SIARAN PERS: Intensifikasi Pengawasan Ramadhan Badan POM 2015: Temuan Didominasi Pangan Ilegal, Pangan Mengandung Bahan BerbahayaMenurun


Dalam empat tahun terakhir, sejak tahun 2011 –2014, hasil intensifikasi pengawasan pangan jelang dan selama Ramadhan menunjukkan pangan Tanpa Izin Edar (TIE) menjadi temuan paling banyak. Pada tahun 2015 ini tren temuan masih menunjukkan hal yang sama.

Hasil intensifikasi pengawasan hingga 10 Juli 2015, Badan POM menemukan 4.709 item (250.908 kemasan) pangan Tidak Memenuhi Ketentuan (TMK) dengan nilai keekonomian mencapai 28,3 miliar rupiah dari berbagai sarana retail dan gudang importir, dengan rincian 1.031 item (77.607 kemasan) dengan nilai keekonomian 21,4 miliar rupiah pangan TIE (75,5%), 2.303 item (135.123 kemasan) pangan kedaluwarsa dengan keekonomian 5,4 miliar rupiah (19,1%), dan 1.375 item (38.178 kemasan) pangan rusak dengan keekonomian 1,5 miliar rupiah (5,4%). Jenis pangan TIE yang paling banyak ditemukan adalah cokelat, Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dan bumbu, yang banyak dilaporkan dari Jakarta, Bandung dan Batam.

Hasil pengawasan takjil pada tahun 2015 dari 7.806 sampel diketahui 7.126 sampel (91,29%) Memenuhi Syarat dan 680 sampel (8,71%) Tidak Memenuhi Syarat. Hasil pengawasan menunjukkan bahwa pewarna tekstil rhodamin B menjadi bahan berbahaya yang paling banyak disalahgunakan dalam pangan. Secara rinci, 285 sampel pangan ditemukan mengandung Rhodamin B, 211 sampel pangan mengandung Formalin, 162 sampel pangan mengandung Boraks dan 5 sampel pangan mengandung Methanyl Yellow.

Kosmetika dan obat tradisional juga menjadi sasaran intensifikasi pengawasan Badan POM karena hingga saat ini masih marak peredaran kosmetika dan obat tradisional ilegal dan/atau mengandung bahan dilarang/bahan kimia obat (BKO). Dari kegiatan penertiban menjelang Ramadhan dan pelaksanaan serentak pada 15 –19 Juni 2015, ditemukan 74.082 kemasan kosmetika yang tidak terdaftar/ternotifikasi di Badan POM senilai lebih dari 2 milyar rupiah, 684 kemasan kosmetika mengandung bahan berbahaya senilai lebih dari 14 juta rupiah, dan 1.438 pieces kosmetika rusak atau kedaluwarsa senilai lebih dari 28 juta rupiah. Temuan paling banyak diperoleh dari kota Bandung, Batam dan Medan. Untuk produk obat tradisional, ditemukan 26.515 kemasan obat tradisional yang tidak terdaftar di Badan POM senilai lebih dari 318 juta rupiah, 6.903 kemasan obat tradisional mengandung BKO senilai lebih dari 50 juta rupiah, dan 69 kemasan obat tradisional rusak atau kedaluwarsa senilai lebih dari 800 ribu rupiah. Selain itu juga ditemukan kurang lebih 30.000 kemasan kosmetika tidak terdaftar/ternotifikasi senilai 2 milyar rupiah pada 6 Juli 2015.

Badan POM terus melakukan intervensi pengawasan obat dan makanan pasca lebaran untuk menyentuh akar masalah peredaran obat dan makanan yang tidak memenuhi syarat, antara lain melalui pengawasan yang lebih ketat di pintu masuk/perbatasan, pengawasan lebih difokuskan pada temuan besar dan ke hulu, penguatan peran pelaku usaha dalam penanganan produk sesuai cara ritel yang baik dan cara distribusi yang baik serta pengawasan pangan dilaksanakan secara terpadu dan sinergis dengan lintas sektor di sepanjang rantai pasokan. Namun upaya Badan POM ini tidak akan berjalan optimal tanpa dukungan lintas sektor dan masyarakat.
Peran masyarakat dalam pengawasan obat dan makanan perlu ditingkatkan. Masyarakat diharapkan mampu menjadi konsumen cerdas yang teliti sebelum membeli dan mengkonsumsi obat dan makanan. Selalu terapkan “Cek KIK”, perhatikan Kemasan, Izin edar, dan tanggal Kedaluwarsa produk. Jika masyarakat memiliki informasi adanya Obat dan Makanan yang diduga melanggar peraturan, seperti pangan rusak, kedaluwarsa, tanpa ijin edar atau pangan yang dicurigai mengandung bahan berbahaya, dapat menghubungi Contact Center HALOBPOM 1-500-533, sms 0-8121-9999-533, email halobpom@pom.go.id, twitter @bpom_ri atau Unit Layanan Pengaduan Konsumen (ULPK) Balai Besar/Balai POM di seluruh Indonesia.

