Pengaplikasian Desain Higienis Pada Industri Pangan


Kontaminasi terjadi karena beberapa faktor, salah satu penyebab utamanya adalah katup kotor yang terpasang pada tangki penyimpanan susu di pabrik. Berdasarkan analisa mikrobiologi, bakteri Staphylococcus aureus ditemukan berkembang biak pada katup yang kotor tersebut, sehingga menyebabkan kontaminasi terhadap produk yang tersimpan di dalamnya. Kasus ini diperburuk oleh penanganan yang tidak tepat dan pengaplikasian praktek sanitasi yang kurang baik. Hasilnya, kasus ini tercatat sebagai wabah keracunan pangan terbesar dalam sejarah industri pangan dunia. 
Kasus tersebut membuktikan bahwa satu bagian kecil dari proses produksi dapat menimbulkan sebuah bencana besar, baik bagi produsen maupun konsumen. 
 
Di Indonesia, persoalan yang berkaitan dengan desain higienis industri pangan juga menjadi sorotan, terutama pada produk-produk pangan yang diekspor. Data dari badan pengawas makanan dan obat Amerika (FDA) pada tahun 2001-2007 menunjukkan bahwa ada tiga alasan terbesar penolakan produk pangan Indonesia. Pertama adalah masalah kebersihan dan sanitasi yang tidak baik. Kedua, residu pestisida pada produk pangan, terutama pada sayur-sayuran dan buah-buahan. Alasan yang terakhir adalah proses pengalengan makanan yang tidak sesuai dengan peraturan. Sementara itu, berdasarkan data BPOM pada tahun 2008, dari 610 sampel bahan pangan yang dianalisa, 116 sampel terkontaminasi mikroba, dan 66 sampel lainnya terkontaminasi bahan kimia. Pada umumnya, mikroba yang ditemukan dalam bahan pangan tersebut berasal dari spesies Salmonella, yang mengindikasikan bahwa faktor sanitasi dan kebersihan menjadi penyebab utama. 
 
Menanggapi hal-hal tersebut, langkah-langkah besar telah diambil oleh organisasi dunia dalam mengantisipasi terjadinya masalah yang berkaitan dengan sanitasi dalam produksi pangan, salah satunya adalah European Hygienic Engineering and Design Group (EHEDG). Organisasi ini didirikan pada tahun 1989 dengan tujuan untuk mempromosikan proses produksi dan hasil produksi pangan yang higienis, sehingga aman untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Lingkup kerja dari EHEDG cukup luas, mulai dari mendesain peralatan produksi higienis, hingga instalasi gedung dan pemeliharaan kebersihannya. 
 
Spesifikasi desain higienis yang dirilis oleh EHEDG antara lain 
material yang digunakan harus mudah untuk dibersihkan;
menggunakan alat perekat yang tidak menimbulkan karat, contohnya Roccasol 200S1; permukaan yang licin dan tidak berlubang untuk memudahkan pembersihan; serta tidak adanya komponen yang horizontal, untuk menghindari pengendapan air dan kotoran. Spesifikasi tersebut dibuat untuk menjawab tantangan perkembangan regulasi pada industri pangan dan meningkatnya kewaspadaan konsumen terhadap keamanan dan kebersihan produk makanan dan minuman. Produsen pangan juga diharuskan untuk menggunakan peralatan yang higienis dan mengaplikasikan Good Manufacturing Practices (GMP). 
 
Persyaratan sanitasi 
 
Untuk mengurangi kontaminasi baik biologis maupun kimia, peralatan dengan fitur easy-to-clean atau mudah untuk dibersihkan sangat berperan penting untuk lingkungan manufaktur. Fitur-fitur lain seperti ketahanan peralatan terhadap prosedur pembersihan yang berat dan konstruksi alat yang tersertifikasi dapat membantu industri pangan mengikuti regulasi yang berlaku. 
 
Penelusuran 
 
Adalah sangat penting untuk memiliki sistem database yang memudahkan produsen menelusuri masalah yang berkaitan dengan produk yang dihasilkan. Apabila ditemukan kontaminasi selama proses produksi yang berpengaruh terhadap hasil akhir, proses penarikan kembali produk dari edaran (product recall) harus dapat dilakukan dengan cepat untuk menghindari atau mengurangi timbulnya rusaknya reputasi perusahaan. 
 
Perawatan dan kalibrasi peralatan 
 
Peralatan yang digunakan pada proses produksi berperan sangat penting pada kemanan dan kualitas produk yang dihasilkan. 
Oleh karena itu, peralatan-peralatan yang digunakan harus dikalibrasi, diverifikasi dan dirawat secara berkala. Hal ini akan memastikan bahwa produk yang dihasilkan sesuai dengan regulasi yang berlaku dan berkualitas baik. Dengan program layanan purna jual yang ditawarkan oleh PT. Almega Sejahtera, selaku perwakilan dari Mettler v di Indonesia, anda akan memperoleh pelayanan kalibrasi peralatan yang sesuai dengan standard yang berlaku di industri pangan seperti Good Manufacturing Practice (GMP), sehingga produk yang dihasilkan berkualitas tinggi dan memenuhi peraturan yang berlaku. 
 
