Nanocoating: Solusi Pengemasan yang Aman


Oleh Sylviana
Mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan
Universitas Surya, Tangerang

Setiap pangan yang beredar menggunakan pengemas ketika didistribusikan, mulai dari bahan kertas, plastik, sampai kemasan kaca. Banyak orang memberikan parsel kepada kerabat dan seringkali makanan tersebut dikemas dalam kemasan plastik ataupun kertas yang kontak langsung dengan produk pangan. Contohnya adalah kue kering yang ditambahkan kertas sebagai alas dan dikemas dalam bahan plastik.

Kemasan pangan seharusnya dapat menjaga kualitas dari produk agar tetap aman ketika dikonsumsi dan mempertahankan stabilitas organoleptiknya. Namun, pengemas justru juga dapat menjadi sumber kontaminasi.

Konsumen dan penjual seringkali tidak mengetahui atau bahkan mengabaikan hal tersebut. Pengemas berbentuk kertas yang kontak langsung dengan produk dapat menimbulkan potensi bahaya ketika mengandung logam berat dalam bentuk tinta cetak, lilin, dan zat pemutih.

Menurut Sanusi (2015), kecepatan migrasi kontaminan dapat bergantung pada jenis bahan, luas permukaan kontak, suhu, dan waktu kontak. Bahan pangan yang cukup bertahan lama, seperti kue kering akan mengalami waktu kontak yang lebih lama. Efek negatif yang diberikan mulai dari gangguan reproduksi, mutasi gen, hingga kanker.

Mengacu pada kontaminasi kimiawi yang mungkin terjadi, maka diperlukan alternatif bahan yang dapat digunakan sebagai pengemas yang kontak langsung dengan produk atau disebut kemasan primer. Salah satunya adalah dengan cara dilapisi selaput pelindung atau coating.

Pengembangan teknologi memanfaatkan pati dari kentang atau bahan lain, sehingga coating yang dibuat dapat dimakan bersama dengan produk atau yang biasa disebut dengan edible coating.

Aplikasi nanocoating dalam peningkatan keamanan pengemasan

Salah satu tren yang sedang berkembang saat ini adalah nanoteknologi termasuk nanopartikel yang berpotensi diaplikasikan sebagai bahan pelindung untuk melindungi produk dari migrasi kontaminan mikrobiologis, bahan baku kimia kemasan yang berbahaya, serta substansi berbahaya dari lingkungan, sehingga akan meningkatkan keamanan dan kualitas produk. Coating yang dibuat dengan metode nanoteknologi disebut juga dengan nanocoating.

Penelitian dalam mengaplikasikan coating berukuran nano yang berhasil dilakukan salah satunya adalah oleh Rampazzo, dkk (2017), yaitu cellulose nanocrystals (CNC). Bahan ini terbukti dapat mencegah terjadinya kontaminasi mikroba karena hambatan terhadap oksigen yang cukup tinggi, sehingga mikroorganisme tidak dapat bermigrasi ke dalam produk.

Selain itu, bahan yang digunakan lebih tidak beracun dibandingkan kemasan lain, sehingga dapat mengurangi potensi terjadinya cemaran kimiawi. Biaya yang dikeluarkan cenderung lebih murah karena CNC dapat dibuat menggunakan lignoselulosa, yaitu bahan yang tidak digunakan dan menjadi waste dalam pengolahan berbagai produk serta bersifat dapat diperbaharui.

Bahan selanjutnya yang dapat diolah menjadi nanocoating adalah seng oksida yang ditambahkan dengan films poli (3-hidroksibutirat-co-3-hidroksivalerat). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Castro-Mayorga, dkk. (2016) campuran kedua bahan tersebut meningkatkan aktivitas antimikroba karena terbukti menghambat pertumbuhan L. monocytogenes. Selain itu, pelindung ini juga dapat menjaga mutu pangan dengan membuat produk tahan terhadap pemanasan.

Menurut regulasi EU No 10/2011, makanan yang mengalami kontak dengan seng memiliki batasan, yaitu 25 mg/kg produk. Dosis yang digunakan dalam pembuatan coating dengan bahan seng oksida ini masih berada dalam batas aman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan coating dalam ukuran nano lebih dapat meningkatkan kesegaran produk.

Berdasarkan hal tersebut, penjual tidak perlu menambahkan bahan berbahaya lain pada kemasan untuk meningkatkan mutu produk dan menghasilkan pangan yang aman untuk dikonsumsi.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Wrona, dkk. (2017) menyatakan bahwa hidropropil metilselulosa (HMPC) bersama dengan campuran poli (asam laktat) berukuran nanopartikel dapat dijadikan sebagai pengemas makanan yang dapat meningkatkan keamanan dan mutu produk. Pencampuran ini juga menggunakan bantuan antioksidan dan ekstrak teh hijau.

