The Way 3D Food Printer Responds to Consumer’s Desire for Food




oleh Tania Yovani dan David Immanuel
Mahasiswa Universitas Surya

3D printeratau sering disebut sebagai manufaktur aditif merupakan teknologi yang saat ini banyak diperbincangkan dan telah banyak diaplikasikandalam pembuatan makanan yangdiharapkan dapat membawa perubahan baik bagi kehidupan manusia.

Berubahnya pola hidup masyarakat seiring perkembangan teknologi yang memudahkan perolehan informasimembuat masyarakat cenderung menginginkan pengalaman kuliner yang semakin menarik dan menyenangkan. Salah satu hal yang menjadi penyebab perubahan pola hidup konsumen adalah media sosial yang mengakibatkan semakin banyaknya para penggila produk pangan yang suka memburu berbagai macam produk untuk difoto dan memajangnya di media sosial.

Konsumen saat ini cenderung mencari produk pangan yang benar-benar baru, tidak mainstream, hingga produk dengan merek baru. Berdasarkan IRI’s New Product Survey tahun 2015, 29% dari 1500 konsumen di Amerika menginginkan produk pangan baru yang dapat memberikan kepuasan tanpa harus membayar dengan harga restoran, 24% mengingikan produk yang dapat menambah kegembiraan pada makanan hariannya, dan 21% menginginkan produk yang benar-benar baru dan berbeda.

3D food printer hadir menjawab keinginan konsumen tersebut dengan membuatproduk pangan yang memiliki bentuk unik, struktural, geometris, rumit, presisi secara matematis,customizable sesuai keinginan konsumen ataupun bentuk lainnya yang mustahil dibuat menggunakan tangan.Sederhananya, cara kerja 3D food printer adalah membangun produk 3 dimensi selapis demi selapis dengan menyetorkan bahan, atau menggunakan laser/ cairan untuk mengatur lapisan-lapisan bubuk.

Proses ini dikontrol secara elektronik, bahan pangan yang digunakan untuk mencetak produk panganharus disiapkan terlebih dahulu, dan pola yang terbentuk padaproduk pangan yang dicetak merupakan hasil desain yang digambar menggunakan software komputer, seperti AutoCAD, Solidworks dan CATIA.Sejauh ini, 3D food printer telah diaplikasikan untuk membuat prototipe produk dengan cepat, membuat produk pangan dengan bentuk dan ukuran yang telah ditentukan, serta memformulasikan produk berdasarkan kebutuhan gizi individu.

3D food printer yang saat ini sudah banyak digunakan merupakan printer yang melibatkan proses ekstrusi.Ekstrusi adalah proses dimana bahan didorong keluar melalui lubang atau cetakan dengan bentuk tertentu.Dalam proses ini, tinta yang telah diformulasikan terbuat dari bahan panganyang dimasukkan kedalam ekstruder berbentuk silinder. Tinta edible ini kemudian diekstrusikan keluar dari nozzle (pipa semprot) dengan gaya yang dihasilkan oleh piston hidrolik (Godoi et al., 2016).

Sebagai contoh, salah satu merek food printer yang sudah banyak digunakan untuk keperluan rumah tangga adalah Foodini. Foodinimemiliki kapsul besi tahan karat yang dapat mengekstruksibahan makanan segar yang lunak untukmembuat produk pangan, seperti kue, cookies, pizza, pasta berisi, dan quiche. Selain Foodini, ChefJet dan Choc Edge juga telah banyak diaplikasikan dalam pembuatan dessert.

ChefJet dapat mengkristalkan lapisan tipis gula halus menjadi berbagai konfigurasi geometris.Sementara Choc Edge dapat membuat cokelat dengan yang pola cantik dengan memanfaatkan proses melting extrusion dimana suhu yang digunakan berkisar 28oC-40oC (Godoi et al., 2016).

Adapun pengembangan terbaru dari 3D food printer saat ini meliputi penggabungan nozzles, penggunaan bahan berbentuk bubuk, laser, dan tangan robot yang digunakan untuk membuat pahatan gula, coklat berpola, dan pastry berkisi (Wiggers, 2017).






Penemuan Edible Growth

Selama ini,3D food printerpaling sering hanya dimanfaatkan untuk membentuk produk pangan yang tidak sehat. Padahal selain produk pangan yang baru, konsumen saat ini juga mulai lebih memilih mengonsumsi produk pangan yang lebih sehat. Hal ini dapat dilihat dari Nielsen’s Global Health and Wellness Survey tahun 2015 yang melibatkan 30.000 konsumen di 60 negara menunjukkan bahwa generasi muda di dunia saat ini jauh lebih memperhatikan segala bahan yang ada pada produk pangan daripada generasi orang tua dan generasi kakek-neneknya.

