Flavor for Snack Products

Jenis makanan ringan simulasi adalah makanan ringan yang terbuat dari tepung pati-patian (serealia, umbi-umbian) dengan pencampuran bahan lain, dibentuk atau dipotong, dijemur atau dikeringkan atau langsung digoreng atau dipanggang. Produk ini tidak termasuk keripik kentang, keripik singkong atau keripik umbi-umbian lainnya. Camilan lainnya terbuat dari umbi-umbian yang digoreng langsung ataupun dipanggang. 

Rasa dari produk akhir snack atau makanan ringan merupakan atribut mutu yang paling penting. Tujuan pemberian perisa atau flavor dalam bentuk seasoning adalah untuk memberikan produk yang konsisten pada customer.  Sebagian besar makanan ringan diberi rasa asin, di mana garam merupakan pemberi rasa yang paling murah dari bahan lainnya. Biasanya konsentrasi garam pada makanan ringan berkisar antara 1.5-2.0%.
 
Selain flavor atau perisa, komponen dari bubuk seasoning untuk makanan ringan atau snack terdiri dari garam, rempah-rempah, penambah rasa atau flavor enhancer, carrier seperti dekstrin, tepung whey, pati singkong, dan lain-lain Pada Gambar 1 ditunjukkan piramid seasoning dan contoh komposisi seasoning untuk dry powder coating maupun oil slurry coating.  
 
Metode aplikasi bumbu pada makanan ringan
Makanan ringan modern yang banyak diproduksi oleh industri pangan terdiri atas “extrusion” atau hasil proses ekstrusi, “sheeted dough” atau adonan yang diaduk lalu dibuat lembaran dan dicetak untuk menjadi pellet kering, “tuber plant chips” yang merupakan hasil goreng dari  umbi-umbian yang diiris tipis seperti keripik kentang dan singkong dan yang terakhir adalah kacang-kacangan.  Pada Gambar 2 ditunjukkan proses produksi makanan ringan.
 
 
Secara umum proses terakhir sebelum makanan ringan diberi pelapisan bumbu atau ‘coating’ biasanya adalah proses penggorengan dengan minyak atau proses pengeringan dengan udara panas atau dengan media pasir atau garam sebagai penghantar panas.
 
Kandungan minyak pada makanan ringan yang dibuat melalui proses penggorengan biasanya berkisar antara 15-40%.  Setelah digoreng, biasanya makanan ringan ditiriskan untuk mengurangi minyak goreng  kemudian diikuti dengan proses ‘coating’.  
 
Sisa minyak pada permukaan makanan ringan, akan memudahkan penempelan bubuk seasoning pada hasil penggorengan tersebut.  
 
Oleh karena itu makanan ringan hasil penggorengan hanya memerlukan bumbu seasoning yang berbentuk bubuk dan proses coating dilakukan dalam drum yang bersifat batch coating pan atau continuous horizontal coating drum.  Pada umumnya, pellet yang digoreng mempunyai densitas kamba yang lebih berat sedangkan pellet yang dikeringkan dengan oven mempunyai densitas yang lebih tinggi atau kamba karena mengandung banyak rongga udara. Semakin rendah densitas dari makanan ringan tersebut, maka semakin tinggi aplikasi seasoning yang diperlukan untuk memberi rasa yang merata.  Untuk produk kacang-kacangan dengan densitas yang cukup tinggi, maka bumbu seasoning diaplikasikan pada komposisi 3-5%.
 
Penggunaan minyak pada proses penggorengan dapat  memperkaya aroma dan menambah rasa gurih.  Namun jika penanganan minyak goreng pada proses penggorengan tidak baik, maka proses ketengikan pada minyak goreng dapat memberi efek negatif terhadap masa simpan dan rasa dari makanan ringan tersebut.
Pelapisan pada makanan ringan dengan proses akhir pengeringan, memerlukan media minyak untuk mensuspensikan bubuk seasoning sehingga bisa melapis hasil ekstrusi dengan permukaan yang luas secara merata.  Selain itu suspensi minyak akan membantu penyerapan seasoning ke dalam pori-pori makanan ringan tersebut.  Minyak goreng juga menambah kegurihan dan lubrikasi dari tekstur yang kering.  Jenis pelapisan ini disebut dengan “oil slurry” karena suspensi bumbu dengan minyak yang berbentuk seperti lumpur dengan sifat alir yang lancar sehingga bisa dipompa melalui nozzle alat penyemprot.
 
