Pentingnya Mengetahui Indeks Hidrasi Minuman


Oleh Nindya Atika Indrastuti, STP
Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan
Institut Pertanian Bogor

Sekitar 60-70% dari berat tubuh manusia adalah air. Di dalam tubuh, air dibutuhkan untuk menjaga kestabilan suhu tubuh, kelembaban kulit serta membantu proses peredaran oksigen dan zat gizi penting bagi sel. Kebutuhan air tubuh sebanyak 70-80% berasal dari air yang kita konsumsi sedangkan 20-30% berasal dari makanan. Di sisi lain, secara konstan tubuh akan kehilangan air melalui urin, keringat, air dalam feses dan udara yang kita hembuskan melalui paru-paru. Keseimbangan cairan dalam tubuh (hidrasi) penting dilakukan untuk menjamin fungsi metabolisme sel tubuh.

Penting bagi kita untuk mengetahui seberapa lama minuman yang kita konsumsi mampu bertahan di dalam tubuh. Semakin lama suatu minuman mampu bertahan di dalam tubuh, maka semakin besar kesempatannya untuk diabsorpsi dan digunakan secara efektif. Kemampuan masing-masing individu dalam mengabsorpsi air yang mereka konsumsi berbeda-beda, dipengaruhi oleh karakteristik minuman, jumlah minuman yang dikonsumsi, kandungan makronutrien, serta keberadaan ion elektrolit dan senyawa diuretik.



Pada tahun 2016 seorang peneliti asal Stirling, Loughborough dan Bangor memperkenalkan istilah beverage hydration index (BHI) atau indeks hidrasi minuman. Sama seperti indeks glikemik pada penderita diabetes, BHI menunjukkan respon hidrasi suatu minuman terhadap tubuh. BHI mengalkulasikan seberapa banyak urin kita yang dikeluarkan setelah mengonsumsi suatu minuman relatif terhadap air (standar). Air memiliki nilai BHI 1.0. Jumlah total urin yang dikeluarkan selama periode waktu tertentu dapat dijadikan sebagai indikator terhadap tingkat absorpsi dan retensi cairan di dalam tubuh. Semakin tinggi nilai BHI, semakin baik minuman tersebut dalam menghidrasi tubuh.

Penelitian yang dilakukan oleh Maughan et al. terhadap 72 orang pria berusia 18-35 tahun menggunakan 13 jenis miuman berbeda yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat pada umumnya. Dari penelitian tersebut diketahui bahwa sport drink tidak menunjukkan kemampuan yang signifikan dalam menyimpan cairan di dalam tubuh dibanding dengan air biasa (Gambar 1). Penelitian ini juga memberikan fakta bahwa minuman berkafein seperti teh dan kopi, jika dikonsumsi dalam kadar dan frekuensi yang normal tidak menyebabkan dehidrasi. Hal paling menarik adalah oral rehydration solution (ORS) dan susu ternyata memiliki nilai BHI 1.5. Hal ini mengartikan bahwa lebih dari 50% minuman tersebut mampu bertahan di dalam tubuh selama 2 jam setelah dikonsumsi dibandingkan dengan air biasa. Tingginya nilai BHI pada minuman susu disebabkan adanya kandungan elektrolit (K+) dan makronutrien (protein dan lemak) yang tinggi. Kedua senyawa ini berperan dalam meperlambat proses ekskresi urin. Hal in dapat menjadikan ORS dan susu sebagai solusi untuk mengembalikan cairan tubuh yang hilang. Studi ini juga menjelaskan bahwa minuman yang kita konsumsi baik dalam keadaan dingin ataupun panas tidak mempengaruhi nilai BHI.

Meskipun telah diketahui bahwa susu dan ORS mampu menghidrasi tubuh lebih baik dibandingkan dengan air biasa, bukan berarti kita harus merubah kebiasaan pola minum harian kita. Hasil penelitian di atas hanya berlaku jika kita mengkonsumsi minuman dalam jumlah dan kondisi tubuh yang normal. Perlu diketahui juga bahwa penelitian tersebut dilakukan dalam keadaan perut responden masih kosong pasca berpuasa selama 8 jam. Pada umumnya, kita mengkonsumsi cairan bukan hanya untuk memuaskan rasa haus kita tetapi juga sebagai stimulan ringan seperti minum teh dan kopi. Kebiasaan mengonsumsi minuman selain air biasa dapat memberikan asupan kalori lebih tinggi dari jumlah yang dibutuhkan. Pada akhirnya kita perlu berpikir kembali untuk mengetahui tingkat hidrasi kita dan jenis minuman apa yang baik untuk tetap menjaga kesehatan tubuh.