Manfaat utama dari nanocoating

            Produk yang dikemas menggunakan nanocoating sebenarnya memiliki beberapa manfaat, yaitu bahan yang digunakan aman untuk dikonsumsi secara bersama dengan produknya. Bahan tersebut tidak hanya aman bagi tubuh, melainkan juga aman bagi lingkungan.

Dalam realitanya, coating yang berukuran mikro lebih umum dikenal oleh masyarakat dan diyakini tidak membahayakan tubuh. Sebagian besar bahan yang digunakan adalah bahan alami, sehingga tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dalam pengolahannya.

            Manfaat lain adalah produk lebih terjaga mutunya dan dapat memperpanjang umur simpan walaupun tanpa penambahan pengawet. Hal ini disebabkan pelapisan bertindak sebagai pelindung produk dari oksigen, kelembaban, cahaya, lemak, dan keadaan lainnya yang merusak produk.

Hambatan aplikasi nanocoating di Indonesia

Dengan berbagai bahan yang dapat diolah menjadi nanocoating seharusnya Indonesia dapat menerapkan dan mengembangkannya, sehingga produk makanan yang dikemas di Indonesia dapat terjaga mutu dan kualitasnya. Namun, biaya pengolahan yang dikeluarkan cukup mahal.

Penerapan nanoteknologi khususnya nanopartikel di Indonesia belum cukup berkembang juga disebabkan oleh pengetahuan konsumen ataupun penjual produk pangan di Indonesia, sehingga pengemas yang digunakan berasal dari bahan-bahan berbahaya.

Masalah lainnya adalah belum berlakunya regulasi yang dapat menekan pemiliki usaha pangan untuk menjaga keamanan produknya. Contohnya adalah pengemasan dengan kertas. Negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa telah mengacu pada European Commission (EC) 1935/2004, yang berisi mengenai ambang batas senyawa kimia berbahaya seperti logam berat. Di Amerikat serikat, USDFA mensyaratkan bahwa kemasan yang digunakan dijabarkan seluruh bahan bakunya, sehingga dapat diidentifikasi cemaran mikrobiologi dan kimiawinya.

Oleh sebab itu, dengan menerapkan regulasi di Indonesia yang lebih tepat, maka diharapkan penerapan pembuatan coating sebagai bahan antimikroba dan substansi kimia berbahaya dapat ditingkat.

Potensi perkembangan nanocoating di Indonesia

Sebenarnya, banyak bahan lokal Indonesia yang dapat dijadikan sebagai bahan baku dalam pembuatan nanocoating. Salah satunya adalah ampas tebu dan limbah padi. Keduanya mengandung lignoselulosa yang cukup tinggi dan bermanfaat dalam komponen utama pembuatan coating. Keduanya juga dikategorikan sebagai waste, sehingga apabila diolah menjadi nanocoating dapat mengurangi pencemaran lingkungan.

Contoh lainnya adalah memanfaatkan alga. Indonesia memiliki kekayaan laut yang cukup luas dan alga merupakan salah satu sumber daya yang berpotensi untuk dikembangkan. Alga juga dapat dijadikan sebagai pelindung karena kemampuannya membentuk gel. Ketika dioah menjadi nanocoating, bahan ini tidak akan membahayakan produk.

Dengan memanfaatkan alga sebagai nanocoating, Indonesia juga dapat mengangkat potensi pangan lokal ke dunia. Oleh sebab itu, penelitian perlu dilakukan untuk menerapkan bahan lokal dalam pembuatan nanocoating, sehingga produk lebih aman dan terjaga.

Referensi:

Castro-Mayorga, J. dkk., 2016. The impact of zinc oxide particle morphology as an antimicrobial and when incorporated in Poly(3-hydroxybutyrate-co-3-hydroxyvalerate) films for food packaging and food contact surfaces applications. Food and Bioproducts Processing.

Rampazzo, R. dkk., 2017. Cellulose Nanocrystals from Lignocellulosic Raw Materials, for Oxygen Barrier Coatings on Food Packaging Films. Packaging Technology and Science.

Sanusi, 2015. Kemasan Pangan di Indonesia Belum Sesuai Standar. [Online]
Available at: http://www.tribunnews.com/kesehatan/2015/11/01/kemasan-pangan-di-indonesia-belum-sesuai-standar [Accessed 14 Juni 2017].

Wrona, M., M.J.Cran, Nerin, C. & Bigger, s., 2017. velopment and characterisation of HPMC films containing PLA nanoparticles loaded with green tea extract for food packaging application. carbohydrate polymers, Volume 156, pp. 108-117.

