RPH bersertifikat ISO 9001:2008 di Kota Bogor


 

Setelah diresmikan 29 Juni 2009 lalu oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia, Rumah Potong Hewan (RPH) Terpadu Bogor semakin berkembang menuju RPH yang berstandar internasional. RPH yang bernaung dibawah Dinas Pertanian Pemerintahan Kota Bogor ini merupakan unit pelayanan publik yang memiliki fungsi teknis, ekonomis, dan sosial dalam pelaksanaannya. 
 
RPH Terpadu yang berlokasi di daerah Bubulak Bogor ini telah memiliki sertifikat halal dari LPPOM-MUI, memiliki NKV (Nomor Kontrol Veteriner), dan ISO 9001:2008. Sertifikat tersebut merupakan jaminan bagi para pengguna jasa pemotongan di RPH ini akan kesehatan, keamanan, keutuhan, dan kehalalan produk yang  dikeluarkan. 
 
Tidak hanya fasilitas pelayanan pemotongan yang disediakan disini, tetapi ada juga tempat penampungan hewan, pemeriksaan hewan hidup (antemortem), pemeriksaan kondisi daging setelah dipotong (postmortem), serta pelayanan pasar hewan. “Semua fasilitas layanan tersebut dapat dinikmati 24 jam oleh para pengguna jasa pemotongan di RPH ini,” jelas Drh. Wina, Kepala UPTD RPH Terpadu Dinas Pertanian Kota Bogor. Jika ingin menggunakan jasa pemotongan di RPH ini, para pengguna diwajibkan untuk membayar retribusi untuk setiap jenis ternak yang akan disembelih, seperti misalnya retribusi untuk pemotongan sapi/kerbau adalah Rp 3500/ekor, Rp 200/ekor ayam, dan Rp 3500/ekor kambing atau domba. 
 
Meskipun belum genap 2 tahun RPH ini beroperasi, beberapa penghargaan telah diperoleh oleh RPH Bogor, diantaranya penghargaan Abdi  Bhakti Tani dari Menteri Pertanian tahun 2009, dan penghargaan dari Kementerian Penggunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada tahun 2010. 
 
Oleh : Fri-12
 
 
(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Maret 2011)
 

Artikel Lainnya

  • Mei 26, 2018

    Tantangan penerapan industri 4.0 di Indonesia

    Penerapan industri 4.0 di beberapa negara memiliki caranya masing-masing yang disesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan di negara tersebut. Penerapan industri 4.0 di suatu negara bertujuan untuk meningkatan perekonomian suatu negara. Di Indonesia, industri pangan merupakan industri yang digadang-gadang sebagai industri yang menerapkan industri 4.0. ...

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...