Generasi Z (usia < 20 tahun) dan millenial (usia 21-34 tahun) diketahui paling rela membayar lebih untuk produk pangan sehat, seperti produk bebas gluten, non-GMO, dan alami secara keseluruhan.

3D food printer seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membuat produk pangan yang lebih sehat. Misalnya anak-anak yang tidak suka mengonsumsi sayuran dapat dibujuk dengan cara mengolah sayuran tersebut menjadi kue dengan bentuk unik yang dapat menarik perhatian mereka.

Chloe Rutzerveld, seorang food designerdari Eindhoven University of Technology yangberkolaborasi dengan Netherlands Organization for Applied Scientific Researchberhasil menemukan sebuah konsep produk pangan yang menyehatkan dan sustainable yang disebut sebagai edible growth.

Edible growth merupakan makanan hidup dimana terdapat jamur dan tumbuhan yang tumbuh secara alami dan dapat tumbuh semakin dewasa melalui proses fermentasi dan fotosintesis menjadi cemilan yang enak.



Edible growth terdiri dari beberapa bagian, yaitu crust dan dibagian dalam crust itu sendiri.Lapisancrustyang terbuat dari adonan dan pasta tersebut merupakan cangkang atau rumah bagi tanaman dan jamur.Di bagian dalam crust tersebut diisi dengan edible agar, spora, benih, dan yeast.

Agar tersebut berfungsi sebagai media yang dapat memberikan nutrisi untuk spora, benih (dalam penelitian ini digunakan benih tumbuhan alfalfa), dan yeast tumbuh.Proporsi pemberian spora, benih dan yeast ini disesuaikan dengan rasa yang diinginkan.
Setelah edible growth ini dicetak dengan 3D printer, konsumen dapat menyimpannya dalam rumah dan sekitar 3-5 hariyeast telah memfermentasi bagian inti yang padat menjadi agak cair sedangkan benih telah tumbuh menjadi kecambah dan spora menjadi jamur. Pada kondisi ini, produk tersebut telah menjadi pangan yang mengandung semua zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh.

Seperti halnya keju Roquefort dan wine, intensitas rasa dan aroma produk ini semakin meningkat seiring bertambahnya waktu. Untuk saat ini, belum ada teknologi 3D printer yang benar-benar dapat membuat produk ini secara keseluruhan. Dalam membuat produk ini, Rutzerveld menggabungkan metode produksi berteknologi canggih dengan praktik menumbuhkan dan membiakkan makanan.

Selain itu, bahan pembuatannya harus digiling dan dikombinasi terlebih dahulu dan bahkan terkadang membutuhkan bahan aditif dan liquid nitrogen agar terbentuk. Oleh karena itu, dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai teknologi pencetakan 3D dan isu keamanan pangan yang dapat melibatkan beberapa tahun.


3D Food Printing di Masa Yang Akan Datang
Sangat disayangkan bila kegunaan 3D printing hanya untuk membuat prototipe dan produk pangan dengan beraneka ragam bentuk yang unik menggunakan bahan yang sudah disiapkan.3D food printer seharusnya dapat menjadi media bagi sejumlah orang berpendidikan dengan latar belakang pengetahuan berbeda (koki, desainer, peneliti) untuk menyatukan atau menggabungkan ide kreatif untuk menciptakan produk baru yang sehat tetapi tetap alami dengan metode produksi yang baru.

Referensi:
Godoi et al. 2016. 3D printing technologies applied for food design: Status and prospects. Journal of Food Engineering 179:44-54.
IRI. 2016. New product pacesetters: Harvesting the fruits of innovation done right. https://www.foodinstitute.com/images/media/iri/IRI_NewProdPace.pdf. Diakses pada 24 September 2017.
Nielsen Global Health and Wellness Survey. Younger consumers endorse healthy foods with a willingness to pay a premium. http://www.nielsen.com/id/en/insights/news/2015/younger-consumers-endorse-healthy-foods-with-a-willingness-to-pay.html. Diakses pada 25 September 2017.
Rutzerveld, C. 2015. Edible growth. http://www.chloerutzerveld.com/edible-growth-2014. Diakses pada 25 September 2017.
Wiggers, K. 2017. From pixels to plate, food has become 3D printing’s delicious new frontier. https://www.digitaltrends.com/cool-tech/3d-food-printers-how-they-could-change-what-you-eat/. Diakses pada 25 September 2017.


