Tiga Faktor Utama dalam Pembuatan Kecap


 

Kualitas kecap yang baik dipengaruhi paling tidak oleh tiga faktor utama, kualitas bahan baku yang digunakan, bagaimana proses produksi yang dilakukan serta cara pengemasan produk akhir.   Hal tersebut diungkapkan oleh Dr. Ir. Wahyu Supartono, ahli teknologi pangan dari Universitas Gadjah Mada pada 20 Maret lalu dalam sebuah acara yang diselenggarakan oleh kecap ABC.   “Berkenaan dengan bahan baku, perlu diketahui bahwa sebelum dicampur dengan bahan-bahan yang lain, kedelai perlu dibersihkan dari sisa tanaman, kotoran, kerikil, hama dan selanjutnya direndam, direbus agar menjadi lunak, serta melalui dua tahap fermentasi selama total 1-5 bulan dalam tangki khusus yang dijaga suhu dan kelembabannya untuk menghasilkan ekstrak kecap. Kesalahan dalam melakukan proses ini akan menyebabkan kecap tidak jadi. Kemudian bahan baku kedua adalah gula merah yang harus memiliki kualitas bagus, karena gula merah ini membentuk cita rasa dan aroma serta memberi warna kehitaman pekat pada kecap, bukan kedelai seperti banyak persepsi yang beredar di masyarakat saat ini,”   tuturnya.

Ekstrak kecap atau disebut juga moromi akan disaring atau diekstraksi untuk memisahkan filtrat dan ampasnya. Filtrat ini selanjutnya diolah atau dimasak serta dicampuri dengan  gula merah serta bahan-bahan tambahan lainnya dengan komposisi yang tepat, sehingga akan dihasilkan kecap yang berkualitas. Kecap ini kemudian dikemas secara higienis dan sebaiknya tanpa bersentuhan dengan tangan manusia ke dalam kemasan botol kaca atau plastik. Hal ini juga memegang peranan penting karena dapat menentukan bagaimana hasil akhir kecap, termasuk rasa, warna serta hal yang baik terkandung di dalamnya, tetap terjaga sampai ke tangan konsumen,” tambah Wahyu.  @hendryfri

Artikel Lainnya

  • Mei 26, 2018

    Tantangan penerapan industri 4.0 di Indonesia

    Penerapan industri 4.0 di beberapa negara memiliki caranya masing-masing yang disesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan di negara tersebut. Penerapan industri 4.0 di suatu negara bertujuan untuk meningkatan perekonomian suatu negara. Di Indonesia, industri pangan merupakan industri yang digadang-gadang sebagai industri yang menerapkan industri 4.0. ...

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...