Better & Safer Dairy Technology


 

Susu merupakan bahan pangan yang kaya akan zat gizi.  Namun sayangnya, konsumsi rata-rata susu di Indonesia masih sangat rendah.  Hal tersebut diungkapkan oleh Yeni Restiani dari Direktorat Standardisasi Produk Pangan Badan POM RI dalam Seminar Better and Safer Dairy Technology  11 Juni lalu di IPB International Convention Center Bogor.  Acara tersebut terselenggara berkat kerja sama FOODREVIEW INDONESIA dengan SEAFAST Center IPB, dan didukung oleh bioMerieux Industry, Efacec Singapore, Kubota, Tetra Pak Indonesia dan Minaku Seafood.

 

Lebih lanjut Yeni menyebutkan bahwa konsumsi susu cair di Indonesia berkisar 3,6 ml perhari, sedangkan untuk susu bubuk 4,9 g per hari.  Namun demikian, susu kental manis merupakan jenis susu yang paling banyak dikonsumsi walau hanya sebesar 6,4%, lalu diikuti susu bubuk sebesar 3,2%.  “Pada semua kelompok umur, terlihat proporsi penduduk mengonsumsi susu kental manis,” kata Yeni.

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pangan, perkembangan penggunaan susu semakin meningkat.  “Kini kita dapat aneka variasi produk olahan susu, dan penggunaannya juga menjadi lebih luas,” tutur Yeni.  Bahkan tidak hanya itu, kini juga ditemukan susu untuk kebutuhan khusus.  Oleh sebab itu, untuk melindungi konsumen dan mendukung persaingan yang sehat, diperlukan regulasi dan pengawasan.  “Pengawasan meliputi keamanan; mutu; pemasaran dan distribusi, termasuk di dalamnya klaim, iklan, dan label; serta persyaratan lainnya,” tambah Yeni.

Dari segi regulasi, saat ini sudah terdapat beberapa peraturan, baik yang bersifat umum maupun khusus untuk produk susu.  Peraturan yang bersifat umum antara lain Undang-undang No. 18 tahun 2012 tentang Pangan; Peraturan Pemerintah No. 69 tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan; Peraturan Pemerintah No. 28 tahun 2004 tentang Keamanan, Mutu, dan Gizi Pangan, hingga berbagai Peraturan Kepala Badan POM.  Sedangkan regulasi yang bersifat khusus antara lain Peraturan Kepala Badan POM RI No. 1 Tahun 2015 tentang Kategori Pangan; Peraturan Kepala Badan POM RI No. HK.03.1.52.08.11.07235 tahun 2011 tentang Pengawasan Formula Bayi dan Formula Bayi untuk Keperluan Medis Khusus, dan perubahannya, serta lainnya.

Dalam berbagai peraturan tersebut ditetapkan persyaratan mutu dan keamanan pangan, termasuk di dalamnya sanitasi, bahan tambahan pangan, cemaran, dan kemasan.  Misalnya dalam Peraturan Kepala Badan POM RI No. 1 tahun 2015 tentang Kategori Pangan. “Produk berbahan dasar susu masuk dalam Kategori Pangan 01.0 untuk produk-produk susu dan analognya, dan Kategori Pangan 13.0 bagi produk pangan untuk keperluan gizi khusus,” kata Yeni.  Di dalam Kategori Pangan tersebut ditetapkan definisi dan karakteristik dasar masing-masing produk, seperti lemak susu, protein, total padatan bukan lemak, kadar air (untuk produk bubuk), kada asam (untuk produk fermentasi), dan lain-lain.

Sedangkan dari persyaratan keamanan, produk pangan olahan wajib menerapkan Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik. “Bagi produk susu dengan peruntukan khusus, misal bayi dan anak, wajib menerapkan HACCP,” ujar Yeni.  Permohonan sertifikasi produksi pangan industri rumah tangga, tidak dapat dipenuhi untuk beberapa jenis pangan, termasuk susu dan hasil olahannya.  “Tetapi masih memungkinkan jika pangan tersebut hanya menggunakan perisa susu,” kata Yeni.  Materi Seminar lain dapat diunduh di sini.