DISCLAIMER: Semua isi artikel ini adalah hasil dari tulisan penulis dan sepenuhnya tanggung jawab penulis. Adapun jika ada materi di dalam artikel ini yang mungkin ada unsur duplikasi baik berupa teks maupun gambar, penulis tidak ada niat untuk melanggar hak cipta. Jika Anda adalah pemilik sah dari teks atau salah satu gambar di artikel ini dan berkeinginan untuk tidak ingin ditampilkan, maka silahkan hubungi kami.

Artikel Lainnya

  • Jun 20, 2018

    Regulasi produk seasoning di Indonesia

    Produk seasoning yang termasuk ke dalam kategori pangan 12.0 meliputi garam,  rempah, sup, saus, salad, dan protein yang telah diatur di dalam Peraturan Kepala BPOM No. 21 Tahun 2016 tentang Kategori Pangan 01.0 ñ 16.0.  kategori produk seasoning tersebut merupakan jenis bahan-bahan yang sering ditambahkan pada pangan olahan. Untuk itu, pangan olahan yang mengandung produk seasoning juga sangat perlu memenuhi beberapa poin yang menjadi konsentrasi baik pihak produsen, konsumen, maupun pemerintah dalam pengawasan.  Beberapa poin tersebut adalah keamanan yang meliputi bahan tambahan pangan (BTP), bahan baku, cemaran, bahan penolong, dan kemasan pangan; mutu, gizi, label, dan iklan.  ...

  • Jun 19, 2018

    Praktek higiene dan sanitasi dalam penanganan susu segar

    Berdasarkan standar kualitas susu segar (SNI 31411:2011) jumlah mikroba maksimum yang diperbolehkan adalah 1 juta koloni per mililiter (10 CFU/mL). Oleh sebab itu, susu segar pada umumnya akan mengalami kerusakan setelah 4-5 jam pada suhu kamar. Untuk menghasilkan susu segar dengan angka mikroba yang rendah harus dimulai dengan praktek higiene dan sanitasi yang baik sebelum pemerahan, saat pelaksanaan pemerahan, hingga penanganan pasca pemerahan. Pada waktu masih di dalam tubuh dan ambing ternak yang sehat, susu masih dalam keadaan steril. Kontaminasi mikroba di dalam susu terjadi pada saat proses pemerahan, yaitu berasal kulit tubuh ternak khususnya bagian seputar ambing dan puting, dari tangan pemerah, dari wadah/ peralatan penampungan susu, dan lingkungan tempat pemerahan. ...

  • Jun 18, 2018

    Potensi pemanfaatan peptida bioaktif dalam produk susu

    Meningkatnya perhatian akan hubungan asupan pangan terhadap kesehatan membuat konsumen menginginkan produk pangan yang bisa bermanfaat dalam mencegah  munculnya penyakit serta secara sinergi meningkatkan status kesehatan. Protein merupakan salah satu zat gizi utama yang terdapat dalam asupan harian dan di samping  perannya dalam menyuplai gizi, protein juga mempunyai komponen fungsional yang memiliki fungsi positif bagi tubuh, yaitu berupa peptida bioaktif (bioactive peptide). ...

  • Jun 15, 2018

    Perancangan proses pengolahan susu untuk mengantisipasi ancaman foodborne pathogen

    Penyakit yang disebabkan oleh patogen (foodborne pathogen) masih menjadi permasalahan hampir di seluruh negara secara global. Penyakit  tersebut paling sering disebabkan oleh mikrobiologi seperti bakteri dan metabolitnya serta virus dan toksinnya.  ...

  • Jun 14, 2018

    Penggunaan laktoperoksidase untuk pengawetan susu segar

    Dewasa ini telah dikembangkan suatu metode pengawetan susu segar dengan cara mengaktifkan enzim laktoperoksidase (LPO) yang secara alami sudah ada di dalam susu. LPO merupakan salah satu dari puluhan jenis enzim di dalam susu segar dengan berat molekul berukuran sedang (78.000 Dalton) dan mengandung karbohidrat sekitar 10%. Di samping ada di dalam susu segar, LPO juga ditemukan pada cairan tubuh hewan mamalia dan manusia, seperti pada saliva dan kolostrum. Metode pengaktifan LPO untuk pengawetan susu segar dikenal dengan sebutan lactoperoxydase-system atau sistem laktoperoksidase (Sistem-LPO). Aktifnya LPO di dalam susu dapat menghasilkan efek antibakteri pada susu segar (Legowo et al., 2009). ...