Mangga, Potensi yang Siap Dikembangkan


Mengonsumsi buah menjadi anjuran dalam pola hidup sehat. Dalam konsep gizi seimbang yang direkomendasikan oleh para ahli gizi, kita setidaknya mengonsumsi buah 2-3 porsi sehari (lihat Gambar 1). Hal ini dikarenakan buah berkontribusi penting terhadap zat gizi makro, mikro, serat, dan juga air. Nah, salah satu buah favorit dan dekat dengan masyarakat Indonesia adalah mangga.





Mangga (Mangifera indica L.) sebenarnya bukan cuma populer di Indonesia. Buah eksotis ini pun juga banyak diminati di berbagai negara maju dunia. Menurut Edward A. Evans dari University of Florida dalam sebuah papernya, mangga diproduksi lebih dari 90 negara dunia, dimana sebagian besar berasal dari benua Asia (77% dari total produksi global), serta benua Amerika dan Afrika yang masing-masing 13% dan 19%. Lebih lanjut Edward menjelaskan bahwa pada 2005 produksi mangga dunia mencapai 28,51 juta metric ton. Dan selama 1996 - 2005, terjadi pertumbuhan produksi rata-rata 2.6% per tahunnya. Indonesia termasuk dalam lima besar penghasil mangga dunia, setelah India, Cina, Thailand, dan Meksiko. Data dari BPS menunjukkan bahwa pada 2010, Indonesia memproduksi mangga sebanyak 1.287.287 ton. Nilai tersebut merupakan produksi buah nasional terbesar keempat setelah pisang, jeruk, dan nanas. Sentra buah mangga terletak di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Nusa Tenggara Barat.





Sayangnya, Indonesia tidak termasuk dalam 10 negara pengekspor mangga terbesar. Padahal peluang pasar mangga cukup besar. Indonesia masih mengekspor mangga dalam bentuk segar dengan volume cukup kecil -yakni hanya 7,1% dari ekspor buah segar total pada 2006. Ekspor buah mangga biasanya dilakukan dengan cara pemberian lapisan lilin yang dikombinasikan dengan penyimpanan dingin -setelah mengalami adaptasi. Itupun, sering terjadi penolakan akibat adanya chilling injury yang diakibatkan kesalahan selama persiapan. Sedangkan dari segi olahan, produk olahan mangga baru berkontribusi 0,22% dari total ekspor produk olahan buah Indonesia di 2006.

Keunggulan mangga
Begitu populernya mangga di dunia internasional bukanlah hal yang aneh mengingat manfaatnya bagi kesehatan. Kandungan gizinya cukup bervariasi tergantung varietasnya. Namun secara umum, mangga memiliki kandungan energi, serat, dan vitamin C yang baik (lihat Tabel).

Tabel. Kandungan gizi mangga per 100 g

Energi

236 kj

Protein

1.0 g

Lemak

0.2 g

Karbohidrat

12.6 g

Gula

12.1 g

Serat pangan

1.5 g

Sodium

1.0 mg

Potassium

250 mg

Kalsium

7 mg

Vitamin C

28 mg

(Sumber: FSANZ, 2007)

 


Sumber energi dari mangga terutama berasal dari fruktosa. Kecukupan energi sangat penting untuk menunjang aktivitas tubuh sehari-hari. Sedangkan untuk serat pangan, terdapat dua jenis, yakni serat pangan larut air (soluble dietary fiber, SDF) dan serat pangan tidak larut air (insoluble dietary fiber, IDF). SDF berperan dalam menurunkan kadar kolesterol. Sedangkan IDF, berfungsi meningkatkan volume feses untuk melancarkan buang air besar.

Vitamin C merupakan zat gizi mikro dengan daya antioksidan yang kuat. Sehingga penting menetralkan radikal bebas. Tidak hanya itu, vitamin C juga memiliki fungsi dalam mendukung kesehatan jaringan tubuh, mengikat sel atau jaringan yang satu dengan lainnya, memperbaiki daya serap zat besi, serta lainnya.

Keunggulan lain mangga adalah flavor (cita rasa) dan teksturnya. Dalam dunia kuliner, mangga sering digunakan sebagai bahan utama, misalnya rujak, asinan, sambal mangga, dan lainnya. Berbagai hotel dan restoran pun, kini juga mulai banyak menggunakan mangga sebagai campuran salad dalam resepnya.

Secara modern, mangga juga sudah diolah lebih lanjut menjadi aneka macam produk, seperti permen, jam, jus, buah kaleng, serta lainnya. Bahkan mangga juga sudah diolah menjadi ingridien pangan, seperti puree dan flavor.

Mengingat begitu berharganya mangga, - pemerintah, konsumen, dan swasta, sudah selayaknya lebih serius menangani komoditas ini. Salah satunya dengan peningkatan produktivitas. Saat ini, sebagian besar mangga belum ditanam secara profesional, masih dibudidayakan di tingkat rumah tangga. Dengan peningkatan nilai ekonomi mangga, tentu akan merangsang petani untuk menanam mangga, seperti halnya menanam sawit.

