PASOKAN BAHAN BAKU YANG BERKESINAMBUNGAN DAN KEPASTIAN HUKUM BERUSAHA DI INDONESIA, KUNCI STABILITAS PERTUMBUHAN INDUSTRI MAKANAN DAN MINUMAN



JAKARTA, 3 Juli 2015 – Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) pada tanggal 1 Juli 2015 melakukan acara dialog dengan jajaran Pemerintah yaitu Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, Kepala BKPM dan Deputi III BPOM guna mendiskusikan kendala-kendala yang sedang dihadapi oleh industri makanan dan minuman (Mamin) di Indonesia. Acara dialog ini juga dihadiri oleh para kepala perusahaan (CEO) dari perusahaan-perusahaan lokal dan multi nasional serta KADIN dan APINDO.

Ketua Umum GAPMMI, Adhi Lukman menyampaikan: “GAPMMI masih optimis perekonomian Indonesia dapat didorong apabila pemerintah dapat menjamin tiga hal yaitu: kelancaran pasokan bahan baku bagi industri; adanya kepastian hukum yang konsisten; serta regulasi yang mendukung efisiensi dan bukan sebaliknya.” “Dalam kondisi perekonomian yang ‘challenging’ ini, perlu ada kerjasama yang kuat antara pelaku industri dan Pemerintah sehingga roda ekonomi dapat berjalan baik”, lanjut Adhi. Industri Mamin merupakan salah satu sektor yang memberikan kontribusi signifikan terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

 

INDIKATOR

2011

2012

2013

2014*

Pertumbuhan PDB

6.49

6.26

5.78

5.11

Pertumbuhan PDB sektor  Industri Non Migas

6.74

6.42

6.10

5.34

Pertumbuhan industri mamin dasar tahun  2010

10,98

10,33

4,07

9,54

  Kontribusi industri mamin terhadap PDB sektor industri non migas

28,90

29,52

29,01

29,77

Industri Mamin juga merupakan industri padat karya karena mempunyai efek multiplier tenaga kerja. Jumlah tenaga kerja langsung menurut BPS di tahun 2013 sebanyak 4.267.275 pekerja.Selain tenaga kerja yang langsung bekerja dalam industri mamin, industri mamin juga menciptakan tenaga kerja tidak langsung dalam rantai distribusinya termasuk industri bahan baku (pemasok), distributor, biro iklan dan pemasaran serta rantai pedagang.

Namun demikian saat ini Industri mamin menghadapi kendala serius, antara lain masalah jaminan pasokan bahan baku garam dan gula rafinasi padahal keduanya merupakan bagian dari bahan baku utama bagi industri mamin. 

“Jika pasokan bahan baku tidak terjamin maka sulit bagi industri untuk menjalankan usahanya secara efisien dan kompetitif, sehingga pada akhirnya bukan hanya produsen yang dirugikan tetapi juga konsumen dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Tentunya hal ini juga membuat produk Indonesia menjadi tidak kompetitif”, lanjut Adhi.

Selain itu GAPMMI juga meminta Pemerintah untuk memperhatikan masalah kepastian hukum. “Kepastian hukum merupakan kunci bagi investasi dan industri membutuhkan iklm investasi yang kondusif. Hal-hal seperti pencabutan Undang-Undang Sumber Daya Air misalnya menimbulkan ketidakpastian dan berdampak secara langsung pada kelangsungan berusaha di Indonesia”, kembali disampaikan oleh Adhi.

GAPMMI menyambut baik dan mengapresiasi tanggapan positif Pemerintah dalam acara dialog ini dan upaya Pemerintah untuk mendukung pertumbuhan industri.

GAPMMI dan para CEO industri Mamin bersama Pemerintah sepakat untuk selalu bekerjasama dan berkomunikasi secara intensif dalam rangka menjaga stabilitas perekonomian agar menuju nilai pertumbuhan industri yang semakin positif dan sehingga tercipta suasana kepastian berusaha. Dengan dukungan Pemerintah, GAPMMI siap memasuki pasar bebas, terutama MEA.

