Penggunaan Bahan Tambahan Pangan: Kenali dengan Baik Manfaatnya


 

Perkembangan ilmu dan teknologi pangan mengalami kemajuan yang pesat dewasa ini. Salah satu inovasi yang banyak diaplikasikan pada pangan olahan adalah penggunaan bahan tambahan pangan (BTP). Penggunaan BTP harus sesuai dengan peruntukannya dan memberikan fungsi tertentu bagi pangan. Penggunaan BTP yang dilakukan secara bijak, dapat memberikan manfaat yang baik untuk peningkatan mutu produk pangan. 

 

 

Sayangnya, seiring dengan perkembangan tersebut, banyak beredar pemberitaan negatif mengenai BTP. Hal ini dikarenakan masyarakat masih belum sepenuhnya dapat membedakan antara bahan kimia berbahaya yang dilarang digunakan pada pangan dengan BTP yang diizinkan untuk pangan. Penggunaan BTP harus mengikuti peraturan yang sudah dikeluarkan oleh otoritas keamanan pangan yang meliputi jenis BTP, jenis pangan, dan jumlah maksimal yang diperbolehkan. Pembelajaran tentang BTP secara benar sangat diperlukan, baik untuk produsen, utamanya produsen kecil menengah, maupun konsumen pada umumnya. Penggunaan BTP aman sepanjang mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh lembaga pemerintah sebagai otoritas keamanan pangan. Saat ini berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI no. 033 tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, terdapat 27 jenis BTP yang diizinkan.

 

Untuk membahas manfaat penggunaan BTP, Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) bekerja sama dengan FOODREVIEW INDONESIA telah menyelenggarakan focus group discussion (FGD) dengan tema “Penggunaan BTP: Kenali dengan baik manfaatnya” pada hari Jumat (14/8) di IPB International Convention Center Bogor. Acara ini dihadiri oleh para pakar dibidang teknologi pangan, gizi dan kesehatan, asosiasi pangan dan kesehatan, pemerintah daerah, produsen pangan baik dari industri besar maupun dari UKM, serta masyarakat umum sebagai konsumen.

 

Ketua Umum Persatuan Dokter Gizi Klinis Indonesia (PDGKI), Prof. Dr. dr. Nurpudji A. Taslim, MPH, SpGK-(K) mengungkapkan bahwa penggunaan BTP harus sesuai dengan peraturan Pemerintah. “Pemakaian BTP memberikan manfaat, namun harus sesuai dengan peraturan Pemerintah agar tidak menimbulkan masalah,” kata Dr. Nurpudji. 

 

 Sementara itu Ketua Umum PERGIZI PANGAN, Prof. Dr. Hardinsyah menjelaskan pentingnya kajian ilmiah untuk menentukan keamanan BTP. “BTP aman digunakan selagi sesuai peruntukan dan penggunaan berdasarkan regulasi atau konsensus lembaga yang berwenang disertai bukti ilmiah yang kuat,” kata Hardinsyah. Selain itu dia menekankan pentingnya dilakukan sosialisasi dan pendidikan secara berkelanjutan tentang peruntukan dan penggunaan BTP. 

 

Pada kesempatan yang sama, Direktur Standardisasi Produk Pangan Badan POM RI – Ir. Tetty H. Sihombing, MP., menuturkan peraturan BTP di Indonesia sudah didasarkan pada kajian keamanan pangan, yang meliputi aspek kimia, aspek toksikologi, dan evaluasi. Peraturan suatu BTP dapat berbeda karena adanya perbedaan paparan. “Badan POM RI memiliki perangkat untuk menghitung paparan suatu jenis BTP dari pangan tertentu” ujar Tetty. Jadi menurut Tetty, Badan POM melakukan studi untuk memastikan konsumsi pangan mengandung BTP aman, sejauh tidak melampau nilai ADI (Acceptable Daily Intake). Tetty juga setuju bahwa peraturan mengenai BTP harus dievaluasi secara berkala. 

