Menggagas Standar Regulasi Pemotongan Ternak

 

Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM MUI) dan bekerja sama dengan Universitas Djuanda pada pertengahan April lalu di Bogor mengggelar workshop internasional seputar standar dan regulasi dalam pemotongan ternak. Direktur LPPOM MUI Lukmanul Hakim mengatakan, Indonesia harus mempunyai standar halal, karena Indonesia merupakan salah satu negara yang mayoritas beragama Islam. 
 
Untuk saat ini, standar halal Indonesia sudah diterima dan diakui keberadaannya. Halal yang dimaksud adalah dari material serta non materialnya. “Makanan sehat belum tentu halal. Oleh karena itu, Indonesia harus mempunyai standar halal yang harus diedukasikan dengan jelas,” kata Lukmanul.
 
Kepala Badan Karantina Pertanian Kementerian Pertanian Banun Harpini yang hadir mewakili Menteri Pertanian menambahkan, konsumsi  pangan  halal  merupakan hal yang wajib bagi setiap muslim. Oleh karena itu, jaminan halal telah menjadi salah satu isu penting dalam pasar global yang mengarah pada pembangunan makanan halal baik di tingkat nasional dan internasional. “Jaminan halal di pasar global menjadi salah satu kebutuhan yang paling penting dari perdagangan pangan, khususnya negara-negara dengan  mayoritas  warga negaranya adalah Islam,” tutur Banun.
 
Ia menjelaskan, produk yang berasal dari hewan,  khususnya  makanan asal  ternak, merupakan  produk yang memiliki   risiko tinggi  tidak halal, karena proses pemotongan, kontaminasi zat tidak halal pada proses produksi, serta penggunaan aditif makanan. 
 
 
Oleh : Fri-14
 
 
(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Mei 2011)

Artikel Lainnya

  • Feb 22, 2018

    Proses Pembuatan Cokelat Crumb

    Pada produksi cokelat crumb, proses pertama yang dilakukan adalah pembuatan susu kental manis dari susu sapi murni. Pembuatan susu kental manis ini sudah banyak dilakukan di Indonesia di mana banyak dijual susu kental manis dari industri-industri susu. Setelah melalui proses standardisasi, susu cair kemudian dipasteurisasi pada suhu 72-760C. Melalui evaporator bertingkat, susu dipekatkan sampai kadar padatannya mencapai 45%. Hasilnya berupa larutan kental, lalu dimasukkan gula pasir sesuai  dengan formulasi yang dikehendaki. Campuran dimasukkan dalam panci vakum untuk melarutkan gula dan menguapkan air. Penguapan dilakukan pada suhu 750C di bawah vakum  sampai tercapai kadar padatan 90%. Pada tahap proses ini, terlihat tanda-tanda kristalisasi pada gula. ...

  • Feb 22, 2018

    Sertifikasi Halal untuk Perusahaan asal Taiwan

    Setelah bertahun-tahun melakukan kegiatan bisnis di 10 negara ASEAN, TCI sudah sangat familiar akan pengembangan produk pangan dan masker wajah yang halal. Berkat pengalamannya memasarkan produk di pasar Muslim di Asia Tenggara, mereka telah membuahkan banyak hasil dan solusi bagi klien retail maupun brand. Konsumen dapat menemukan produk ODM buatan TCI yang sudah halal di beberapa apotik modern ataupun channel lainnya.  ...

  • Feb 21, 2018

    Desain Proses untuk Pengembangan Produk Minuman Fungsional

    Inovasi pangan dengan klaim kesehatan masih mempunyai peluang besar di Indonesia. Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menunjukkan bahwa terdapat beberapa kategori pangan yang sering diajukan oleh industri sebagai pangan olahan berklaim, misalnya kategori pangan olahan berbasis susu. Selain itu, jenis produk pangan untuk kebutuhan gizi khusus (PKMK) juga berkembang dengan berbagai analisis ilmiah. ...

  • Feb 21, 2018

    Perkembangan Baru Metode Perolehan Flavor

    Ada dua metode yang saat ini sedang mendapatkan perhatian dalam aplikasinya untuk senyawa flavor yaitu Subcritical Water Extraction (SWE) dan Microwave Assisted Extraction (MAE).  ...

  • Feb 20, 2018

    Penambahan Garam Tingkatkan Pelepasan Flavor Produk

    Ingridien dalam fase air lainnya yang berpengaruh pada pelepasan flavor adalah garam. Ingridien ini secara umum dikathui dapat meningkatkan persepsi flavor melalui peristiwa salting-out, yaitu penambahan garam akan menurunkan kelarutan senyawa utama terhadap air dalam larutan. Pada komponen flavor yang hidrofilik, salting-out dapat menurunkan  jumlah molekul air yang tersedia untuk melarutkan komponen flavor tersebut. Sementara itu, pada komponen flavor yang lipofilik, adanya salting-out dapat menurunkan konsentrasi komponen flavor dalam fase air dan membuatnya lebih banyak berada dalam fase minyak dan kemudian berubah menjadi fase gas. Hal ini menyebabkan konsentrasi garam yang tinggi akan memberikan efek pada meningkatan pelepasan flavor.  ...