Artikel Lainnya

  • Mei 19, 2018

    Tantangan aplikasi pewarna alami untuk produk pangan

    Atribut warna pada produk pangan menjadi atribut penting bagi konsumen untuk memilih suatu produk pangan. Konsumen cenderung memilih produk pangan dengan warna yang menarik, sebelum memperhatikan atribut lainnya. Berdasarkan sumbernya, pewarna makanan dibedakan menjadi dua jenis, pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami diproduksi dari proses ekstraksi senyawa pemberi warna dari bahan-bahan alami, melalui proses dan teknologi yang cukup panjang, sedangkan pewarna sintetis berasal dari bahan-bahan kimia sintetis yang penggunaannya diizinkan sebagai pewarna makanan. Baik pewarna alami maupun pewarna sintetis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. ...

  • Mei 18, 2018

    Granola Bar sebagai salah satu produk confectionery

    Di pasar, golongan granola bar dimasukkan dalam countline, yaitu  produk-produk yang dijual secara individual dalam bungkusan kecil  dan diperuntukkan untuk konsumen langsung. ...

  • Mei 17, 2018

    Aplikasi pewarna alami larut minyak untuk produk pangan

    Berdasarkan sifat kelarutannya, pewarna alami dibedakan menjadi pewarna larut air dan pewarna larut minyak. Pewarna larut air dan pewarna larut minyak diperoleh dari proses ekstraksi yang berbeda. Keduanya juga memiliki pemanfaatan yang berbeda-beda tergantung pada aplikasi produknya. Menurut Technical Industry Manager, Natural Color division Global Marketing CHR Hansen Denmark, Rikke Sakstrup Frandsen pada acara In-depth Seminar Unleashing The Potency of Oil Soluble Food Coloring yang diadakan oleh Foodreview Indonesia, 19 April 2018 lalu, produk berbasis lemak secara umum membutuhkan pewarna larut minyak untuk menghasilkan pewarnaan yang optimal dan lebih stabil. Pewarna larut minyak dalam bentuk bubuk memiliki kelebihan pada aplikasinya dalam produk berbasis lemak atau rendah air, beberapa di antaranya yaitu mudahnya aplikasi bubuk pewarna baik dalam bentuk bubuk maupun bentuk suspensi, menghasilkan pewarna alami yang mudah larut, dapat disimpan pada suhu ruang, umur simpan mencapai 6 ñ 9 bulan, stabil dan tidak menimbulkan migrasi warna. ...

  • Mei 16, 2018

    Food wastage dalam industri pangan

    Food wastage merupakan istilah gabungan dari food loss dan food waste, atau dengan kata lain, food wastage adalah hasil dari food loss dan food waste yang menjadi permasalahan hampir di seluruh dunia. Total pemborosan dari food wastage secara global mencapai 32 persen dari rantai pasok pangan yang 16 persennya disebabkan oleh food loss yang banyak terjadi di negara berkembang. Sedangkan sisa 16 persen disebabkan oleh food waste di negara-negara maju. Secara istilah, food loss merupakan produk pangan yang terbuang selama produksi pascapanen, tidak sampai pada rantai konsumen. Dalam tahap ini, sisa produk pangan dapat terjadi karena proses pascapanen yang kurang baik sehingga terjadi pembusukan sebelum proses selanjutnya, maupun sisa-sisa potongan yang terlalu besar pada saat produksi. Sedangkan food waste adalah produk pangan yang sudah tidak diinginkan atau dibuang oleh konsumen. ...

  • Mei 15, 2018

    Cara industri 4.0 dalam menangani food wastage

    ìSensor, keseluruhan data, artificial intelligence, dan internet of things merupakan kemampuan dari industri 4.0 yang harus dioptimalkan untuk menekan food wastage,î Direktur The Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation (CSIRO) Indonesia, Archie Slamet dalam Seminar Strategi dan Inovasi Sektor Pangan: Menjawab Tantangan Era Industri 4.0 yang diselenggarakan oleh IFIC di Jakarta, 21 Maret 2018.  ...