Kemasan Aseptik Diperkirakan Tumbuh 24% dalam 5 Tahun Ke depan


Pasar global untuk produk  yang dikemas secara aseptik berjumlah 123 miliar liter dalam 269 miliar kemasan selama 2011 berdasarkan the new Global Packaging report dari Zenith International dan ahli pengemasan Warrick Research. Nilainya meningkat 5% sejak 2008, dengan Asia Tenggara yang paling cepat pertumbuhannya, yakni 22% per tahun.

Minuman susu putih menyumbang 39% dari produk kemasan aseptik, produk minuman menyumbang angka hingga 37%. Pengisian secara aseptis secara signifikan berdampak pada pasar pangan, tetapi ada aplikasi yang sesuai untuk aseptic fiiling ini yakni untuk produksi saus, produk tomat dan makanan bayi.

“Pasar untuk kemasan aseptik berkembang di Eropa dan industri pen-supply berpusat di Eropa. Report tersebut menunjukkan pasar bergeser ke Asia 4 tahun terakhir dan meningkat prospeknya hingga 5 tahun ke depan,” kata David Warrick, Director of Warrick Research Ltd. “Saat resesi ekonomi yang terjadi di sebagian dunia, pasar kemasan aseptik berkembang hingga 5% per tahun untuk 4 tahun ke belakang seiring dengan majunya teknologi untuk memenuhi supply yang dibutuhkan untuk pasar baru dan aplikasinya,” tambah Esther Renfrew, Market Intelligence Director at Zenith International Ltd. 

Di tahun 2012, Zenith dan Warrick memperkirakan pasar kemasan aseptik dunia akan meraih 153 miliar liter atau dalam 33 miliar kemasan. Mayoritas, permintaan akan datang dari Asia Selatan/Asia Tenggara dan China, dengan perkiraan pertumbuhan 11% per tahun dan 3,5% per tahun untuk masing-masing.

Global Aseptic Packaging report 2012 yang dilakukan oleh Zenith dan Warrick, terdiri dari 668 halaman, detail studi dilakukan pada kemasan aseptik di 35 negara untuk produk susu, minuman dan produk lain (dengan data 2008 & 2011, 2012 dan perkiraan 2016) dan report teknikal lebih dari 40 supplier mesin filling. Ita

Artikel Lainnya

  • Jun 19, 2018

    Praktek higiene dan sanitasi dalam penanganan susu segar

    Berdasarkan standar kualitas susu segar (SNI 31411:2011) jumlah mikroba maksimum yang diperbolehkan adalah 1 juta koloni per mililiter (10 CFU/mL). Oleh sebab itu, susu segar pada umumnya akan mengalami kerusakan setelah 4-5 jam pada suhu kamar. Untuk menghasilkan susu segar dengan angka mikroba yang rendah harus dimulai dengan praktek higiene dan sanitasi yang baik sebelum pemerahan, saat pelaksanaan pemerahan, hingga penanganan pasca pemerahan. Pada waktu masih di dalam tubuh dan ambing ternak yang sehat, susu masih dalam keadaan steril. Kontaminasi mikroba di dalam susu terjadi pada saat proses pemerahan, yaitu berasal kulit tubuh ternak khususnya bagian seputar ambing dan puting, dari tangan pemerah, dari wadah/ peralatan penampungan susu, dan lingkungan tempat pemerahan. ...

  • Jun 18, 2018

    Potensi pemanfaatan peptida bioaktif dalam produk susu

    Meningkatnya perhatian akan hubungan asupan pangan terhadap kesehatan membuat konsumen menginginkan produk pangan yang bisa bermanfaat dalam mencegah  munculnya penyakit serta secara sinergi meningkatkan status kesehatan. Protein merupakan salah satu zat gizi utama yang terdapat dalam asupan harian dan di samping  perannya dalam menyuplai gizi, protein juga mempunyai komponen fungsional yang memiliki fungsi positif bagi tubuh, yaitu berupa peptida bioaktif (bioactive peptide). ...

  • Jun 15, 2018

    Perancangan proses pengolahan susu untuk mengantisipasi ancaman foodborne pathogen

    Penyakit yang disebabkan oleh patogen (foodborne pathogen) masih menjadi permasalahan hampir di seluruh negara secara global. Penyakit  tersebut paling sering disebabkan oleh mikrobiologi seperti bakteri dan metabolitnya serta virus dan toksinnya.  ...

  • Jun 14, 2018

    Penggunaan laktoperoksidase untuk pengawetan susu segar

    Dewasa ini telah dikembangkan suatu metode pengawetan susu segar dengan cara mengaktifkan enzim laktoperoksidase (LPO) yang secara alami sudah ada di dalam susu. LPO merupakan salah satu dari puluhan jenis enzim di dalam susu segar dengan berat molekul berukuran sedang (78.000 Dalton) dan mengandung karbohidrat sekitar 10%. Di samping ada di dalam susu segar, LPO juga ditemukan pada cairan tubuh hewan mamalia dan manusia, seperti pada saliva dan kolostrum. Metode pengaktifan LPO untuk pengawetan susu segar dikenal dengan sebutan lactoperoxydase-system atau sistem laktoperoksidase (Sistem-LPO). Aktifnya LPO di dalam susu dapat menghasilkan efek antibakteri pada susu segar (Legowo et al., 2009). ...

  • Jun 13, 2018

    Pengembangan Produk Probiotik Non-Dairy

    Kandylis dkk. (2016) Konsumsi produk susu fermentasi selama ini seperti yogurt, kefir,  acidophilus milk, dan bifidus milk berhubungan dengan manfaat kesehatan seperti telah dijelaskan sebelumnya. Di sisi lain, isu tentang vegetarian dan mengurangi konsumsi susu juga meningkat di beberapa negara sehingga dikembangkan produk probiotik non-dairy. Sebagai alternatif ingridien dairy, produk probiotik jenis ini juga mempunyai nilai ekonomi yang  lebih terjangkau dibandingkan susu. Probiotik non-dairy juga bukan produk baru karena terdapat beberapa produk fermentasi berbasis buah dan sayur, serta sereal yang telah lama diproduksi secara tradisional di beberapa negara. ...