Kemajuan Sistem Rantai Pasok di Era Industri 4.0


 

Perkembangan penyerapan teknologi digital, komunikasi dan informasi (ICT) di Indonesia yang begitu cepat dalam satu dekade ini, menciptakan Indonesia sebagai pasar yang sangat potensial di kawasan ASEAN untuk pusat pengembangan dan percontohan sector e-commerce dan derivatifnya. Hal tersebut menciptakan terbentuknya “kreatifitas kebutuhan (Demand Creation)” dari generasi milenial sehingga tercipta penggerak (trigger) ekonomi berbasis digital, yang antara lain kita kenal sebagai, financial technology, payment gateways, digital market place dan on line store, yang semuanya mengandalkan kecepatan, big data, transparansi serta internet of thing (IoT).

 

 
Penggerak ekonomi Indonesia terbesar adalah dari Consumer Spending, sebesar 4.3% atau 55% kontribusinya terhadap perkembangan Produk Domestik Bruto (GDP) (data dari World Bank dan AT.Kearney). Dan di sela-sela kerja keras pemerintah untuk membangun infrastruktur fisik guna menurunkan biaya rantai pasok dan logistics (Supply Chain and Logistics Cost), yang 25% terhadap GDP (Laporan World Bank) yang masih butuh waktu untuk berdampak pada harga produk, maka secara pararel, percepatan perkembangan industri yang sudah ada ini harus disiasati dengan melibatkan teknologi tinggi (advance technology) dalam prosesnya yang sekarang dikenal dengan era Industri 4.0 dimana saat ini Pemerintah juga sedang menyusun Peta Jalan (Road Map) nya.
 
Hal itu mengemuka dalam konferensi pers tentang CTCT 2018 di Jakarta pada 6 April lalu. Hadir dalam acara itu antara lain Ketum ALFI Yukki N Hanafi, Sekjen ALI Mahendra Rianto, Ketum Aptrindo Gemilang Tarigan,  Direktur Debindo Budiarto Linggowijono, Executive Director Aptrindo Yohannes Purba.
 
Tantangan jangka pendek dalm hal ini adalah mempersiapkan Rantai Pasok, Internal serta eksternal Logistik (Supply Chain and Logistics) pendukung era Industri 4.0, guna memenuhi kecepatan “kebutuhan” (Demand) tersebut. Atau yang saat ini dikenal sebagai Supply Chain and Logistics 4.0. Kehadiran era ke 4 tersebut sulit terhindarkan dan Indonesia harus segera beradaptasi terhadap teknologi ikutannya. Serta telah terbukti bahwa Supply chain & Logistics management 4.0 membuat disrupsi teknologi yang begitu cepat dan menjadikan perusahaan-perusahaan yang ada, harus keluar dari zona nyaman. Sehingga tindak lanjutnya adalah kesiapan adaptasi terhadap teknologi baru, di mana manusia akan lebih mengoptimalkan fungsi intelegensi strategis dan dibantu intelegansi artifisial (Artificial Intelligent/AI), serba internet (Internet of Thing/IoT) untuk mendapatkan skala produksi yang tinggi (Scale Up) serta memenuhi peningkatan efisiensi yang eksponensial.
 
Melihat hal itu, Deutsche Messe dan Debindo Bersama dengan mitra strategis Asosiasi Logistik Indonesia (ALI), Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI), dan Asosiasi Pengusahan Truk Indonesia (APTRINDO) menyelenggarakan CEMAT SOUTHEAST ASIA 2018, IndoTranslog, IndoColdchain dan IndoTruck, yaitu gelaran produk- produk pendukung Industry 4.0 serta conference tentang Rantai Pasok dan Logistik era 4.0 (Supply Chain and Logistics 4.0), Rantai Pasok Dingin serta Keamanan Pangan & Halal (Cold and Halal Supply Chain) yang akan mengkolaborasikan nara-nara sumber dari Indonesia dan manca negara.
 