Selain itu, penanganan pasca panen juga perlu diperhatikan. Mangga harus dipanen dengan tingkat kematangan standar dan diperlakukan dengan menerapkan good handling practices. Beberapa tips dalam penanganan mangga antara lain sebagai berikut:

- Setelah penerimaan, segera simpan mangga pada suhu dingin, 54 - 60 oC
- Jangan pernah menyimpan mangga di bawah suhu 50 oC
- Jaga kelembaban pada nilai Rh 90-95%
- Kurangi kandungan etilen pada ruang pendingin
- Minimalkan paparan udara panas pada saat loading dan uloading
- Gunakan mangga yang pertama kali diterima atau paling matang
- Jangan melempar atau membenturkan mangga.

Dengan penanganan mangga yang baik, ditambah lagi penghargaan konsumen yang tinggi terhadap buah tersebut, maka bukan tidak mungkin mangga akan menjadi buah identitas bangsa. Apalagi, iklim dan tanah di Indonesia sangat mendukung untuk tumbuh kembang buah mangga. @hendryfri

Artikel Lainnya

  • Ags 17, 2018

    Jenis-Jenis Teknologi Plasma untuk Produk Minuman

    Teknologi plasma dibagi menjadi dua jenis yakni denominated nonthermal plasma (NTP) atau plasma dingin (cold plasma) dan thermal plasma. Plasma dingin dihasilkan pada suhu 30-60OC di bawah tekanan atmosfer atau ruang hampa (vacuum) dan membutuhkan lebih sedikit daya. Hal tersebut sangat sesuai jika diaplikasikan pada produk yang sensitif pada panas karena ion dan molekul yang tidak bermuatan mendapatkan sedikit energi dan stabil pada suhu rendah.  ...

  • Ags 16, 2018

    Teknologi Plasma Dingin Pada Minuman Susu dan Jus

    Umur simpan yang panjang pada produk susu khususnya banyak dipengaruhi oleh keberadaan bakteri di dalam produk. Proses thermal dapat meningkatkan keamanan mikrobiologis pada produk susu, namun proses tersebut juga dapat merusak unsur sensori, zat gizi, dan beberapa psysicochemical lainnya (Misra dkk, 2017). Penggunaan proses nonthermal dapat memenuhi aspek keamanan pangan suatu produk serta dapat meningkatkan kateristik sensori dan zat gizi serta dapat menjaga senyawa-senyawa bioaktif yang tidak stabil. Beberapa metose proses nonthermal yang dapat diaplikasikan diantaranya adalah proses tekanan tinggi (high hydrostatic pressure), ultrasound, supercritical carbon dioxide technology, irradiasi, dan plasma dingin.  ...

  • Ags 15, 2018

    Tantangan Produk Minuman Dalam Menggunakan Protein

    Tantangan terhadap produk minuman susu dengan penggunaan protein adalah stabilitas protein. Salah satu cara untuk menjaga stabilisasi pada protein di produk susu adalah dengan menggunakan salah satu hidrokoloid yakni microcrystalline cellulose (MCC). MCC adalah selulosa yang dimurnikan dan sebagian dipolimerasi yang dibuat dengan perlakuan terhadap alpha-cellulose yang diperoleh dari serbuk kayu dan asam mineral. Terdapat dua jenis MCC yang digunakan sebagai ingridien pangan yakni MCC bubur: MCC murni dan MCC koloidal atau MCC yang diproses dengan larutan hidrokoloid seperti gum selulosa.  ...

  • Ags 14, 2018

    Perpaduan Protein Pada Produk Minuman Ringan

    Penggunaan perpaduan antara protein hewani dan protein nabati untuk digunakan dalam suatu produk pangan juga dapat memberikan cita rasa serta manfaat kesehatan yang berbeda. Perpaduan antara protein dari kedelai dan produk dairy akan meningkatkan nilai ekomonis, memperbaiki cita rasa, menyeimbangkan volatilitas tanpa memengaruhi kualitas protein. Sedangkan pada perpaduan kedelai dengan tanaman lain dapat meningkatkan kualitas protein, menambahkan manfaat kesehatan serta dapat menyeimbangkan fungsionalitas dari suatu produk.  ...

  • Ags 13, 2018

    Meningkatkan Cita Rasa Produk Minuman dengan Kombinasi Protein

    Protein menjadi salah satu zat gizi yang sering ditambahkan dalam beberapa produk pangan. Penambahan tersebut tidak lain untuk memenuhi permintaan konsumen terhadap produk pangan yang dapat memberikan manfaat kesehatan untuk tubuh. Dalam persepsi konsumen, protein memberikan manfat untuk beberapa hal seperti untuk pertumbuhan otot, meningkatkan energi, pertumbuhan anak, dan dapat mencegah sarcopenia. Dari persepsi tersebut, protein menjadi salah satu ingridien yang potensial untuk dikembangkan menjadi bahan tambahan pada produk pangan.  ...