Komposisi oil slurry ini berkisar antara 30-50% dari berat makanan ringan ekstrudat yang akan dilapisinya tergantung dari konsentrasi rasa yang terdapat dalam slurry tersebut; sedangkan komposisi seasoning bubuk di dalam minyak adalah 20-40%.  Flavor yang digunakan sebaiknya bersifat larut lemak agar mudah terdistribusi rata oleh minyak yang melapisi seluruh permukaan makanan ringan.
 
Jenis pelapisan atau coating pada kacang-kacangan yang lain adalah larutan bumbu dalam air dengan bantuan pati untuk melekatkan bumbu pada kacang setelah hasil pelapisan dikeringkan pada oven (lihat Gambar 2).
 
Tren flavor pada seasoning makanan ringan
Konsep makanan ringan sebagai camilan adalah ‘tidak berhenti makan sampai potongan terakhir’ berarti rasa yang diaplikasikan harus bisa memberikan rasa yang tidak membosankan, serta memberi rasa ketagihan untuk makan terus.  Rasa makanan ringan yang banyak beredar di Indonesia dapat dibagi menjadi 5 kategori besar yaitu rasa asli (biasanya untuk bahan dasar yang ingin ditonjolkan rasa aslinya seperti keripik kentang dan keripik singkong), rasa daging sapi, rasa daging ayam, rasa keju dan rasa makanan laut atau seafood.  
 
Keempat rasa yang terakhir seringkali dikombinasikan dengan bumbu-bumbu kuliner tertentu seperti bawang merah, bawang putih, barbecue dan lada hitam. Sedangkan untuk makanan laut, rasa rumput laut atau seaweed masih merupakan rasa yang paling umum dan bisa diterima oleh konsumen Indonesia walaupun rasa rumput laut ini diadopsi dari rasa makanan ringan yang banyak terdapat di Jepang atau Korea.
 
Scott Harris, bagian pemasaran dari sebuah perusahaan flavor membagi faktor penentu dari flavor makanan ringan menjadi 5 bagian, yaitu : 1) Ethnic atau kesukuan, 2) kembali ke dasar, 3) kesehatan, 4) teknik penyampaian flavor atau perisa, dan 5) mengkombinasikan rasa manis pada flavor savory atau asin, gurih dan berbumbu.
Pada beberapa negara, rasa-rasa ethnic tertentu yang dikenal dan disukai dari masakan daerahnya seringkali diaplikasikan untuk makanan ringan, seperti Szechuan Beef dari Cina, Mediteranean Shrimp yang diwarnai oleh rasa minyak zaitun, rasa Tom Yum dari Thailand, dan sebagainya.  Rasa-rasa tersebut diambil dari rasa masakan tradisional di negara-negara tertentu dengan mengkombinasikan rasa dasar flavor tertentu, seperti rasa daging bakar dengan sensasi bumbu-bumbu yang dipakai dalam makanan tersebut.
 
Produk keripik kentang di Amerika sudah banyak kembali ke cara proses yang lama seperti slow cook di mana proses produksi menggunakan cara menggoreng dengan suhu rendah dalam waktu yang lama dan kondisi vakum sehingga rasa asli dari bahan baku kentang masih bisa dipertahankan. Cara masak tersebut bertujuan akhir untuk mempertahankan gizi yang terdapat pada kentang. Modifikasi dari proses penggorengan modern diubah ke cara yang lama dan praktek ini tergolong kepada kategori “kembali ke dasar”.
 
Pernyataan komposisi bahan baku pada label produk yang bebas dari bahan baku yang terkesan buatan atau artificial lebih disukai oleh konsumen makanan ringan di negara-negara maju yang sudah bisa membaca dan mengerti informasi pada kemasan dan sudah memahami makanan yang cocok bagi kesehatan masing-masing.  Pernyataan atau klaim-klaim kesehatan seperti rendah lemak, tanpa kolesterol, rendah sodium atau rendah garam dan tidak mengandung trans fat semakin diperhatikan oleh masyarakat di negara-negara maju atau untuk segelintir konsumen dengan problem kesehatan tertentu. Hal tersebut sangat berpengaruh terhadap flavor dan seasoning yang akan diaplikasi pada makanan ringan sehingga diperlukan strategi yang baik dalam mengembangkan komposisi formula seasoning maupun produk akhir makanan ringan itu sendiri.
 
