Microbiological Safety of Raw Milk



Cow’s milk has been part of human diet for a long time. However, raw milk has been associated with various foodborne outbreaks particularly due to bacterial pathogens. Microorganisms in milk are originated from the udder of cattle and as a result of contamination from inadequately cleaned and sanitized teat, milking equipment, air, soil, or workers. Milk obtained under hygienic conditions generally has microorganisms in the range of 103-104 CFU/ml, while that obtained under less hygienic may contain >106 CFU/ml. Raw milk generally contains psychrotrophic, thermoduric and thermophilic microorganisms and occasionally contains pathogens. A survey on raw milk samples from 248 dairy farmers in Pennsylvania, US, found Campylobacter jejuni in 2% of the samples, Shiga toxin producing Escherichia coli (STEC) in 2.4%, Listeria monocytogenes in 2.8%, Salmonella in 6%, and Yersinia enterocolitica in 1.2% samples; while 12% of the samples contained more than one pathogen. Despite the fact that pasteurization has improved the safety of milk; various countries still allow the distribution of raw milk under strict requirements. A 13-year study in the US reported 121 milk-related outbreaks with known food sources and etiological agents. Although pasteurized milk could cause outbreaks, a higher percentage (60%) of the outbreaks was caused by unpasteurized milk and cheese. A higher milk-borne outbreak rate (75%) also occurred in the US states that allow distribution of raw milk to the retail level. The study also suggested that the most predominant etiologic agent in nonpasteurized milk outbreaks was Campylobacter spp while those in pasteurized milk outbreaks was Norovirus. Raw milk consumption should be avoided when there is no confidence on the herds’ and/or farm supervision.

 

Susu adalah cairan bergizi berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar susu mamalia. Sejarah mencatat bahwa manusia di Eropa Tengah telah mengonsumsi susu sapi sejak ribuan tahun yang lalu. Pada 4000 tahun sebelum Masehi telah ditemukan bukti-bukti bahwa manusia memerah susu sapi. Dengan 3.25% protein, 4.2% lemak, 4.6% laktosa, 0.65% mineral dan 87.3% air, susu sapi termasuk bahan pangan yang lengkap kandungan gizinya. Akan tetapi kandungan gizi tersebut, ditambah faktor-faktor lainnya, juga sangat mendukung pertumbuhan mikroorganisme termasuk bakteri patogen, sehingga konsumsi susu segar (mentah) telah dihubungkan dengan berbagai outbreak penyakit bawaan pangan. Proses pasteurisasi yang dikembangkan oleh Louis Pasteur pada 1822-1895 berhasil meningkatkan keamanan mikrobiologi susu, akan tetapi proses ini pun harus dikendalikan dengan baik agar tidak terjadi kontaminasi pasca pasteurisasi.

Oleh: Prof. Ratih Dewanti-Hariyadi
Profesor Mikrobiologi Pangan Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Peneliti SEAFAST Center, Institut Pertanian Bogor
Selengkapnya artikel ini dapat dibaca di majalah FOODREVIEW INDONESIA edisi Juni 2015, yang dapat diunduh di www.foodreview.co.id

Artikel Lainnya

  • Jan 16, 2019

    Kolaborasi dalam Sistem Rantai Nilai Pangan Berkelanjutan

    Sistem rantai nilai pangan berkelanjutan tidak akan berjalan tanpa kerja sama antara petani kecil, pelaku industri, pemerintah, dan institusi riset. ìSemua tantangan ini bisa kita jawab secara bersama-sama, untuk itu kita semua perlu untuk lebih terbuka dalam berkomunikasi, ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian (Kementan), Kuntoro Boga Andri. ...

  • Jan 15, 2019

    Potensi Kearifan Lokal Indonesia

    Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Pangan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Benny Pasaribu menegaskan bahwa Indonesia perlu fokus dalam membenahi agrobisnis utamanya dalam mendukung produksi bahan baku industri dari dalam negeri dengan memanfaatkan teknologi tepat guna sekaligus kearifan lokal. Kekayaan budaya Indonesia yang masih dilestarikan hingga kini menjadi sebuah optimisme dalam mengembangkan berbagai produk pangan berdaya saing global.  ...

  • Jan 14, 2019

    Menggali Keunggulan Kompetitif dan Komparatif Industri Pangan

    Industri pangan memiliki nilai ekspor terbesar dalam kelompok hasil industri. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan nilainya mencapai 26.27 juta USD pada 2016. Tantangan nyata bagi agroindustri Indonesia adalah bagaimana meningkatkan keseimbangan perdagangan agroindustri, yakni membuat nilai ekspor lebih besar dari nilai impor ...

  • Jan 13, 2019

    Sistem Rantai Nilai Pangan Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

    Tantangan di era 4.0 terus menjadi topik bahasan yang menarik. Kali ini dunia agrobisnis menjawabnya dengan beberapa sistem yang dapat diterapkan pada industri pangan seperti sistem rantai nilai pangan berkelanjutan berbasis kearifan lokal. Dari pihak praktisi industri, General Manager Corporate Communication PT Indofood Sukses Makmur, Stefanus Indrayana memaparkan bahwa konsep sistem rantai nilai pangan berkelanjutam berbasis kearifan lokal sebagai langkah terbaik yang dapat dilakukan industri pangan untuk mencapai ketahanan dan kemandirian pangan.   ...

  • Jan 12, 2019

    Pangsa Ekspor bagi Eropa

    Angka pasar global halal yang jauh lebih besar dibanding region lain ñbahkan dibanding sebuah negara besar seperti India dan Cinaómembuat banyak perusahaan produk pangan Eropa yang membidik pasar ekspor. Secara data, komoditas halal pun banyak didatangkan dari Eropa. Khusus daging halal, pada 2017 negara Prancis, Belanda, Spanyol, dan Turki termasuk negara 10 besar eksportir terbesar yang tujuannya mayoritas ke negara Muslim seperti Arab Saudi, Indonesia, dan Mesir.  ...

Finasterid Generika 1mg cialis super active online Lida Daidaihua Inhaltsstoffe Original Viagra Use Generisk finasterid ED Packs Levitra Original Kamagra Effervescent Tablets Meizitang soft gel original version Propecia For Hair Loss Viagra 50mg Generic Levitra (Vardenafil) 20mg Lida Daidaihua Lida Daidaihua Meizitang funziona Original Viagra Pills Pacchetto di prova generici Lipitor Generika Kamagra Super ingredientes activos Meizitang in Ireland