Referensi :

Maughan RJ, et al. 2016. S randomized tral to assess the potential of different beverages to affect hydration status, development of a beverage hydration index. Am. J Cln. Nutr 103: 717-723.

Popkin BM, Kristen E D’Anci, and Irwin H. 2010. Water,hydrtion and health. Nutr Rev 68 (8): 439-458


DISCLAIMER : Semua isi artikel ini adalah hasil dari tulisan penulis dan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Adapun jika ada materi di dalam artikel ini yang mungkin ada unsur duplikasi baik berupa teks maupun gambar, penulis tidak ada niat untuk melanggar hak cipta. Jika anda adalah pemilik sah dari salah satu gambar di artikel ini dan berkeinginan untuk tidak ingin ditampilkan, maka silahkan hubungi kami.

 

Artikel Lainnya

  • Sep 23, 2018

    Pengaruh Sugar Glass Terhadap Stabilitas Antibakteri

    Efektivitas aplikasi sugar glass terhadap stabilitas aktivitas antibakterial dalam pelapis bakteriofag produk pangan dipengaruhi oleh beberapa hal seperti kombinasi antara pullulan-trehalose dan konsentrasi trehalose yang digunakan. Kombinasi antara pullulan dan trehalose mempengaruhi efektivitas dengan pertimbangan bahwa kedua bahan tersebut diharapkan bersifat komplementer satu sama lain. Ada beberapa variasi campuran yang telah dilakukan yaitu pullulan-trehalose, pullulan tanpa trehalose, dan trehalose saja. ...

  • Sep 22, 2018

    Sugar Glass pada Pelapis Bakteriofag Produk Pangan

    Foodborne illness merupakan penyakit yang disebabkan oleh kontaminasi bakteri patogen pada produk pangan. Selama ini upaya untuk mengurangi kontaminasi  bakteri masih mengandalkan aplikasi bahan kimiawi. Bahan pelapis antibakteri dengan enkapsulan sugar glass dapat menjadi metode alternatif untuk mengurangi adanya kontaminasi bakteri pada produk pangan.  ...

  • Sep 21, 2018

    Prinsip Teknologi lab-on-smartphone

    Penerapan lab-on-smartphone ini juga tidak terlepas dengan prinsip biosensor yang menyertai. Biosensor adalah alat pendeteksi yang menggunakan atau menggabungkan komponen biologis (mikroba, jaringan, sel, bakteri, protein, enzim, antibodi) dan elektronis untuk menghasilkan sinyal yang terukur yang dapat mendeteksi, mencatat, dan mengirimkan informasi secara cepat. Pada biosensor, terjadi perubahan sifat fisika-kimia pada biomolekul yang digunakan dan dapat merepresentasikan informasi yang ditransduksikan dengan transduser fisis menjadi besaran elektronik untuk bisa diolah selanjutnya. ...

  • Sep 21, 2018

    Ekspo Inovasi Sumber Daya Hayati

    Inovasi merupakan salah satu hal yang penting dalam pengembangan produk pangan. Hal tersebut sangat diperlukan untuk menjawab tantangan tren produk pangan yang terus berganti. Permintaan akan produk pangan sangat bervariasi menyesuaikan selera konsumen sebagai penggunanya. ...

  • Sep 20, 2018

    Teknologi lab-on-smartphone untuk Pengujian Produk Pangan

    Salah satu parameter dari suatu produk pangan yang mengalami kerusakan adalah terjadi perubahan pada warna, rasa, tekstur, dan juga aroma. Perubahan  tersebut terjadi karena reaksi-reaksi zat kimia yang terkandung di dalam suatu produk pangan dan tidak berfungsinya kembali bahan pengawet yang digunakan. Selama ini, untuk mendeteksi salah satu unsur kerusakanseperti aroma hanya menggunakan indera penciuman untuk mendeteksi pembusukan pada produk pangan. ...

Finasterid Generika 1mg cialis super active online Lida Daidaihua Inhaltsstoffe Original Viagra Use Generisk finasterid ED Packs Levitra Original Kamagra Effervescent Tablets Meizitang soft gel original version Propecia For Hair Loss Viagra 50mg Generic Levitra (Vardenafil) 20mg Lida Daidaihua Lida Daidaihua Meizitang funziona Original Viagra Pills Pacchetto di prova generici Lipitor Generika Kamagra Super ingredientes activos Meizitang in Ireland