Jakarta, 13 Juli 2015
Biro Hukum dan Humas Badan POM RI
Telepon/Fax: (021) 4209221
Email : hukmas@pom.go.id, humasbpom@gmail.com

Artikel Lainnya

  • Feb 22, 2018

    Proses Pembuatan Cokelat Crumb

    Pada produksi cokelat crumb, proses pertama yang dilakukan adalah pembuatan susu kental manis dari susu sapi murni. Pembuatan susu kental manis ini sudah banyak dilakukan di Indonesia di mana banyak dijual susu kental manis dari industri-industri susu. Setelah melalui proses standardisasi, susu cair kemudian dipasteurisasi pada suhu 72-760C. Melalui evaporator bertingkat, susu dipekatkan sampai kadar padatannya mencapai 45%. Hasilnya berupa larutan kental, lalu dimasukkan gula pasir sesuai  dengan formulasi yang dikehendaki. Campuran dimasukkan dalam panci vakum untuk melarutkan gula dan menguapkan air. Penguapan dilakukan pada suhu 750C di bawah vakum  sampai tercapai kadar padatan 90%. Pada tahap proses ini, terlihat tanda-tanda kristalisasi pada gula. ...

  • Feb 22, 2018

    Sertifikasi Halal untuk Perusahaan asal Taiwan

    Setelah bertahun-tahun melakukan kegiatan bisnis di 10 negara ASEAN, TCI sudah sangat familiar akan pengembangan produk pangan dan masker wajah yang halal. Berkat pengalamannya memasarkan produk di pasar Muslim di Asia Tenggara, mereka telah membuahkan banyak hasil dan solusi bagi klien retail maupun brand. Konsumen dapat menemukan produk ODM buatan TCI yang sudah halal di beberapa apotik modern ataupun channel lainnya.  ...

  • Feb 21, 2018

    Desain Proses untuk Pengembangan Produk Minuman Fungsional

    Inovasi pangan dengan klaim kesehatan masih mempunyai peluang besar di Indonesia. Data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menunjukkan bahwa terdapat beberapa kategori pangan yang sering diajukan oleh industri sebagai pangan olahan berklaim, misalnya kategori pangan olahan berbasis susu. Selain itu, jenis produk pangan untuk kebutuhan gizi khusus (PKMK) juga berkembang dengan berbagai analisis ilmiah. ...

  • Feb 21, 2018

    Perkembangan Baru Metode Perolehan Flavor

    Ada dua metode yang saat ini sedang mendapatkan perhatian dalam aplikasinya untuk senyawa flavor yaitu Subcritical Water Extraction (SWE) dan Microwave Assisted Extraction (MAE).  ...

  • Feb 20, 2018

    Penambahan Garam Tingkatkan Pelepasan Flavor Produk

    Ingridien dalam fase air lainnya yang berpengaruh pada pelepasan flavor adalah garam. Ingridien ini secara umum dikathui dapat meningkatkan persepsi flavor melalui peristiwa salting-out, yaitu penambahan garam akan menurunkan kelarutan senyawa utama terhadap air dalam larutan. Pada komponen flavor yang hidrofilik, salting-out dapat menurunkan  jumlah molekul air yang tersedia untuk melarutkan komponen flavor tersebut. Sementara itu, pada komponen flavor yang lipofilik, adanya salting-out dapat menurunkan konsentrasi komponen flavor dalam fase air dan membuatnya lebih banyak berada dalam fase minyak dan kemudian berubah menjadi fase gas. Hal ini menyebabkan konsentrasi garam yang tinggi akan memberikan efek pada meningkatan pelepasan flavor.  ...