Optimis Menghadapi MEA, dengan Catatan


Industri pangan merasa optimis mampu bersaing di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pengusaha dan pemerintah perlu kerja sama lebih erat lagi dalam meningkatkan daya saing industri dalam negeri. Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi Lukman menyatakan daya saing dibentuk dari produk yang berkualitas serta iklim usaha yang berpihak pada pertumbuhan industri makanan dan minuman.

 

“Sekarang setiap kebijakan yang dikeluarkan harus dikaji apa dampaknya secara luas bagi MEA sehingga tidak merugikan industri dalam negeri,” ujar Adhi, Jumat (8/1). Ia menambahkan berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bahwa rencana investasi industri makanan dan minuman (izin prinsip) sepanjang 2015 naik 326% sebesar Rp 184,92 triliun. Di sisi lain, realisasi investasi di sektor makanan minuman pada triwulan II 2015 hanya mencapai Rp 32,6 triliun. Hal ini menurut Adhi menggambarkan bahwa tanpa dukungan kebijakan iklim investasi yang baik, minat investasi yang tinggi akan sulit direalisasikan. “ PR kita adalah bagaimana agar Indonesia tidak hanya dijadikan pasar namun menjadi basis produksi untuk itu kebijakan pemerintah harus  memberi penguatan daya saing industri” tambahnya.

 

Menurut Adhi, sejumlah tantangan masih akan dihadapi pelaku usaha makanan dan minuman. Di sisi bahan baku misalnya, pasokan gula dan garam perlu solusi jangka panjang agar pelaku usaha mendapatkan kepastian, dan tidak dihadapkan pada isu pasokan setiap tahun. Menurut Adhi, pelaku usaha dan pemerintah perlu bekerja sama membuat roadmap pemenuhan gula dan garam dalam negeri, dengan terus menyempurnakan aturan impor gula dan garam sebagai solusi jangka pendek.

 

Pemerintah juga perlu terus berupaya memperbaiki biaya logistik yang saat ini paling mahal diantara Negara ASEAN lain. Ia menjelaskan biaya logistik di Indonesia sudah mencapai 27%, sementara di Singapura dan Malaysia mampu menekan di bawah 15%. Hal tersebut disebabkan oleh belum tersedianya infrastruktur yang merata terutama untuk area di luar Jawa.

 

Adhi menjelaskan saat ini masih ada peraturan dan perizinan yang menciptakan inefisiensi antara lain UU Jaminan Produk Halal, PP 81 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH). GAPMMI mendukung upaya pemerintah untuk melakukan deregulasi di berbagai sector. “Namun kita perlu bergerak lebih cepat, terutama penyelarasan implementasi berbagai aturan di daerah. Pemerintah daerah juga harus menyederhanakan perizinan di wilayah masing-masing,” tambahnya. Adhi juga menyoroti mengenai rencana pemerintah untuk mengenakan cukai pada minuman soda dan atau berpemanis sebagai aturan yang dipastikan akan menurunkan daya saing produk dalam negeri, karena negara ASEAN lainnya tidak memberlakukan hal tersebut.   Fri-08

Artikel Lainnya

  • Jan 22, 2018

    Produk Roti Berlabel Khusus Menjadi Tren di Eropa

    Selain klaim-klaim kesehatan, Euromonitor (2015) juga mencatat di sektor roti di Eropa bahwa sebagian besar produk bakeri menjual label khusus karena melihat bahwa konsumen Eropa akan membayar lebih untuk produk semacam itu. Produk seperti roti vegetarian, bersertifikat kosher atau halal pun bermunculan sebagai alternatif meski pangsa pasarnya masih terbatas. Namun demikian, tren makanan sehat tetap masih yang utama. ...

  • Jan 20, 2018

    Preferensi Konsumen Terhadap Produk Bakeri

    Konsumen mempunyai kriteria tertentu terhadap mutu roti terutama kesegaran (freshness) dan aroma roti. Bread staling merupakan perubahan fisiko-kimia yang kompleks yang terjadi secara perlahan sehingga menyebabkan pengerasan crumb dan pelunakan crust sehingga roti kehilangan kesegarannya. Oleh karenanya sangat penting untuk menjaga kelembutan roti sehingga kesegaran roti dapat terjaga dalam waktu yang lebih lama. Di samping itu, tingkat kesukaan konsumen terhadap roti juga berbeda-beda, misalnya roti sandwich Inggris mempunyai struktur crumb yang lembut dan tekstur sangat halus, namun tidak populer di Perancis yang menyukai baguettes dengan crust yang renyah, berlubang besar dan crumb yang kenyal.  ...

  • Jan 19, 2018

    Perlunya Pendekatan Keamanan Pangan untuk Kontaminan Hasil Proses

    Menurut Codex Alimentarius, kontaminan merupakan setiap substansi yang tidak sengaja ditambahkan ke dalam bahan pangan atau pakan yang akan muncul sebagai hasil proses produksi, pengolahan, penyiapan, pengemasan, transportasi dan penyimpanan sebelum distribusi, ataupun hasil dari kontaminasi lingkungan. Pengertian tersebut tidak termasuk bagian serangga, rambut, hewan pengerat, dan bahan dari lingkungan eksternal lainnya. ...

  • Jan 18, 2018

    Peran Lipase dan Glukosa Oksidase dalam Pembuatan Roti

    Lipase dan Glukosa Oksidase merupakan dua enzim yang diaplikasikan pada pembuatan roti. Lipase menghidrolisis ikatan ester pada asilgliserol menghasilkan mono- dan digliserida, serta asam lemak bebas. Aplikasi lipase komersial relatif baru dibandingkan dengan enzim yang lain. Sebagian besar lipase komersial berasal dari jamur. Lipase spesifik terutama meningkatkan kekuatan dan stabilitas adonan. Gluten dari tepung terigu yang diperlakukan dengan lipase lebih kuat dan lebih elastis. Oleh karenanya, lipase dapat menjadi alternatif pengganti bahan kimia untuk penguatan adonan dan emulsifier. ...

  • Jan 16, 2018

    Penambahan Hidrokoloid Perbaiki Sifat Sensoris Bakeri dari Tepung Termodifikasi

    Selain gluten, komponen lain yang juga sangat penting untuk bakeri adalah pati. Penambahan pati berhubungan dengan struktur, kadar air, umur simpan, hasil dan juga biaya produksi. Secara sensoris, pati mempengaruhi rasa, tekstur dan mouthfeel produk. Pati dapat memengaruhi kekentalan serta crispness produk pangan. Oleh karena tepung termodifikasi mengandung kadar pati yang jauh lebih tinggi daripada terigu (amilosa > 25%), maka tentunya produk yang dihasilkan akan memiliki karakteristik pengembangan, kelarutan, penyerapan air dan gelatinisasi yang berbeda. Secara sensoris produk yang dihasilkan dengan penambahan tepung modifikasi cenderung memiliki tekstur yang lebih keras atau padat, kurang elastis, mudah patah dan keras (Yuwono, dkk, 2013).  ...