Memperluas Pasar Industri Pangan Olahan Nasional di Era Pasar Bebas


 

Era perdagangan bebas setidaknya telah membuat industri pangan berlomba-lomba untuk membenahi diri di tengah semakin ketatnya persaingan.  Penandatangan Free Trade Agreement antara ASEAN-Cina FTA juga IJ-EPA (Indonesia Jepang) adalah contoh perjanjian perdagangan bebas yang telah disepakati dan sudah mulai efektif berlaku.  Diharapkan hal ini dapat membuka peluang bagi industri pangan olahan dalam negeri untuk memperluas pasar serta meningkatkan daya saing.  
 
Informasi pasar dan peluang bisnis tentunya sangat dibutuhkan oleh para pelaku usaha di bidang pangan olahan.  Berkaitan dengan hal tersebut, belum lama ini GAPMMI mengadakan acara Member Gathering di Intercontinental Midplaza Hotel, Jakarta.  Pada acara rutin kali ini, GAPMMI bekerjasama dengan Hong Kong Trade Development Council (HKTDC).  Regional Director Southeast Asia and India HKTDC, Loretta Wang, memperkenalkan HKTDC dan program-program yang mereka lakukan selama ini termasuk memberikan informasi peluang bagi anggota GAPMMI untuk masuk ke pasar Cina dan Asia melalui Hong Kong, sebuah kota bisnis internasional yang terletak diujung selatan Cina daratan dan berpenduduk 7 juta jiwa.  
 
Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan oleh HKTDC adalah mengadakan Food Expo. Loretta menjelaskan, tahun 2010 yang lalu pameran ini diikuti oleh 700 peserta dari 22 negara dan dihadiri oleh lebih dari 12 ribu buyer potensial.  Di samping itu, HKTDC juga berperan aktif dalam mengadakan pameran-pameran bertaraf internasional lainnya dan sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun.  Ia mengungkapkan bahwa dari 90% produk pangan yang di ekspor ke Hong Kong, sepertiganya masuk ke Cina daratan.  Menurut dia, para pelaku usaha di Indonesia khususnya sektor pangan olahan harus menangkap peluang emas ini guna memperluas pasar mereka.
 
Masih dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman menyampaikan beberapa update regulasi dan kebijakan tentang pangan kepada anggota GAPMMI.  Beberapa di antaranya rencana revisi UU Pangan No.7 tahun 1996, dan rencana penyusunan draft RUU Pengawasan Obat dan Makanan di mana GAPMMI diundang oleh Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia (MHKI) untuk memberikan aspirasinya.  
 
Wakil Ketua Umum GAPMMI Bidang Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga, Sriboga Suratmo memberikan penjelasan seputar keikutsertaan GAPMMI sebagai anggota dalam Forum Industri Pengguna Gas Bumi (FIPGB) yang beranggotakan 12 asosiasi industri dari beberapa sektor seperti sarung tangan karet, makanan dan minuman, pupuk, kaca lembaran, kaca botol, keramik dan kimia hulu. Salah satu tujuan dari pembentukan forum ini adalah untuk memberikan masukan ke Pemerintah tentang kepastian pasokan gas bagi industri.  Diharapkan melalui FIPGB ini, industri dapat menyuarakan kebutuhan bersama dengan posisi yang sama kuat dengan PGN.
 
Oleh :  Fri-27

 

(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Mei 2011)

Artikel Lainnya

  • Jan 16, 2019

    Kolaborasi dalam Sistem Rantai Nilai Pangan Berkelanjutan

    Sistem rantai nilai pangan berkelanjutan tidak akan berjalan tanpa kerja sama antara petani kecil, pelaku industri, pemerintah, dan institusi riset. ìSemua tantangan ini bisa kita jawab secara bersama-sama, untuk itu kita semua perlu untuk lebih terbuka dalam berkomunikasi, ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri. ...

  • Jan 16, 2019

    PT Abadi Nusa: Optimalkan Layanan Setelah Penjualan

    Proses atau layanan setelah penjualan (after sale services) merupakan salah satu hal penting yang dibutuhkan dan diinginkan konsumen jika akan membeli atau menggunakan suatu alat analisis. Rumit dan kendala teknis sering menjadi salah satu faktor terbesar untuk memperoleh layanan setelah penjualan.  ...

  • Jan 15, 2019

    Potensi Kearifan Lokal Indonesia

    Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pangan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Benny Pasaribu menegaskan bahwa Indonesia perlu fokus dalam membenahi agrobisnis utamanya dalam mendukung produksi bahan baku industri dari dalam negeri dengan memanfaatkan teknologi tepat guna sekaligus kearifan lokal. Kekayaan budaya Indonesia yang masih dilestarikan hingga kini menjadi sebuah optimisme dalam mengembangkan berbagai produk pangan berdaya saing global.  ...

  • Jan 14, 2019

    Menggali Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Industri Pangan

    Industri pangan memiliki nilai ekspor terbesar dalam kelompok hasil industri. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan nilainya mencapai 26.27 juta USD pada 2016. Tantangan nyata bagi agroindustri Indonesia adalah bagaimana meningkatkan keseimbangan perdagangan agroindustri, yakni membuat nilai ekspor lebih besar dari nilai impor ...

  • Jan 13, 2019

    Sistem Rantai Nilai Pangan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

    Tantangan di era 4.0 terus menjadi topik bahasan yang menarik. Kali ini dunia agrobisnis menjawabnya dengan beberapa sistem yang dapat diterapkan pada industri pangan seperti sistem rantai nilai pangan berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Dari pihak praktisi industri, General Manager Corporate Communication PT Indofood Sukses Makmur, Stefanus Indrayana memaparkan bahwa konsep sistem rantai nilai pangan berkelanjutam berbasis kearifan lokal sebagai langkah terbaik yang dapat dilakukan industri pangan untuk mencapai ketahanan dan kemandirian pangan.   ...

Finasterid Generika 1mg cialis super active online Lida Daidaihua Inhaltsstoffe Original Viagra Use Generisk finasterid ED Packs Levitra Original Kamagra Effervescent Tablets Meizitang soft gel original version Propecia For Hair Loss Viagra 50mg Generic Levitra (Vardenafil) 20mg Lida Daidaihua Lida Daidaihua Meizitang funziona Original Viagra Pills Pacchetto di prova generici Lipitor Generika Kamagra Super ingredientes activos Meizitang in Ireland