian produk didinginkan
melalui proses pencelupan dalam air. “Suhu air dapat dikontrol dan disesuaikan dengan tekanan internal produk,” tambah Chew. Setelah pendinginan dengan tekanan tertentu, produk kemudian didinginkan pada tekanan atmosfer. Produk lalu dikeluarkan dari sterilizer.


Inovasi terkini, proses sterilisasi dilakukan dengan menggunakan sistem rotary. “Terdapat beberapa keunggulan yang bisa diperoleh dengan proses rotary, yakni mengoptimalkan nilai F0 dan proses pemanasan,” ujar Chew. Bila waktu sterilisasinya menjadi lebih efektif, maka energi yang digunakannya pun lebih efisien dan kualitas organoleptik produk menjadi lebih baik. Gambar 1 menunjukkan pengaruh proses rotary terhadap heat transfer ke dalam kaleng. Dapat dilihat, adanya proses rotary menyebabkan terjadinya heat transfer yang lebih cepat. Data menunjukkan, proses rotary menggunakan Hydrolock dapat menghemat 35% energi, ditambah lagi 30% penghematan ekstra jika menggunakan preheating, dan mampu mengurangi space instalasi peralatan hingga 50%.


Keunggulan lain dengan menggunakan sistem rotary adalah semua produk menerima panas dengan homogen. Agak berbeda dengan sistem batch, dimana distribusi panas antara satu produk dengan produk yang lain bisa berbeda.



Hydrolock juga dapat dilengkapi dengan modul water analysis. Tujuannya adalah menjaga agar kualitas air tetap konsisten. Di dalam peralatan tersebut terdapat beberapa probes untuk memonitor konduktivitas, pH, turbiditas, dan korosi. “Ketika modul mendeteksi penurunan mutu air, maka mesin secara otomatis akan mengeluarkan air dan menggantinya dengan yang baru. Ditambah antikorosi untuk memelihara peralatan,” kata Chew. Gambar 2 menunjukkan penempatan sistem analisa mutu air dalam sterilizer. @hendryfri



Artikel ini diterbitkan di majalah FOODREVIEW INDONESIA edisi Januari 2014. Untuk membaca artikel lainnya klik di sini

Artikel Lainnya

  • Jun 20, 2018

    Regulasi produk seasoning di Indonesia

    Produk seasoning yang termasuk ke dalam kategori pangan 12.0 meliputi garam,  rempah, sup, saus, salad, dan protein yang telah diatur di dalam Peraturan Kepala BPOM No. 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan 01.0 ñ 16.0.  kategori produk seasoning tersebut merupakan jenis bahan-bahan yang sering ditambahkan pada pangan olahan. Untuk itu, pangan olahan yang mengandung produk seasoning juga sangat perlu memenuhi beberapa poin yang menjadi konsentrasi baik pihak produsen, konsumen, maupun pemerintah dalam pengawasan.  Beberapa poin tersebut adalah keamanan yang meliputi bahan tambahan pangan (BTP), bahan baku, cemaran, bahan penolong, dan kemasan pangan; mutu, gizi, label, dan iklan.  ...

  • Jun 19, 2018

    Praktek higiene dan sanitasi dalam penanganan susu segar

    Berdasarkan standar kualitas susu segar (SNI 31411:2011) jumlah mikroba maksimum yang diperbolehkan adalah 1 juta koloni per mililiter (10 CFU/mL). Oleh sebab itu, susu segar pada umumnya akan mengalami kerusakan setelah 4-5 jam pada suhu kamar. Untuk menghasilkan susu segar dengan angka mikroba yang rendah harus dimulai dengan praktek higiene dan sanitasi yang baik sebelum pemerahan, saat pelaksanaan pemerahan, hingga penanganan pasca pemerahan. Pada waktu masih di dalam tubuh dan ambing ternak yang sehat, susu masih dalam keadaan steril. Kontaminasi mikroba di dalam susu terjadi pada saat proses pemerahan, yaitu berasal kulit tubuh ternak khususnya bagian seputar ambing dan puting, dari tangan pemerah, dari wadah/ peralatan penampungan susu, dan lingkungan tempat pemerahan. ...

  • Jun 18, 2018

    Potensi pemanfaatan peptida bioaktif dalam produk susu

    Meningkatnya perhatian akan hubungan asupan pangan terhadap kesehatan membuat konsumen menginginkan produk pangan yang bisa bermanfaat dalam mencegah  munculnya penyakit serta secara sinergi meningkatkan status kesehatan. Protein merupakan salah satu zat gizi utama yang terdapat dalam asupan harian dan di samping  perannya dalam menyuplai gizi, protein juga mempunyai komponen fungsional yang memiliki fungsi positif bagi tubuh, yaitu berupa peptida bioaktif (bioactive peptide). ...

  • Jun 15, 2018

    Perancangan proses pengolahan susu untuk mengantisipasi ancaman foodborne pathogen

    Penyakit yang disebabkan oleh patogen (foodborne pathogen) masih menjadi permasalahan hampir di seluruh negara secara global. Penyakit  tersebut paling sering disebabkan oleh mikrobiologi seperti bakteri dan metabolitnya serta virus dan toksinnya.  ...

  • Jun 14, 2018

    Penggunaan laktoperoksidase untuk pengawetan susu segar

    Dewasa ini telah dikembangkan suatu metode pengawetan susu segar dengan cara mengaktifkan enzim laktoperoksidase (LPO) yang secara alami sudah ada di dalam susu. LPO merupakan salah satu dari puluhan jenis enzim di dalam susu segar dengan berat molekul berukuran sedang (78.000 Dalton) dan mengandung karbohidrat sekitar 10%. Di samping ada di dalam susu segar, LPO juga ditemukan pada cairan tubuh hewan mamalia dan manusia, seperti pada saliva dan kolostrum. Metode pengaktifan LPO untuk pengawetan susu segar dikenal dengan sebutan lactoperoxydase-system atau sistem laktoperoksidase (Sistem-LPO). Aktifnya LPO di dalam susu dapat menghasilkan efek antibakteri pada susu segar (Legowo et al., 2009). ...