Mahasiswa IPB Raih Prestasi dalam Developing Solutions for Developing Countries Competition (DSDC) di Chicago




Dua tim mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Departemen llmu dan Teknologi Pangan, Fakultas TeknologiPertanian, Institut Pertanian Bogor (IPB) meraih penghargaan dalam Developing Solutions for Developing Countries Competition (DSDC) di Chicago, Amerika Serikat pada 15 Juli 2013 lalu. Kompetisi tingkat internasional bidang teknologi pangan yang diselenggarakan oleh Institute of Food Technologists Student Association tersebut merupakan salah satu chapter di bawah Institute of Food Technologists. Kedua tim mahasiswa yang berhasil menjadi pemenang untuk kategori peserta internasional tersebut adalah tim "MASOCA-Ball" yang beranggotakan Ardiyansah Mallega, Stella Denissa dan Alviane Leonita sebagai pemenang kedua. Adapun tim “SWEEPO” yang beranggotakan Veni Issani, Cynthia, dan Jian Septian, meraih juara ketiga. Pemenang pertama adalah tim EnerTEIN yang beranggotakan 6 orang mahasiswa pascasarjana dari Universiti Putra Malaysia. Para mahasiswa IPB
 yang meraih penghargaan tersebut diperkenalkan kepada masyarakat bersamaan dengan acara buka puasa bersama Nutrifood Indonesia di Jakarta pada 23 Juli lalu.

Angelique Dewi Permatasari, Head of Marketing Communication Nutrifood mengatakan, Nutrifood mendukung penuh keikutsertaan tim mahasiswa Teknologi Pangan IPB pada DSDC, karena karena keikutsertaan mahasiswa Indonesia dalam ajang kompetisi internasional tersebut sejalan dengan misi Nutrifood, yakni Inspiring a Nutritious Life. "Dengan adanya penemuan-penemuan di bidang pangan ini sesuai dengan apa yang telah kami lakukan yaitu senantiasa memberikan solusi yang inovatif untuk hidup yang lebih sehat dan berkualitas," kata Angelique. Selama ini, Nutrifood berfokus pada pengembangan produk pangan untuk kesehatan, dengan tim research center-nya yang terdiri dari para peneliti yang mempelajari perkembangan ilmu pangan terbaru.

Dr Ir Feri Kusnandar Hidayat M.Sc, Ketua Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB yang merupakan dosen pembimbing para mahasiswa selama mengikuti kompestisi menjelaskan, DSDC bertujuan untuk menggali konsep dan pemikiran dari mahasiswa terhadap permasalahan pangan yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. Melalui kompetisi ini juga penemuan-penemuan mahasiswa IPB yang sudah diapresiasi secara internasional tentu menjadi kebanggaan tersendiri bahwa Indonesia mampu melahirkan peneliti-peneliti yang berkualitas dan bisa bersaing secara global.

Kompetisi internasional DSDC-IFTSA merupakan salah satu kompetisi tahunan yang diselenggarakan oleh IFTSA dalam rangkaian acara tahunan “IFT Annual Meeting and Food Expo” yang terbuka untuk diikuti oleh mahasiswa program sarjana atau pascasarjana baik dari domestik Amerika Serikat maupun internasional. Pada tahun 2013 ini, merupakan yang kelima kalinya diselenggarakan dan setiap tahunnya panitia DSDC-IFTSA menetapkan tema tertentu. Pada tahun 2013 ini temanya adalah "Develop food products to be given as supplements to address malnourishment at HIV relief clinics across developing
countries", yaitu konsep pengembangan produk pangan yang dapat digunakan sebagai suplemen untuk membantu para penderita HIV di negara-negara berkembang. Tim MASOCA-Ball mengambil kasus di Nigeria, sedangkan tim SWEEPO mengambil kasus di
Papua.

Dalam mengikuti kompetisi DSDC, kedua tim mahasiswa IPB mengembangkan produk MASOCA-Ball dan SWEEPO, yang merupakan konsep produk pangan baru yang ditujukan sebagai makanan suplemen bagi penderita HIV. MASOCA-Ball adalah “sweet snack ball cookies” yang terbuat dari sumber bahan pangan lokal yang tersedia di negara bagian Benue Nigeria, yaitu kacang-kacangan (groundnut dan cashew), pati jagung, tepung kedelai, wortel dan ingredien lain yang diformulasi dan diproses menjadi produk cookies yang memiliki mutu sensori dan kandungan gizi yang diperlukan bagi penderita HIV.

