Seminar Future of Food Factors


Bersamaan dengan Pameran Food Ingredients Asia di Jakarta International Expo, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) bekerja sama dengan SEAFAST Center serta Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB menyelenggarakan International Conference bertajuk Future of Food Factors. Menurut Ketua Umum PATPI, Dr. Dahrul Syah, tujuan diadakannya seminar bersamaan dengan FIA adalah untuk memberikan kesempatan kepada para akademisi dan peneliti untuk mengamati secara langsung perkembangan inovasi produk dan bisnis yang terjadi dalam industri. "Sehingga diharapkan terjadi sinergisme mutualisme antara peneliti dan industri," tutur Dahrul. Sementara itu, Kepala Badan POM RI Dra. Lucky S. Slamet, Apt. MSc., yang hadir sebagai key note speaker mengajak para ahli teknologi pangan untuk turut serta mendukung tercapainya keamanan pangan di Indonesia.

Dalam kesempatan yang sama, General Manager Trilogy Essential Ingredients Inc., John L. Cavallo menjelaskan mengenai mikro dan nanoemulsi. Menurutnya kedua sistem tersebut dapat mempengaruhi pengembangan produk dalam suatu industri. "Karakter fisik dan ukuran partikel dapat menyebabkan terbentuknya sistem emulsi yang unik," kata John. Sistem ini banyak digunakan oleh industri. "Misalnya nanoemulsi yang berperan dalam meningkatkan bioavailabilitas tocotrienol, atau mikroemulsi yang dimanfaatkan dalam meningkatkan stabilitas flavor," tambah John.

Seminar yang rencananya akan diselenggarakan selama dua hari ini (3-4/10) menghadirkan berbagai pembicara ahli dari dalam dan luar negeri. Selain itu, juga akan diselenggarakan Kongres PATPI guna memilih Ketua Umum untuk periode dua tahun mendatang. @hendryfri

Artikel Lainnya

  • Mei 26, 2018

    Tantangan penerapan industri 4.0 di Indonesia

    Penerapan industri 4.0 di beberapa negara memiliki caranya masing-masing yang disesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan di negara tersebut. Penerapan industri 4.0 di suatu negara bertujuan untuk meningkatan perekonomian suatu negara. Di Indonesia, industri pangan merupakan industri yang digadang-gadang sebagai industri yang menerapkan industri 4.0. ...

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...