Mewaspadai Penyalahgunaan DEHP


 

Penyalahgunaan DEHP (Di(2- ethylhexyl) phthalate) yang marak  beberapa waktu terakhir mendorong Asosiasi Laboratorium Pangan Indonesia (ALPI) dan PT ALS Indonesia untuk menyelenggarakanseminar bertajuk “Kontaminasi Phtalate pada Produk Pangan” di Jakarta pada 21 Juni lalu. Hadir sebagai pembicara utama adalah Melissa Dita Novianti, M.Sc dari PT. ALS Indonesia.
 
 Seminar yang berlangsung setengah hari tersebut membahas secara terperinci mengenai bahaya penggunaan phtalate pada produk pangan dan pengujian yang tepat untuk kontaminasi phthalate pada pangan. Phtalate merupakan senyawa dengan rumus kimia 1,2-Benzendicarboxylic acid yang digunakan terutama sebagai plastisizer pada produksi resin PVC dan biasa digunakan sebagai pengemas, perekat,cat, lapisan film dan kosmetik.
 
Karakteristik phtalate secara umum diantaranya larut dalam lemak, tidak larut dalam air, tahan pada suhu tinggi, dapat bermigrasi dengan paparan sinar  matahari dan dapat dimetabolisme oleh aktivitas mikroba aerobik.  
Dampak negatif dari penggunaan phtalate adalah terganggunya sistem endokrin pada hewan dan manusia sehingga, menyebabkan efek  berkurangnya reproduktivitas, gangguan pada perkembangan yang diindikasi dengan pemahaman kurang, lamban dalam belajar, terhambatnya pertumbuhan badan serta mempengaruhi sifat feminin pada pria atau sifat maskulin pada wanita.
 
Kontaminasi phtalate pada tubuh dapat melalui pernafasan (terkontaminasi melalui udara), oral (tertelan melalui makanan
dan minuman) serta melalui kontak dengan kulit. Beberapa produk yang memiliki potensi terpapar dengan phatalate  diantaranya makanan (terutama makanan berminyak), udara, obat, air dan kosmetik. Kontaminasi pada air dan kosmetik
sangat sedikit hingga mencapai level ppb karena kelarutan phtalate yang rendah.
oleh : Icha
 

(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Agustus 2011)

Artikel Lainnya

  • Mei 19, 2018

    Tantangan aplikasi pewarna alami untuk produk pangan

    Atribut warna pada produk pangan menjadi atribut penting bagi konsumen untuk memilih suatu produk pangan. Konsumen cenderung memilih produk pangan dengan warna yang menarik, sebelum memperhatikan atribut lainnya. Berdasarkan sumbernya, pewarna makanan dibedakan menjadi dua jenis, pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami diproduksi dari proses ekstraksi senyawa pemberi warna dari bahan-bahan alami, melalui proses dan teknologi yang cukup panjang, sedangkan pewarna sintetis berasal dari bahan-bahan kimia sintetis yang penggunaannya diizinkan sebagai pewarna makanan. Baik pewarna alami maupun pewarna sintetis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. ...

  • Mei 18, 2018

    Granola Bar sebagai salah satu produk confectionery

    Di pasar, golongan granola bar dimasukkan dalam countline, yaitu  produk-produk yang dijual secara individual dalam bungkusan kecil  dan diperuntukkan untuk konsumen langsung. ...

  • Mei 17, 2018

    Aplikasi pewarna alami larut minyak untuk produk pangan

    Berdasarkan sifat kelarutannya, pewarna alami dibedakan menjadi pewarna larut air dan pewarna larut minyak. Pewarna larut air dan pewarna larut minyak diperoleh dari proses ekstraksi yang berbeda. Keduanya juga memiliki pemanfaatan yang berbeda-beda tergantung pada aplikasi produknya. Menurut Technical Industry Manager, Natural Color division Global Marketing CHR Hansen Denmark, Rikke Sakstrup Frandsen pada acara In-depth Seminar Unleashing The Potency of Oil Soluble Food Coloring yang diadakan oleh Foodreview Indonesia, 19 April 2018 lalu, produk berbasis lemak secara umum membutuhkan pewarna larut minyak untuk menghasilkan pewarnaan yang optimal dan lebih stabil. Pewarna larut minyak dalam bentuk bubuk memiliki kelebihan pada aplikasinya dalam produk berbasis lemak atau rendah air, beberapa di antaranya yaitu mudahnya aplikasi bubuk pewarna baik dalam bentuk bubuk maupun bentuk suspensi, menghasilkan pewarna alami yang mudah larut, dapat disimpan pada suhu ruang, umur simpan mencapai 6 ñ 9 bulan, stabil dan tidak menimbulkan migrasi warna. ...

  • Mei 16, 2018

    Food wastage dalam industri pangan

    Food wastage merupakan istilah gabungan dari food loss dan food waste, atau dengan kata lain, food wastage adalah hasil dari food loss dan food waste yang menjadi permasalahan hampir di seluruh dunia. Total pemborosan dari food wastage secara global mencapai 32 persen dari rantai pasok pangan yang 16 persennya disebabkan oleh food loss yang banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan sisa 16 persen disebabkan oleh food waste di negara-negara maju. Secara istilah, food loss merupakan produk pangan yang terbuang selama produksi pascapanen, tidak sampai pada rantai konsumen. Dalam tahap ini, sisa produk pangan dapat terjadi karena proses pascapanen yang kurang baik sehingga terjadi pembusukan sebelum proses selanjutnya, maupun sisa-sisa potongan yang terlalu besar pada saat produksi. Sedangkan food waste adalah produk pangan yang sudah tidak diinginkan atau dibuang oleh konsumen. ...

  • Mei 15, 2018

    Cara industri 4.0 dalam menangani food wastage

    ìSensor, keseluruhan data, artificial intelligence, dan internet of things merupakan kemampuan dari industri 4.0 yang harus dioptimalkan untuk menekan food wastage,î Direktur The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Indonesia, Archie Slamet dalam Seminar Strategi dan Inovasi Sektor Pangan: Menjawab Tantangan Era Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh IFIC di Jakarta, 21 Maret 2018.  ...