Mettler Toledo PegaFood Range 
 
Untuk menjawab tantangan berkaitan dengan desain higienis pada industri pangan, Mettler Toledo memperkenalkan timbangan seri PegaFood, yang memiliki beberapa fitur, diantaranya, desain timbangan yang higienis sesuai dengan standar EHEDG. Selain itu, timbangan dapat dengan mudah dibersihkan tanpa menggunakan deterjen dalam jumlah yang banyak, sehingga membantu anda dalam menghemat biaya dan lebih ramah terhadap lingkungan. 
Fitur ColorWeight dapat membantu dalam mengindikasikan apakah produk anda berada pada berat yang ditetapkan oleh regulasi. Apabila produk anda berada dibawah atau diluar batas berat yang telah ditetapkan, makan fitur ColorWeight akan menunjukkan warna merah atau kuning pada backlight display timbangan PegaFood. Timbangan ini juga dilengkapi dengan layar display dan keyboard yang mudah untuk digunakan, disertai dengan adjustable backlight brightness, memudahkan pengguna dalam mengatur cahaya sesuai kebutuhan pada monitor timbangan. Timbangan seri PegaFood ini sangat mudah dalam perawatannya dan data yang disimpan pada alat dapat dengan mudah ditelusuri, karena timbangan dapat langsung dihubungkan dengan komputer untuk fungsi pengolahan data. Fungsi tersebut juga dipermudah dengan tersedianya 5 macam kerangka (template) untuk membantu pengguna dalam membuat laporan. Timbangan ini juga dilengkapi fitur waktu dan tanggal yang dapat disesuaikan.
 
Untuk informasi lebih lanjut mengenai produk PegaFood, silahkan hubungi :
 
PT. ALMEGA SEJAHTERA
Jakarta: 021-65833731
Cilegon : 0254-376134
Bandung: 022-6125412-4
Semarang: 024-7610104
Surabaya:  031-5026547
 
 
 
(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Maret 2011)
 

Artikel Lainnya

  • Ags 14, 2018

    Perpaduan Protein Pada Produk Minuman Ringan

    Penggunaan perpaduan antara protein hewani dan protein nabati untuk digunakan dalam suatu produk pangan juga dapat memberikan cita rasa serta manfaat kesehatan yang berbeda. Perpaduan antara protein dari kedelai dan produk dairy akan meningkatkan nilai ekomonis, memperbaiki cita rasa, menyeimbangkan volatilitas tanpa memengaruhi kualitas protein. Sedangkan pada perpaduan kedelai dengan tanaman lain dapat meningkatkan kualitas protein, menambahkan manfaat kesehatan serta dapat menyeimbangkan fungsionalitas dari suatu produk.  ...

  • Ags 13, 2018

    Meningkatkan Cita Rasa Produk Minuman dengan Kombinasi Protein

    Protein menjadi salah satu zat gizi yang sering ditambahkan dalam beberapa produk pangan. Penambahan tersebut tidak lain untuk memenuhi permintaan konsumen terhadap produk pangan yang dapat memberikan manfaat kesehatan untuk tubuh. Dalam persepsi konsumen, protein memberikan manfat untuk beberapa hal seperti untuk pertumbuhan otot, meningkatkan energi, pertumbuhan anak, dan dapat mencegah sarcopenia. Dari persepsi tersebut, protein menjadi salah satu ingridien yang potensial untuk dikembangkan menjadi bahan tambahan pada produk pangan.  ...

  • Ags 12, 2018

    Peningkatan Probiotik Sebagai Pangan Fungsional

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mendefinisikan pangan fungsional, termasuk di dalamnya probiotik, sebagai pangan yang secara alami maupun telah mengalami proses (produk olahan) yang mengandung satu atau lebih komponen fungsional yang berdasarkan kajian ilmiah memiliki sifat fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan, serta bermanfaat bagi kersehatan. ...

  • Ags 10, 2018

    Inkorporasi Probiotik ke Dalam Produk Pangan

    Terdapat lima hal utama yang harus diperhatikan dalam inkorporasi probiotik ke dalam produk pangan, yaitu (i) menyeleksi kombinasi strain probiotik dengan jenis pangan cocok, (ii) menggunakan kondisi pengolahan pangan yang sesuai dengan sintasan probiotik, (iii) bila diperlukan fermentasi, maka harus dipastikan bahwa matriks pangan akan mendukung pertumbuhan probiotik, (iv) memilih matriks produk, kemasan dan kondisi lingkungan untuk memastikan sintasan probiotik yang cukup melalui rantai suplai produk dan selama penyimpanan produk, dan (v) memastikan bahwa penambahan probiotik tidak berpengaruh negatif negatif terhadap cita rasa dan tekstur produk. ...

  • Ags 09, 2018

    Pengaruh Pemanasan Terhadap Waktu Gelasi Susu

    Pada umumnya, pemanasan awal dilakukan pada suhu 80-95oC selama 30-60 detik dengan tujuan untuk stabilisasi fl-laktoglobulin sebelum proses UHT. Stabilisasi fl-laktoglobulin dilakukan untuk mencegah terjadinya deposit (fouling) pada kondisi UHT. Adapun pemanasan awal dengan suhu 72 oC selama 30 detik sampai 80 oC selama 30 detik bertujuan untuk menunda pembentukan gel. Penundaan ini disebabkan karena pengendapan protein whey pada permukaan misel kasein sehingga permukaan reaktif menjadi berkurang. Dilihat dari jenis pemanasannya, pada tingkat pemanasan yang sama (equivalent bactericidal effects), pemanasan langsung menghasilkan susu UHT dengan peluang gelasi yang lebih besar daripada pemanasan tidak langsung. ...