Investasi Gizi Sangat Diperlukan



Gizi merupakan faktor penting dalam mendukung terciptanya manusia yang sehat dan berkualitas.  Kecukupan gizi dapat mendorong manusia untuk lebih produktif dan beraktivitas secara optimal. Sayangnya, Indonesia saat ini masih menghadapi masalah gizi yang cukup besar.

 

Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI, Ir. Doddy Izwardy MA, mengungkapkan bahwa saat ini terdapat 190 jiwa penduduk Indonesia mengalami masalah gizi.  “Masalah gizi yang terjadi dapat karena gizi buruk, maupun gizi lebih,” kata Doddy.  Permasalahan gizi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular, seperti jantung, diabetes, dan lainnya.  “Perlu upaya luar biasa untuk mengatasi hal tersebut, apalagi selama beberapa tahun terakhir belum ada perbaikan gizi yang signifikan,” tambah Doddy dalam Konferensi Indonesia Bergizi 2015 di Hotel Harris Jakarta pada 16 November lalu.  Acara tersebut diselenggarakan oleh Japfa Foundation, bersama para mitra dan jejaringnya antara lain Omar Niode Foundation, para Akademisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, PT Media Pangan Indonesia, PT Selaras Hati Sejahtera, dan Company-Community Partnership for Health Indonesia (CCPHI).

Untuk mengatasi masalah gizi, diperlukan kerja sama dari berbagai pihak.  “Permasalahan gizi bukan hanya tanggung jawab Kementerian Kesehatan, tetapi kita semua,” kata Doddy.  Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan memberikan investasi gizi.  Investasi tersebut terbukti dapat memperbaiki masalah gizi dan menghasilkan nilai sebanyak 48 kali lipat.

Dalam kesempatan yang sama, Amanda Katili Niode PhD, Ketua Omar Niode Foundation, menekankan pentingnya kearifan tradisional dan pangan lokal untuk memperbaiki gizi anak dan remaja.  “Setiap daerah memiliki sumber daya, yang bila diolah dengan tepat bisa digunakan untuk mencukupi gizi masyarakat sekitarnya,” kata Amanda.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama Dosen Fakultas Kedokteran UI -Prof. Puwantyastuti menjelaskan pentingnya program gizi yang berbasis bukti ilmiah.  “Pengalaman menunjukkan program yang disusun berdasarkan fakta ilmiah lebih berkelanjutan dan tahan lama, dibandingkan yang tidak,” kata Purwanty.  Oleh sebab itu, dia menyarankan perlunya sinergi yang melibatkan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian terkait gizi.

Untuk mendukung Pemerintah dalam memerangi masalah gizi, Japfa Foundation beserta mitranya menginisiasi berdirinya Konsorsium Indonesia Bergizi.  Head of Japfa Foundation Andi Prasetyo menjelaskan bahwa konsorsium tersebut bertujuan untuk menjalin komunikasi, jejaring dan kerjasama konkret antara Pemerintah, Publik dan Perusahaan untuk berbagi data, informasi, dan temuan ilmiah terbaru,  serta saling membuka akses untuk bersama-sama menyusun program peningkatan gizi yang saling melengkapi agar permasalahan gizi di Indonesia bisa mulai dihadapi secara menyeluruh.

Pernyataan Andi Prasetyo didukung oleh Ir. Ahmad Syafiq Msc. PhD., Akademisi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). “Permasalahan Gizi di Indonesia memang mulai mendapat momen dan perhatian dari Masyarakat, Pemerintah maupun Swasta. Ini terlihat dari mulai banyaknya macam-macam kegiatan semisal riset, penelitian, kebijakan, gerakan swadaya masyarakat, bahkan banyak gerakan solidaritas melalui media sosial dan sebagainya. Namun banyak ditemui bahwa berbagai inisiatif tersebut banyak yang berjalan sendiri-sendiri, sehingga hasil program atau riset antara yang satu dengan yang lain sering tidak komprehensif, ada juga yang saling tumpang tindih sehingga banyak yang sifatnya menyelesaikan program jangka pendek. Ini cukup disayangkan karena sumber daya yang dikeluarkan sering tidak sebanding dengan usaha yang ada”. 

“Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh Japfa Foundation bersama Indonesia Bergizi ini sangat unik, yaitu mengajak para pihak untuk duduk bersama, menjalin jejaring, berbagi informasi, saling membuka akses, dan diskusi best-practice untuk memformulasikan tindakan nyata.  Hasilnya kemudian dipublikasikan untuk umum dan ide-ide program yang muncul kami buka seluas luasnya untuk diimplementasikan oleh siapa saja. Tidak berhenti disana, Indonesia Bergizi terus mengajak para pihak untuk duduk bersama-sama secara berkala mendiskusikan program dan temuannya; hal ini berarti tercipta suatu siklus saling belajar menjadi Learning Organization yang memiliki dampak lebih awet dan terukur”

Konferensi dibuka dengan paparan umum mengenai Gizi Anak dan Remaja, kemudian ditajamkan menjadi tiga Working Group ; Kelompok Sains/Akademis, Kelompok Sosial Ekonomi dan Kelompok Kreatif. Tiap group bertujuan memicu sekaligus memfasilitasi pihak-pihak yang peduli untuk berdiskusi mengenai masalah gizi anak dan remaja sesuai dengan sudut pandang, keahlian dan perspektif masing-masing peserta.. Diharapkan dari tiap Working Group munculnya ide-ide segar yang akan diaktualisasikan dalam pembentukan prototype program yang bisa diakses serta diimplementasikan oleh khalayak umum untuk menyelesaikan masalah gizi anak dan remaja bangsa.  Fri-09

 

 

Artikel Lainnya

  • Ags 16, 2018

    Teknologi Plasma Dingin Pada Minuman Susu dan Jus

    Umur simpan yang panjang pada produk susu khususnya banyak dipengaruhi oleh keberadaan bakteri di dalam produk. Proses thermal dapat meningkatkan keamanan mikrobiologis pada produk susu, namun proses tersebut juga dapat merusak unsur sensori, zat gizi, dan beberapa psysicochemical lainnya (Misra dkk, 2017). Penggunaan proses nonthermal dapat memenuhi aspek keamanan pangan suatu produk serta dapat meningkatkan kateristik sensori dan zat gizi serta dapat menjaga senyawa-senyawa bioaktif yang tidak stabil. Beberapa metose proses nonthermal yang dapat diaplikasikan diantaranya adalah proses tekanan tinggi (high hydrostatic pressure), ultrasound, supercritical carbon dioxide technology, irradiasi, dan plasma dingin.  ...

  • Ags 15, 2018

    Tantangan Produk Minuman Dalam Menggunakan Protein

    Tantangan terhadap produk minuman susu dengan penggunaan protein adalah stabilitas protein. Salah satu cara untuk menjaga stabilisasi pada protein di produk susu adalah dengan menggunakan salah satu hidrokoloid yakni microcrystalline cellulose (MCC). MCC adalah selulosa yang dimurnikan dan sebagian dipolimerasi yang dibuat dengan perlakuan terhadap alpha-cellulose yang diperoleh dari serbuk kayu dan asam mineral. Terdapat dua jenis MCC yang digunakan sebagai ingridien pangan yakni MCC bubur: MCC murni dan MCC koloidal atau MCC yang diproses dengan larutan hidrokoloid seperti gum selulosa.  ...

  • Ags 14, 2018

    Perpaduan Protein Pada Produk Minuman Ringan

    Penggunaan perpaduan antara protein hewani dan protein nabati untuk digunakan dalam suatu produk pangan juga dapat memberikan cita rasa serta manfaat kesehatan yang berbeda. Perpaduan antara protein dari kedelai dan produk dairy akan meningkatkan nilai ekomonis, memperbaiki cita rasa, menyeimbangkan volatilitas tanpa memengaruhi kualitas protein. Sedangkan pada perpaduan kedelai dengan tanaman lain dapat meningkatkan kualitas protein, menambahkan manfaat kesehatan serta dapat menyeimbangkan fungsionalitas dari suatu produk.  ...

  • Ags 13, 2018

    Meningkatkan Cita Rasa Produk Minuman dengan Kombinasi Protein

    Protein menjadi salah satu zat gizi yang sering ditambahkan dalam beberapa produk pangan. Penambahan tersebut tidak lain untuk memenuhi permintaan konsumen terhadap produk pangan yang dapat memberikan manfaat kesehatan untuk tubuh. Dalam persepsi konsumen, protein memberikan manfat untuk beberapa hal seperti untuk pertumbuhan otot, meningkatkan energi, pertumbuhan anak, dan dapat mencegah sarcopenia. Dari persepsi tersebut, protein menjadi salah satu ingridien yang potensial untuk dikembangkan menjadi bahan tambahan pada produk pangan.  ...

  • Ags 12, 2018

    Peningkatan Probiotik Sebagai Pangan Fungsional

    Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI mendefinisikan pangan fungsional, termasuk di dalamnya probiotik, sebagai pangan yang secara alami maupun telah mengalami proses (produk olahan) yang mengandung satu atau lebih komponen fungsional yang berdasarkan kajian ilmiah memiliki sifat fisiologis tertentu, terbukti tidak membahayakan, serta bermanfaat bagi kersehatan. ...