Agribusiness for Prosperity


Dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Hatta Radjasa (4/1), Agrinex kembali menjadi tempat promosi produk-produk agribisnis terbesar di Indonesia.  Berlangsung 4-6 Maret di Jakarta Convention Center (JCC), Agrinex kali ini mengusung tema “Agribusiness for Prosperity: untuk Indonesia yang Lebih Baik”.  Selama lima tahun Agrinex berupaya untuk terus mempromosikan pertanian Indonesia, juga sebagai wadah diskusi sehingga lahir pemikiran-pemikiran strategis yang dapat berkontribusi bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan.
 
Tema agribusiness for prosperity dianggap tepat oleh Hatta Radjasa.  Sektor agribisnis sangat penting menurut nya, “sektor ini merupakan sumbangan terbesar untuk pembangunan kesejahteraan masyarakat.  Sektor pangan terutama ketahanan pangan merupakan masalah hidup dan mati bangsa, jadi pemerintah tidak boleh setengah-setengah jika berbicara tentang pangan.” Tiga hal utama yang harus menjadi pokok diskusi kali ini adalah peningkatan kapasitas produksi di beberapa daerah; tantangan pemerintah menyangkut hasil produksi, pembiayaan, perluasan lahan; dan teknologi.   Selain itu, perubahan iklim yang ekstrim juga menjadi salah satu topik yang juga perlu dibahas.  “Perubahan iklim ekstrim jangan terlalu dikhawatirkan, justru hal ini bisa menjadi peluang bagi Indonesia untuk terus bisa berproduksi dan akhirnya bisa supply untuk Negara lain,” tandasnya. Menteri berpesan, hendaknya kita mengubah tantangan menjadi sebuah peluang yang menguntungkan. 
 
Oleh :   Fitria
 
(FOODREVIEW INDONESIA Edis April 2011)
 

Artikel Lainnya

  • Mei 19, 2018

    Tantangan aplikasi pewarna alami untuk produk pangan

    Atribut warna pada produk pangan menjadi atribut penting bagi konsumen untuk memilih suatu produk pangan. Konsumen cenderung memilih produk pangan dengan warna yang menarik, sebelum memperhatikan atribut lainnya. Berdasarkan sumbernya, pewarna makanan dibedakan menjadi dua jenis, pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami diproduksi dari proses ekstraksi senyawa pemberi warna dari bahan-bahan alami, melalui proses dan teknologi yang cukup panjang, sedangkan pewarna sintetis berasal dari bahan-bahan kimia sintetis yang penggunaannya diizinkan sebagai pewarna makanan. Baik pewarna alami maupun pewarna sintetis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. ...

  • Mei 18, 2018

    Granola Bar sebagai salah satu produk confectionery

    Di pasar, golongan granola bar dimasukkan dalam countline, yaitu  produk-produk yang dijual secara individual dalam bungkusan kecil  dan diperuntukkan untuk konsumen langsung. ...

  • Mei 17, 2018

    Aplikasi pewarna alami larut minyak untuk produk pangan

    Berdasarkan sifat kelarutannya, pewarna alami dibedakan menjadi pewarna larut air dan pewarna larut minyak. Pewarna larut air dan pewarna larut minyak diperoleh dari proses ekstraksi yang berbeda. Keduanya juga memiliki pemanfaatan yang berbeda-beda tergantung pada aplikasi produknya. Menurut Technical Industry Manager, Natural Color division Global Marketing CHR Hansen Denmark, Rikke Sakstrup Frandsen pada acara In-depth Seminar Unleashing The Potency of Oil Soluble Food Coloring yang diadakan oleh Foodreview Indonesia, 19 April 2018 lalu, produk berbasis lemak secara umum membutuhkan pewarna larut minyak untuk menghasilkan pewarnaan yang optimal dan lebih stabil. Pewarna larut minyak dalam bentuk bubuk memiliki kelebihan pada aplikasinya dalam produk berbasis lemak atau rendah air, beberapa di antaranya yaitu mudahnya aplikasi bubuk pewarna baik dalam bentuk bubuk maupun bentuk suspensi, menghasilkan pewarna alami yang mudah larut, dapat disimpan pada suhu ruang, umur simpan mencapai 6 ñ 9 bulan, stabil dan tidak menimbulkan migrasi warna. ...

  • Mei 16, 2018

    Food wastage dalam industri pangan

    Food wastage merupakan istilah gabungan dari food loss dan food waste, atau dengan kata lain, food wastage adalah hasil dari food loss dan food waste yang menjadi permasalahan hampir di seluruh dunia. Total pemborosan dari food wastage secara global mencapai 32 persen dari rantai pasok pangan yang 16 persennya disebabkan oleh food loss yang banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan sisa 16 persen disebabkan oleh food waste di negara-negara maju. Secara istilah, food loss merupakan produk pangan yang terbuang selama produksi pascapanen, tidak sampai pada rantai konsumen. Dalam tahap ini, sisa produk pangan dapat terjadi karena proses pascapanen yang kurang baik sehingga terjadi pembusukan sebelum proses selanjutnya, maupun sisa-sisa potongan yang terlalu besar pada saat produksi. Sedangkan food waste adalah produk pangan yang sudah tidak diinginkan atau dibuang oleh konsumen. ...

  • Mei 15, 2018

    Cara industri 4.0 dalam menangani food wastage

    ìSensor, keseluruhan data, artificial intelligence, dan internet of things merupakan kemampuan dari industri 4.0 yang harus dioptimalkan untuk menekan food wastage,î Direktur The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Indonesia, Archie Slamet dalam Seminar Strategi dan Inovasi Sektor Pangan: Menjawab Tantangan Era Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh IFIC di Jakarta, 21 Maret 2018.  ...