UPDATE REGULASI PANGAN BERKLAIM


 

Semakin meningkatnya kesadaran konsumen terhadap hubungan pangan dan timbulnya penyakit telah mengubah pandangan bahwa pengan tidak sekadar untuk mengenyangkan dan sebagai sumber zat gizi, namun juga untuk meningkatkan kesehatan. Selain itu, perubahan gaya hidup dan perkembangan ilmu pengetahuan serta teknologi pangan mendorong konsumen untuk lebih selektif dalam memilih produk pangan.

 

Berdasarkan data dari WHO, profil Non Communicable Deaseas (NCD) atau penyakit tidak menular di beberapa negara mempunyai tren yang terus meningkat dari 1990-2015, yang besarnya 37%-57% jika dibandingkan dengan penyakit menular dan cedera. Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), tren penyebab kematian saat ini didominasi oleh penyakit tidak menular, dimana penyebab kematian utama pada 2013 adalah stroke, penyakit jantung, dan diabetes mellitus.

Dalam FOODREVIEW INDONESIA In-depth Seminar bertema ìChallenges and Opportunities of Functional Food Industry yang diselenggarakan di IPB International Convention Center Bogor pada 13 Oktober 2016, Kepala Sub Direktorat Standardisasi Pangan Khusus Badan POM, Yusra Egayanti, S.Si, Apt menjelaskan, ìRegulasi terbaru tentang klaim produk pangan olahan diatur dalam Peraturan Kepala (PerKa) Badan POM No. 13 tahun 2016 tentang Pengawasan Klaim Pada Label dan Iklan Pangan Olahan. Peraturan ini merupakan pembaharuan dari peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Kepala Badan POM No. HK.03.1.23.11.11.09909 tahun 2011.î

Informasi lebih lanjut dapat dilihat pada FOODREVIEW INDONESIA Vol XII, No 12, 2016 edisi "Trendy Bakery" di www.foodreview.co.id atau pustakapangan.com

Artikel Lainnya

  • Mei 22, 2018

    Menilik sejarah proses alkalisasi proses pembuatan bubuk kakao

    Biji kakao yang sudah difermentasi dan dikeringkan tetap mempunyai rasa asam yang cukup tajam. Hal tersebut karena dalam proses fermentasi dan pengeringan akan tersisa molekul asam asetat yang cukup signifikan dalam biji kakaoa. Diketahui pH biji kakao terfermentasi dan dikeringkan berkisar antara 4,8- 5,2 di mana kakao dari  Malaysia dan Indonesia tergolong memiliki pH rendah sedangkan biji kako dari Afrika mempunyai pH lebih tinggi. Dalam pembuatan minuman kakao, tingkat keasaman yang tinggi dirasa kurang baik.  ...

  • Mei 21, 2018

    Mengenal asam lemak trans dalam produk pangan

    Lemak merupakan salah satu bahan tambahan yang banyak digunakan pada produk bakeri. Lemak pada produk bakeri memberikan beberapa manfaat seperti dapat memperbaiki tekstur, memberikan efek yang glossy serta memberikan flavor yang lebih baik dan gurih. Lemak pada produk bakeri merupakan komponen yang tak terpisahkan dan keberadaanya dapat menentukan kualitas dari suatu produk bakeri. Selain produk bakeri, beberapa produk lain yang juga menggunakan lemak dalam proses produksinya adalah krimer kopi, makanan ringan, es krim, dan makanan cepat saji. Bahkan, beberapa diantara produk tersebut juga menggunakan asam lemak trans pada produksinya.  ...

  • Mei 19, 2018

    Tantangan aplikasi pewarna alami untuk produk pangan

    Atribut warna pada produk pangan menjadi atribut penting bagi konsumen untuk memilih suatu produk pangan. Konsumen cenderung memilih produk pangan dengan warna yang menarik, sebelum memperhatikan atribut lainnya. Berdasarkan sumbernya, pewarna makanan dibedakan menjadi dua jenis, pewarna alami dan pewarna sintetis. Pewarna alami diproduksi dari proses ekstraksi senyawa pemberi warna dari bahan-bahan alami, melalui proses dan teknologi yang cukup panjang, sedangkan pewarna sintetis berasal dari bahan-bahan kimia sintetis yang penggunaannya diizinkan sebagai pewarna makanan. Baik pewarna alami maupun pewarna sintetis memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. ...

  • Mei 18, 2018

    Granola Bar sebagai salah satu produk confectionery

    Di pasar, golongan granola bar dimasukkan dalam countline, yaitu  produk-produk yang dijual secara individual dalam bungkusan kecil  dan diperuntukkan untuk konsumen langsung. ...

  • Mei 17, 2018

    Aplikasi pewarna alami larut minyak untuk produk pangan

    Berdasarkan sifat kelarutannya, pewarna alami dibedakan menjadi pewarna larut air dan pewarna larut minyak. Pewarna larut air dan pewarna larut minyak diperoleh dari proses ekstraksi yang berbeda. Keduanya juga memiliki pemanfaatan yang berbeda-beda tergantung pada aplikasi produknya. Menurut Technical Industry Manager, Natural Color division Global Marketing CHR Hansen Denmark, Rikke Sakstrup Frandsen pada acara In-depth Seminar Unleashing The Potency of Oil Soluble Food Coloring yang diadakan oleh Foodreview Indonesia, 19 April 2018 lalu, produk berbasis lemak secara umum membutuhkan pewarna larut minyak untuk menghasilkan pewarnaan yang optimal dan lebih stabil. Pewarna larut minyak dalam bentuk bubuk memiliki kelebihan pada aplikasinya dalam produk berbasis lemak atau rendah air, beberapa di antaranya yaitu mudahnya aplikasi bubuk pewarna baik dalam bentuk bubuk maupun bentuk suspensi, menghasilkan pewarna alami yang mudah larut, dapat disimpan pada suhu ruang, umur simpan mencapai 6 ñ 9 bulan, stabil dan tidak menimbulkan migrasi warna. ...