Menjawab Permintaan Konsumen dengan Ingridien Berkualitas Tinggi



Ingridien tertentu ditambahkan pada berbagai produk tersebut untuk dapat meningkatkan kualitas sonsori dari produk yang dihasilkan. Business Development Director PT Foodex Inti Ingredient, Jenny Kartika Rusli menyampaikan bahwa berbagai jenis bumbu dan ingredien dikembangkan oleh perusahaannya, seperti savory seasoning, sweet seasoning, meat extract, functional ingredient, flavor ingredient, dan ready-to-eat meal solution dalam bentuk bumbu bawang, cabai, keju, sayur kering, daging, soto, rendang, kuah bakso, BBQ, dan sebagainya untuk membantu industri pangan dalam menciptakan produk yang sesuai dengan permintaan konsumen. 

Bumbu dan ingredien yang mereka kembangkan juga dapat bersifat sesuai pesanan (customized), sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri pangan. Produk perusahaannya juga telah diekspor ke berbagai negara di dunia. Menurut Jenny, perusahaannya juga memanfaatkan bahan baku lokal, seperti rempah-rempah khas Indonesia, dengan pilihan rempah favorit yaitu: bawang, cabai, dan lada. 

Selain rempah tersebut, bumbu daging dan produk susu juga menjadi primadona yang semakin diminati. Hal ini dikarenakan pemilihan bahan baku yang berkualitas. Misalnya pada bumbu daging, proses pembuatan dilakukan dengan menggunakan bahan baku daging asli yang diproses sedemikian rupa, sehingga tetap mempertahankan rasa asli dari daging. 

Berbagai upaya terus dilakukan, terutama untuk menjamin kualitas dari bumbu dan ingredien yang digunakan, meskipun tantangan dalam proses produksi tetap ada, yaitu pada konsistensi dan harga bahan baku dari suplier. Dia menjelaskan bahwa sistem jaminan mutu telah diterapkan di perusahaannya sesuai dengan regulasi di dalam maupun luar negeri. 

ìSemakin berkembangnya gaya hidup masyarakat modern, masyarakat cenderung memilih produk yang instan. Oleh karena itu, Foodex juga mengembangkan produk ready-to-eat dalam berbagai jenis,î kata Jenny. Berbagai produk instan tersebut misalnya adalah bubur ayam dan bubur kacang, yang dikemas dalam kemasan retort pouch dan disterilisasi dengan teknologi modern. 

Cara mengonsumsinya juga cukup sederhana, hanya dipanaskan selama 3-5 menit dan langsung siap disantap. Berbagai produk tersebut tidak menggunakan bahan tambahan pengawet, namun dapat disimpan hingga 12 bulan dalam suhu ruang. Fri-30

Informasi artikel FiA lain dapat dilihat pada FOODREVIEW INDONESIA Vol XI, No 11, 2016 edisi "Appropriate Packaging" di www.foodreview.co.id.

Artikel Lainnya

  • Jun 20, 2018

    Regulasi produk seasoning di Indonesia

    Produk seasoning yang termasuk ke dalam kategori pangan 12.0 meliputi garam,  rempah, sup, saus, salad, dan protein yang telah diatur di dalam Peraturan Kepala BPOM No. 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan 01.0 ñ 16.0.  kategori produk seasoning tersebut merupakan jenis bahan-bahan yang sering ditambahkan pada pangan olahan. Untuk itu, pangan olahan yang mengandung produk seasoning juga sangat perlu memenuhi beberapa poin yang menjadi konsentrasi baik pihak produsen, konsumen, maupun pemerintah dalam pengawasan.  Beberapa poin tersebut adalah keamanan yang meliputi bahan tambahan pangan (BTP), bahan baku, cemaran, bahan penolong, dan kemasan pangan; mutu, gizi, label, dan iklan.  ...

  • Jun 19, 2018

    Praktek higiene dan sanitasi dalam penanganan susu segar

    Berdasarkan standar kualitas susu segar (SNI 31411:2011) jumlah mikroba maksimum yang diperbolehkan adalah 1 juta koloni per mililiter (10 CFU/mL). Oleh sebab itu, susu segar pada umumnya akan mengalami kerusakan setelah 4-5 jam pada suhu kamar. Untuk menghasilkan susu segar dengan angka mikroba yang rendah harus dimulai dengan praktek higiene dan sanitasi yang baik sebelum pemerahan, saat pelaksanaan pemerahan, hingga penanganan pasca pemerahan. Pada waktu masih di dalam tubuh dan ambing ternak yang sehat, susu masih dalam keadaan steril. Kontaminasi mikroba di dalam susu terjadi pada saat proses pemerahan, yaitu berasal kulit tubuh ternak khususnya bagian seputar ambing dan puting, dari tangan pemerah, dari wadah/ peralatan penampungan susu, dan lingkungan tempat pemerahan. ...

  • Jun 18, 2018

    Potensi pemanfaatan peptida bioaktif dalam produk susu

    Meningkatnya perhatian akan hubungan asupan pangan terhadap kesehatan membuat konsumen menginginkan produk pangan yang bisa bermanfaat dalam mencegah  munculnya penyakit serta secara sinergi meningkatkan status kesehatan. Protein merupakan salah satu zat gizi utama yang terdapat dalam asupan harian dan di samping  perannya dalam menyuplai gizi, protein juga mempunyai komponen fungsional yang memiliki fungsi positif bagi tubuh, yaitu berupa peptida bioaktif (bioactive peptide). ...

  • Jun 15, 2018

    Perancangan proses pengolahan susu untuk mengantisipasi ancaman foodborne pathogen

    Penyakit yang disebabkan oleh patogen (foodborne pathogen) masih menjadi permasalahan hampir di seluruh negara secara global. Penyakit  tersebut paling sering disebabkan oleh mikrobiologi seperti bakteri dan metabolitnya serta virus dan toksinnya.  ...

  • Jun 14, 2018

    Penggunaan laktoperoksidase untuk pengawetan susu segar

    Dewasa ini telah dikembangkan suatu metode pengawetan susu segar dengan cara mengaktifkan enzim laktoperoksidase (LPO) yang secara alami sudah ada di dalam susu. LPO merupakan salah satu dari puluhan jenis enzim di dalam susu segar dengan berat molekul berukuran sedang (78.000 Dalton) dan mengandung karbohidrat sekitar 10%. Di samping ada di dalam susu segar, LPO juga ditemukan pada cairan tubuh hewan mamalia dan manusia, seperti pada saliva dan kolostrum. Metode pengaktifan LPO untuk pengawetan susu segar dikenal dengan sebutan lactoperoxydase-system atau sistem laktoperoksidase (Sistem-LPO). Aktifnya LPO di dalam susu dapat menghasilkan efek antibakteri pada susu segar (Legowo et al., 2009). ...