Isu Terbaru Mikrobiologi Keamanan Pangan




Keamanan mikrobiologi pangan merupakan kondisi yang dinamis yang dipengaruhi oleh banyak faktor sepanjang rantai pangan, tak terkecuali di Indonesia. Walaupun praktek pengolahan pangan berkembang namun beberapa mikroba seperti Salmonella spp dan Eschericia coli mampu berevolusi untuk dapat mengeksploitasi opportunity baru, misalnya produk segar yang resisten terhadap antimikroba. Beberapa karakterisitik emerging patogen hampir semuanya bersifat zoonosis, patogennya menyebar ke seluruh dunia dengan cepat serta meningkatnya ketahanan terhadap antibiotik. Patogen yang kasusnya meningkat dalam 2 dekade yaitu Norovirus.

Penyebab utamanya adalah gastroenteritis pada semua umur, menyebabkan >90% infeksi non bakteri dan penyebab 50% epidemi gastroenteritis di seluruh dunia. Di Indonesia ada beberapa kasus emerging patogen, misalnya pada daging cincang tahun 2000 di temukan E. Coli O157 : H7, tahun 2008 Chronobacter ditemukan oleh BPOM. Sebelum tahun 2008 mikroba ini belum di daftarkan oleh WHO sebagai indikator keamanan pangan pada produk berbasis powder,” tutur Lilis dalam seminar Update On Microbiological Food Safety Issues yang diselenggarakan oleh Becton Dickinson (BD) & Menjangan Sakti (Mensa) di Jakarta, 7 Mei lalu.

Dalam kesempatan yang sama, Staf Lab Mikrobiologi PPOMN BPOM Eni Cahyaningsih, MSi memaparkan tentang potensi bahaya mikrobiologis dan jumlah mikroba food borne. Yang bisa ditandai dengan gejala infeksi dan intoksikasi. “Gejala infeksi dan Intoksikasi berbeda, jika terjadi infeksi, mikroba masuk ke dalam tubuh langsung sedangkan Intoksikasi, toksin berada di makanan yang meningkat saat kita konsumsi, sehingga langsung terdapat efeknya pada tubuh,” ujarnya. Untuk itu ada beberapa faktor yang memicu potensi bahaya dalam makanan, yaitu di setiap tahap bahan makanan bisa terjadi kontaminasi bahan baku dan air, kurangnya tingkat sanitasi di semua tahapan proses dan lingkungan pengolahan, kurangnya kontrol preventif dalam pengolahan makanan dan operasi persiapan, atau tidak memadai/tidak layaknya tempat penyimpanan. Perlu pendekatan umum atau spesifik dalam memproduksi makanan terhadap adanya risiko (hazard), misalnya.

Sementara itu, Application Manager Becton Dickinson (BD) Asia Pacific, Tom Sun MSc., mengulas tentang metode analisa mikrobiologi & media yang cocok untuk masing-masing jenis mikroba. “Pengembangan metode selalu dipacu karena permintaan untuk pengujian yang lebih cepat, murah, lebih mudah dan lebih akurat,” ujar Tom. Pengujian model lama terlalu banyak langkah yang harus dipakai sehingga memicu sel mikroba menjadi stress. Untuk itulah dikembangkan metode-metode yang bisa mengefisienkan dengan adanya berbagai media. Afrilia

Artikel Lainnya

  • Mei 26, 2018

    Tantangan penerapan industri 4.0 di Indonesia

    Penerapan industri 4.0 di beberapa negara memiliki caranya masing-masing yang disesuaikan dengan kesiapan dan kebutuhan di negara tersebut. Penerapan industri 4.0 di suatu negara bertujuan untuk meningkatan perekonomian suatu negara. Di Indonesia, industri pangan merupakan industri yang digadang-gadang sebagai industri yang menerapkan industri 4.0. ...

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...