CEMAT SOUTHEAST ASIA, telah menanbah Fokus industri nya yaitu, IndoTranslog, IndoColdchain dan IndoTruck. Dengan format baru ini, diperkirakan akan menarik lebih dari 200 peserta pameran di area seluas 1.169 meter persegi. Program pameran ini akan menampilkan complete logistics systems, rack and warehousing systems, cranes and lifting equipment, access platforms, auto ID systems, robotic logistics solutions, packaging technology dan industrial trucks, serta layanan jasa logistik seperti freight forwarding, terminal operation, transport infrastructure, transport vehicles, serta layanan cold logistics, cold delivery dan cold strorage. Dan pengunjung yang akan dating, diharapkan dari seluruh Negara-negara di Asia Tenggara.
 
Dengan mengangkat tema event "Connectivity for Indonesia and Beyond", penyelenggaraan CeMAT Southeast Asia, IndoTranslog, IndoColdchain dan IndoTruck didukung oleh organisasi bisnis dan Pemerintahan di Indonesia – Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Koordinator Bidang Maritim Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Badan Usaha Negara, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Kamar Dagang Indonesia dan Asosiasi Pengusaha Indonesia, Asosiasi Forwaders Asean (AFFA), Gabungan Pengusaha Maknan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Asosiasi Pengusaha Tekstil (API), Himpunan Kawasan Industri Indonesia serta Federasi Penanganan Material Eropa (FEM) dan Federasi Teknik Jerman (VDMA). Fri-08

Artikel Lainnya

  • Ags 20, 2018

    Tantangan dan Manfaat Protein Whey Dalam Produk Minuman Jus

    Ada beberapa masalah utama yang menjadi tantangan aplikasi protein whey dalam produk minuman berbasis jus buah, yaitu terjadinya kristalisasi laktosa selama penyimpanan pada suhu refrigerasi, koagulasi protein whey saat perlakuan panas, konsentrat dengan viskositas yang tinggi berpengaruh pada efektivitas proses panas, berkurangnya umur simpan produk dalam suhu ruang, serta tingginya kandungan mineral dalam protein whey menimbulkan cita rasa asin-asam yang tidak diinginkan dalam produk. ...

  • Ags 20, 2018

    Kebijakan OSS untuk Hadapi Era Industri 4.0

    Industri pangan merupakan industri prioritas yang menyumbang 36% kontribusi terhadap PDB. ...

  • Ags 19, 2018

    Protein Whey Sebagai Ingridien Produk Minuman Ringan

    Protein whey merupakan jenis protein susu selain kasein yang mulai banyak digunakan sebagai ingridien pada produk pangan, misalnya produk minuman dan smoothies. Protein whey dapat digunakan sebagai ingridien dalam kelompok produk minuman, misalnya berbasis buah, minuman susu dan minuman olahraga. ...

  • Ags 18, 2018

    Manfaat Penggunaan Teknologi Plasma Pada Produk Susu dan Jus

    Penggunaan proses plasma dingin memiliki beberapa keuntungan diantaranya dapat menginaktivasi mikroorganisme secara efisien pada suhu rendah (<50oC), kompatibel dengan hampir sebagian besar kemasan produk dan kemasan modified atmospheres, mengurangi penggunaan bahan pengawet, tidak mengahasilkan residu dan dapat diaplikasikan pada produk pangan padat maupun cair. ...

  • Ags 17, 2018

    Jenis-Jenis Teknologi Plasma untuk Produk Minuman

    Teknologi plasma dibagi menjadi dua jenis yakni denominated nonthermal plasma (NTP) atau plasma dingin (cold plasma) dan thermal plasma. Plasma dingin dihasilkan pada suhu 30-60OC di bawah tekanan atmosfer atau ruang hampa (vacuum) dan membutuhkan lebih sedikit daya. Hal tersebut sangat sesuai jika diaplikasikan pada produk yang sensitif pada panas karena ion dan molekul yang tidak bermuatan mendapatkan sedikit energi dan stabil pada suhu rendah.  ...