 

Direktur SEAFAST Center IPB dan sekaligus sebagai Anggota Dewan Pembina PATPI, Prof. Dr. Purwiyatno Hariyadi, mengatakan nilai ADI adalah jumlah yang dianggap aman untuk dikonsumsi setiap hari tanpa adanya pengaruh negatif terhadap kesehatan. “Nilai ADI ditentukan berdasarkan kajian ilmiah yang dilakukan oleh badan otoritas,” kata Purwiyatno. Nilai ADI kemudian dikombinasikan dengan jumlah paparan untuk menentukan batas maksimum penggunaan BTP. “Jadi tidak aneh, jika batas maksimum BTP tiap negara dapat berbeda-beda,” tambah Purwiyatno. 

 

Berdasarkan FGD tersebut, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya BTP yang sudah diizinkan oleh Pemerintah adalah aman, selama mengikuti peraturan yang berlaku, seperti penambahan yang tidak melebihi batas maksimum, dan penggunaan yang sesuai dengan peruntukannya. Setiap BTP yang diizinkan oleh Pemerintah telah melewati kajian keamanan pangan yang mendalam. Diharapkan produsen dapat menggunakan BTP berdasarkan aturan yang berlaku dan konsumen mendapat informasi yang benar dan tidak menyesatkan. Pada bagian akhir diskusi semua peserta FGD sepakat untuk melakukan usaha bersama dalam rangka penyadaran masyarakat dalam bentuk kampanye keamanan pangan dengan melibatkan lintas sektor organisasi profesi, termasuk di dalamnya dunia usaha. 

Artikel Lainnya

  • Mei 25, 2018

    Pemilihan metode refining dalam proses pembuatan cokelat

    Cokelat diolah dari chocolate liquor yang dibuat melalui tahap-tahap mixing, refining (milling), conching, tempering serta pencetakan. Pencampuran bahan-bahan pada pembuatan cokelat dilakukan menggunakan continuous atau batch mixer pada waktu dan suhu tertentu sehingga didapatkan konsistensi bentuk pada formula yang tetap. Pada proses pencampuran secara batch, bahan-bahan yaitu cokelat cair, gula, lemak cokelat lemak susu dan susu bubuk (tergantung jenis cokelat) dicampur selama 12-15 menit pada 40-50oC.  Pencampuran secara kontinu dilakukan oleh perusahaan besar menggunakan kneader otimatis untuk menghasilkan tekstur lembut, tidak ada kesan berpasir (grittiness) dan konsistensi plastis. ...

  • Mei 24, 2018

    Pemilihan metode alkalisasi pada kakao

    Alkalisasi pada nibs kakao dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu alkalisasi dalam drum tanpa pemanasan, alkalisasi dalam drum mesin sangrai, alkalisasi dalam drum alkalizer yang diletakkan di luar mesin sangrai, alkalisator digabung dengan mesin pengeringan, alkalisasi melalui tabung pemanas, dan alkalisasi dalam boks  panjang. ...

  • Mei 23, 2018

    Pembentukan karakter sensoris granola bar

    Dalam pembuatan granola bar, pertama kali  dilakukan adalah pembuatan sirup pengikat padatan. Pembuatan sirup ini sangat penting dalam hal rasa, konsistensi dan kadar airnya. Rasa perlu diperhatikan karena rasa sirup ini merupakan rasa dasar dari granola bar. Granola bar yang terdiri dari bahan oats, tepung jagung dan padatan lainnya akan mempunyai rasa yang kurang manis sehingga harus diberikan larutan pemanis secukupnya untuk menambah rasa dari padatannya.  ...

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...

  • Mei 21, 2018

    Mengenal asam lemak trans dalam produk pangan

    Lemak merupakan salah satu bahan tambahan yang banyak digunakan pada produk bakeri. Lemak pada produk bakeri memberikan beberapa manfaat seperti dapat memperbaiki tekstur, memberikan efek yang glossy serta memberikan flavor yang lebih baik dan gurih. Lemak pada produk bakeri merupakan komponen yang tak terpisahkan dan keberadaanya dapat menentukan kualitas dari suatu produk bakeri. Selain produk bakeri, beberapa produk lain yang juga menggunakan lemak dalam proses produksinya adalah krimer kopi, makanan ringan, es krim, dan makanan cepat saji. Bahkan, beberapa diantara produk tersebut juga menggunakan asam lemak trans pada produksinya.  ...