Sementara itu, tim SWEEPO mengembangkan produk pangan suplemen dalam bentuk biskuit yang terbuat dari bahan baku ubi jalar dan kacang-kacangan (red kidney bean) yang ditujukan bagi penderita HIV di Papua Indonesia. Sebagaimana tim MASOCA-Ball,konsep produk pangan yang dikembangkan juga untuk dapat mengatasi kekurangan gizi dan kondisi kesehatan yang buruk dari penderita HIV di Papua. K-08

Artikel Lainnya

  • Mei 19, 2018

    Tantangan aplikasi pewarna alami untuk produk pangan

    Atribut warna pada produk pangan menjadi atribut penting bagi konsumen untuk memilih suatu produk pangan. Konsumen cenderung memilih produk pangan dengan warna yang menarik, sebelum memperhatikan atribut lainnya. Berdasarkan sumbernya, pewarna makanan dibedakan menjadi dua jenis, pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami diproduksi dari proses ekstraksi senyawa pemberi warna dari bahan-bahan alami, melalui proses dan teknologi yang cukup panjang, sedangkan pewarna sintetis berasal dari bahan-bahan kimia sintetis yang penggunaannya diizinkan sebagai pewarna makanan. Baik pewarna alami maupun pewarna sintetis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. ...

  • Mei 18, 2018

    Granola Bar sebagai salah satu produk confectionery

    Di pasar, golongan granola bar dimasukkan dalam countline, yaitu  produk-produk yang dijual secara individual dalam bungkusan kecil  dan diperuntukkan untuk konsumen langsung. ...

  • Mei 17, 2018

    Aplikasi pewarna alami larut minyak untuk produk pangan

    Berdasarkan sifat kelarutannya, pewarna alami dibedakan menjadi pewarna larut air dan pewarna larut minyak. Pewarna larut air dan pewarna larut minyak diperoleh dari proses ekstraksi yang berbeda. Keduanya juga memiliki pemanfaatan yang berbeda-beda tergantung pada aplikasi produknya. Menurut Technical Industry Manager, Natural Color division Global Marketing CHR Hansen Denmark, Rikke Sakstrup Frandsen pada acara In-depth Seminar Unleashing The Potency of Oil Soluble Food Coloring yang diadakan oleh Foodreview Indonesia, 19 April 2018 lalu, produk berbasis lemak secara umum membutuhkan pewarna larut minyak untuk menghasilkan pewarnaan yang optimal dan lebih stabil. Pewarna larut minyak dalam bentuk bubuk memiliki kelebihan pada aplikasinya dalam produk berbasis lemak atau rendah air, beberapa di antaranya yaitu mudahnya aplikasi bubuk pewarna baik dalam bentuk bubuk maupun bentuk suspensi, menghasilkan pewarna alami yang mudah larut, dapat disimpan pada suhu ruang, umur simpan mencapai 6 ñ 9 bulan, stabil dan tidak menimbulkan migrasi warna. ...

  • Mei 16, 2018

    Food wastage dalam industri pangan

    Food wastage merupakan istilah gabungan dari food loss dan food waste, atau dengan kata lain, food wastage adalah hasil dari food loss dan food waste yang menjadi permasalahan hampir di seluruh dunia. Total pemborosan dari food wastage secara global mencapai 32 persen dari rantai pasok pangan yang 16 persennya disebabkan oleh food loss yang banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan sisa 16 persen disebabkan oleh food waste di negara-negara maju. Secara istilah, food loss merupakan produk pangan yang terbuang selama produksi pascapanen, tidak sampai pada rantai konsumen. Dalam tahap ini, sisa produk pangan dapat terjadi karena proses pascapanen yang kurang baik sehingga terjadi pembusukan sebelum proses selanjutnya, maupun sisa-sisa potongan yang terlalu besar pada saat produksi. Sedangkan food waste adalah produk pangan yang sudah tidak diinginkan atau dibuang oleh konsumen. ...

  • Mei 15, 2018

    Cara industri 4.0 dalam menangani food wastage

    ìSensor, keseluruhan data, artificial intelligence, dan internet of things merupakan kemampuan dari industri 4.0 yang harus dioptimalkan untuk menekan food wastage,î Direktur The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Indonesia, Archie Slamet dalam Seminar Strategi dan Inovasi Sektor Pangan: Menjawab Tantangan Era Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh IFIC di Jakarta, 21 Maret 2018.  ...