Artikel Lainnya

  • Mei 19, 2018

    Tantangan aplikasi pewarna alami untuk produk pangan

    Atribut warna pada produk pangan menjadi atribut penting bagi konsumen untuk memilih suatu produk pangan. Konsumen cenderung memilih produk pangan dengan warna yang menarik, sebelum memperhatikan atribut lainnya. Berdasarkan sumbernya, pewarna makanan dibedakan menjadi dua jenis, pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami diproduksi dari proses ekstraksi senyawa pemberi warna dari bahan-bahan alami, melalui proses dan teknologi yang cukup panjang, sedangkan pewarna sintetis berasal dari bahan-bahan kimia sintetis yang penggunaannya diizinkan sebagai pewarna makanan. Baik pewarna alami maupun pewarna sintetis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. ...

  • Mei 18, 2018

    Granola Bar sebagai salah satu produk confectionery

    Di pasar, golongan granola bar dimasukkan dalam countline, yaitu  produk-produk yang dijual secara individual dalam bungkusan kecil  dan diperuntukkan untuk konsumen langsung. ...

  • Mei 17, 2018

    Aplikasi pewarna alami larut minyak untuk produk pangan

    Berdasarkan sifat kelarutannya, pewarna alami dibedakan menjadi pewarna larut air dan pewarna larut minyak. Pewarna larut air dan pewarna larut minyak diperoleh dari proses ekstraksi yang berbeda. Keduanya juga memiliki pemanfaatan yang berbeda-beda tergantung pada aplikasi produknya. Menurut Technical Industry Manager, Natural Color division Global Marketing CHR Hansen Denmark, Rikke Sakstrup Frandsen pada acara In-depth Seminar Unleashing The Potency of Oil Soluble Food Coloring yang diadakan oleh Foodreview Indonesia, 19 April 2018 lalu, produk berbasis lemak secara umum membutuhkan pewarna larut minyak untuk menghasilkan pewarnaan yang optimal dan lebih stabil. Pewarna larut minyak dalam bentuk bubuk memiliki kelebihan pada aplikasinya dalam produk berbasis lemak atau rendah air, beberapa di antaranya yaitu mudahnya aplikasi bubuk pewarna baik dalam bentuk bubuk maupun bentuk suspensi, menghasilkan pewarna alami yang mudah larut, dapat disimpan pada suhu ruang, umur simpan mencapai 6 ñ 9 bulan, stabil dan tidak menimbulkan migrasi warna. ...

  • Mei 16, 2018

    Food wastage dalam industri pangan

    Food wastage merupakan istilah gabungan dari food loss dan food waste, atau dengan kata lain, food wastage adalah hasil dari food loss dan food waste yang menjadi permasalahan hampir di seluruh dunia. Total pemborosan dari food wastage secara global mencapai 32 persen dari rantai pasok pangan yang 16 persennya disebabkan oleh food loss yang banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan sisa 16 persen disebabkan oleh food waste di negara-negara maju. Secara istilah, food loss merupakan produk pangan yang terbuang selama produksi pascapanen, tidak sampai pada rantai konsumen. Dalam tahap ini, sisa produk pangan dapat terjadi karena proses pascapanen yang kurang baik sehingga terjadi pembusukan sebelum proses selanjutnya, maupun sisa-sisa potongan yang terlalu besar pada saat produksi. Sedangkan food waste adalah produk pangan yang sudah tidak diinginkan atau dibuang oleh konsumen. ...

  • Mei 15, 2018

    Cara industri 4.0 dalam menangani food wastage

    ìSensor, keseluruhan data, artificial intelligence, dan internet of things merupakan kemampuan dari industri 4.0 yang harus dioptimalkan untuk menekan food wastage,î Direktur The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Indonesia, Archie Slamet dalam Seminar Strategi dan Inovasi Sektor Pangan: Menjawab Tantangan Era Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh IFIC di Jakarta, 21 Maret 2018.  ...