DISCLAIMER: Semua isi artikel ini adalah hasil dari tulisan penulis dan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Adapun jika ada materi di dalam artikel ini yang mungkin ada unsur duplikasi baik berupa teks maupun gambar, penulis tidak ada niat untuk melanggar hak cipta. Jika Anda adalah pemilik sah dari teks atau salah satu gambar di artikel ini dan berkeinginan untuk tidak ingin ditampilkan, maka silahkan hubungi kami.

Artikel Lainnya

  • Jun 22, 2018

    Strategi pengembangan peptida bioaktif pada produk susu

    Melihat potensi peptida bioaktif dalam menjaga dan meningkatkan kesehatan, maka ragam produk fermentasi susu dapat dikembangkan sehingga mempunyai sifat fungsional dengan komponen peptida bioaktif yang spesifik. Hafeez dkk. (2014) beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk pengembangan peptida bioaktif pada produk susu, yaitu (i) penggunaan sistem proteolisis dari bakteri asam laktat (BAL) untuk menghasilkan peptida bioaktif, (ii) produksi peptida bioaktif di luar produk susu fermentasi, misalnya secara in vitro yang diikuti dengan suplementasi ke susu, dan (iii) eksplorasi produksi peptida bioaktif menggunakan teknologi rekombinasi DNA. ...

  • Jun 21, 2018

    Sintesis EPA dan DHA di dalam Tubuh

    Penemuan EPA dan DHA berawal dari hasil pengamatan epidemiologis di tahun 1970 pada suku Inuit di Greenland di mana walaupun mempunyai asupan tinggi lemak, tetapi mempunyai kadar kolesterol darah yang rendah dan jarang menderita penyakit kardiovaskular.  Penemu asam lemak ini yaitu Dyerberg dan Bang, pertama kali mempublikasikan hasil temuannya tersebut pada tahun 1971.  Saat ini publikasi ilmiah terkait asam lemak omega-3 telah mencapai lebih dari 14.000 artikel termasuk 8.000 publikasi tentang uji klinis. ...

  • Jun 20, 2018

    Regulasi produk seasoning di Indonesia

    Produk seasoning yang termasuk ke dalam kategori pangan 12.0 meliputi garam,  rempah, sup, saus, salad, dan protein yang telah diatur di dalam Peraturan Kepala BPOM No. 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan 01.0 ñ 16.0.  kategori produk seasoning tersebut merupakan jenis bahan-bahan yang sering ditambahkan pada pangan olahan. Untuk itu, pangan olahan yang mengandung produk seasoning juga sangat perlu memenuhi beberapa poin yang menjadi konsentrasi baik pihak produsen, konsumen, maupun pemerintah dalam pengawasan.  Beberapa poin tersebut adalah keamanan yang meliputi bahan tambahan pangan (BTP), bahan baku, cemaran, bahan penolong, dan kemasan pangan; mutu, gizi, label, dan iklan.  ...

  • Jun 19, 2018

    Praktek higiene dan sanitasi dalam penanganan susu segar

    Berdasarkan standar kualitas susu segar (SNI 31411:2011) jumlah mikroba maksimum yang diperbolehkan adalah 1 juta koloni per mililiter (10 CFU/mL). Oleh sebab itu, susu segar pada umumnya akan mengalami kerusakan setelah 4-5 jam pada suhu kamar. Untuk menghasilkan susu segar dengan angka mikroba yang rendah harus dimulai dengan praktek higiene dan sanitasi yang baik sebelum pemerahan, saat pelaksanaan pemerahan, hingga penanganan pasca pemerahan. Pada waktu masih di dalam tubuh dan ambing ternak yang sehat, susu masih dalam keadaan steril. Kontaminasi mikroba di dalam susu terjadi pada saat proses pemerahan, yaitu berasal kulit tubuh ternak khususnya bagian seputar ambing dan puting, dari tangan pemerah, dari wadah/ peralatan penampungan susu, dan lingkungan tempat pemerahan. ...

  • Jun 18, 2018

    Potensi pemanfaatan peptida bioaktif dalam produk susu

    Meningkatnya perhatian akan hubungan asupan pangan terhadap kesehatan membuat konsumen menginginkan produk pangan yang bisa bermanfaat dalam mencegah  munculnya penyakit serta secara sinergi meningkatkan status kesehatan. Protein merupakan salah satu zat gizi utama yang terdapat dalam asupan harian dan di samping  perannya dalam menyuplai gizi, protein juga mempunyai komponen fungsional yang memiliki fungsi positif bagi tubuh, yaitu berupa peptida bioaktif (bioactive peptide). ...