Dari sisi teknis penggunaan perisa dalam makanan ringan, perlu mempertimbangkan waktu perisa tersebut diharapkan untuk menampilkan sensasinya. Dengan teknik enkapsulasi komponen flavor, maka sensasi rasa yang ditimbulkan dapat diatur waktu ke luarnya berdasarkan saat awal dikunyah, pertengahan maupun memberi sensasi rasa yang sangat lama setelah makanan tersebut dikunyah dan ditelan. Teknik ini baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir setelah teknik enkapsulasi flavor dikembangkan.
 
Kombinasi rasa savory makanan ringan dengan sensasi manis juga bisa memberikan penampilan rasa yang segar seperti memasukkan rasa buah-buahan seperti nanas yang asam dan manis ke rasa barbeque atau daging bakar. Sedikit sentuhan rasa manis vanila yang dikombinasikan dengan rasa sup ayam dapat bisa memberikan kesan harum. 
 
 
Referensi:
  • Food processing Technology. P Fellows - CRC Press 2000 
  • Snack food processing. Raymond W Lusas & lloyd W Rooney. CRC Press 2001
  • Flavorings. Edited by Erich Ziegler & Herta Ziegler. Wiley-VCH 1998
  • Handbook of Industrial Seasoning. Edited by EW Underriner & friends
  • Perfumer & flavorist magazine . Scott Harris - 2007

 

Sumber : Patricia R. Tobing
                 Technical Director
                 PT Nestlé Indofood Citarasa Indonesia

 

(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Mei 2011)

Artikel Lainnya

  • Apr 23, 2018

    Perubahan Tekstur Cokelat selama Proses Conching

    Seperti diketahui bahwa pada tahap awal proses conching terbentuk gumpalan berbentuk bola-bola kecil. Pada proses penghalusan, baik pada gula maupun susu akan terjadi perubahan bentuk amorf dari partikel gula dan partikel susu. ...

  • Apr 23, 2018

    Perbedaan Kandungan Komponen Gizi Susu Kambing dan Susu Sapi

    Susu kambing  mengandung protein kasein lebih rendah, sehingga tinggi proporsi protein serum yang menyebabkan lebih mudah dicerna daripada susu sapi. Susu kambing dan kolostrumnya kaya poliamin dibanding susu dari mamalia lain,  sehingga susu kambing merupakan sumber poliamin yang sangat bagus bagi bayi.  Poliamin penting untuk pertumbuhan optimal, fungsi  sel saluran cerna,  maturasi enzim-enzim saluran cerna dan mempunyai implikasi dalam mengurangi insiden alergi pangan pada bayi (Vaquil and Rathee, 2017).  ...

  • Apr 22, 2018

    Perlu Pencegahan Oksidasi Pada Produk Daging

    Produk daging termasuk daging merah dan daging olahan merupakan produk pangan yang memiliki banyak kandungan gizi yang menjadi sumber tinggi akan protein. Selain itu, daging memiliki banyak zat gizi yang baik bagi kesehatan karena adanya asam amino esensial yang lengkap dan seimbang, air, karbohidrat, dan komponen anorganik lainnya. Meskipun demikian, konsumsi daging merah pada khususnya dihubungkan dengan beberapa penyakit degeneratif seperti jantung koroner dan beberapa tipe penyakit kanker. Tidak hanya pada daging segar, produk daging olahan seperti sosis dan ham menghasilkan senyawa kimia beracun seperti karsinogen dan menyebabkan mutasi gen selama proses pengolahannya yang meliputi proses pengasapan, fermentasi, maupun pengolahan dengan panas.  ...

  • Apr 21, 2018

    Menjamin Kemasan Halal untuk Produk Pangan

    Wakil Ketua Asosiasi Industri Olefin, Aromatik dan Plastik Indonesia (INAPLAS), Edi Rivaíi mengatakan bahwa produk pangan halal tidak hanya berdasarkan ingridien dari pangan tersebut, namun status halal juga harus dipenuhi oleh kemasan yang digunakan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam lingkup kemasan halal meliputi sertigikasi halal dalam kemasan, metode yang halal dalam penanganan produk dan ketertelusuran halal dalam bahan kemasan. ...

  • Apr 21, 2018

    Nilai Fungsional Tempe Multigrain

    Terdapat berbagai komponen bioaktif yang terdapat pada beberapa multigrain tempe. Pada tempe yang terbuat dari Oat dan Barley, adanya variasi proses pengolahan akan memengaruhi kandungan mineral dan juga asam fitat (Sandberg dkk., 2006). ...