Merekam Jejak Pangan dengan Gelombang Radio


 

Traceability (ketelusuran) merupakan persyaratan yang harus dipenuhi industri pangan guna mengetahui, mencari, dan mengikuti jejak riwayat pangan dalam rantai pangan. Berbagai teknik dan teknologi dikembangkan untuk mempermudah melakukan traceability tersebut. Salah satu yang terbaru adalah penggunaan penggunaan gelombang radio, yakni yang dikenal dengan teknologi RFID.

RFID (Radio Frequency IDentification) sudah diaplikasikan oleh beberapa industri pangan berskala besar untuk memantau produknya dalam rantai pangan. Pada prinsipnya teknologi ini menggunakan frekuensi radio untuk pertukaran data antara portable memory device (smart label) dengan computer server (host). Terdapat tiga bagian kunci dalam sistem ini, yakni RFID tag, RFID readers, dan software.

RFID tag merupakan smart label yang bersifat pressure sensitive dengan RFID transponder (atau inlay), tertanam di antara label face stock dan release liner-nya. RFID tag ini dapat memberi banyak informasi melalui sandi yang kemudian akan ditangkap oleh RFID reader. Berbeda dengan barcode, data RFID dapat diakses tanpa harus ada tag-nya. Bahkan multiple RFID smart labels dapat dibaca pada waktu yang bersamaan.

Pengguna utama terbesarnya adalah sektor ritel, termasuk di dalamnya suplier dan distributor. Bahkan salah satu peritel terbesar dunia mewajibkan penggunaan RFID terhadap barang-barang yang akan di pasarkannya.

Mengingat berbagai kemudahan yang diberikan oleh teknologi ini, sejak 2003 penggunaan RFID meningkat dengan pesat. Selain jaminan traceability dari awal hingga akhir, RFID juga menawarkan beberapa keuntungan lainnya yang lebih besar, yakni mempermudah akses ke pasar global, terutama untuk masuk ke negara-negara yang mempersyaratkan full traceability seperti Uni Eropa; memungkinkan untuk meningkatkan efisiensi proses melalui proses sortasi dan pengemasan yang otomatis; dan mengurangi biaya pekerja, karena data tidak perlu diinput secara manual.

Selain itu meningkatnya tuntutan akan traceability di berbagai negara juga mendorong pesatnya permintaan RFID. Di Amerika misalnya, negara dengan US Bioterrorism Act-nya membutuhkan tingkat traceability yang tinggi. Di Jepang, traceability terutama dibutuhkan untuk mencegah pemalsuan produk perikanan mereka. Sedangkan di Asia Tenggara, Vietnam Association of Seafood Exporters dan Producers bekerja sama dengan beberapa lembaga instansi swasta juga telah mengujicobakan penggunaan RFID. Begitupun dengan Thailand, beberapa eksportir udang asal negeri Gajah Putih tersebut juga telah menggunakan RFID. Sistem yang digunakan tersebut memungkinkan para eksportir untuk bereaksi secara cepat jika terjadi kontaminasi, termasuk jika harus melakukan recall.

Lalu apakah RFID akan menggantikan teknologi yang sudah ada, termasuk barcode? Belum, setidak untuk waktu dekat ini. Selain harganya yang relatif lebih mahal, industri juga masih lebih suka mengkombinasikannya dengan metode lain. Hal ini dikarenakan data dan teknologi dari berbagai macam metode tersebut bervariasi, sehingga harus tetap disesuaikan dengan kebutuhan bisnis mereka.

Pengembangan RFID

Untuk perbaikan dan memenuhi kebutuhan pelanggan, para industri penyedia teknologi RFID masih melakukan pengembangan. Misalnya saja, beberapa negara memiliki keterbatasan frekuensi gelombang radio. Akibatnya, akan sulit membaca objek pada jarak lebih dari satu meter. Salah satu solusi yang dapat digunakan adalah dengan memberi baterai pada RFID tag, yang disebut dengan active tag. Namun, harganya menjadi lebih mahal dan memiliki keterbatasan waktu simpan. Kemudian, dikembangkanlah pengggunaan gelombang UHF (Ultra High Frequency). UHF passive tag tersebut distandarisasi dan dipasangkan pada kemasan produk. Masalahnya adalah ketika ada air atau logam, kinerja dari teknologi ini menjadi terganggu. Untuk menjawab kendala tersebut, kemudian digunakanlah gelombang pada kisaran HF (High Frequency). Dengan gelombang ini, teknologi RFID dapat membaca tag pada produk hingga jarak 10 m. Selain itu juga lebih stabil walau berada di dekat air atau logam.

Tidak berhenti di situ, ada perusahaan yang kemudian mengembangkan Surface Acoustic Wave (SAW) chip untuk mengganti silicon chip pada tag. SAW diklaim tidak memiliki threshold voltage. Selain itu, komponen ini juga dapat melakukan sensor terhadap suhu serta lebih mudah digunakan.
Pengembangan-pengembangan lebih lanjut terus dilakukan. Bahkan teknologi RFID yang terbaru bisa digunakan untuk menentukan umur simpan produk. Hendry Noer F



(FOODREVIEW INDONESIA Edisi Desember 2009)

Artikel Lainnya

  • Jun 25, 2024

    Peningkatan Kualitas SDM Indonesia dengan Program Minum Susu

    Kualitas SDM Indonesia selalu mengalami perkembangan, namun masih perlu ditingkatkan. Tantangan utama meliputi peningkatan kualitas pendidikan, akses terhadap layanan kesehatan berkualitas, dan pengurangan ketimpangan ekonomi dan sosial. Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan kualitas SDM melalui berbagai program dan kebijakan. Diperlukan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan. ...

  • Jun 24, 2024

    Yoghurt: Ragam & Inovasinya

    Yoghurt merupakan produk susu fermentasi populer yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat; serta kaya akan protein, vitamin, dan mineral. Selain itu, yoghurt juga dapat dikonsumsi untuk penderita intoleransi laktosa, karena sebagian laktosa telah terfermentasi menjadi asam laktat dan komponen lainnya. ...

  • Jun 21, 2024

    Susu Kambing: Karakteristik & Fungsionalitasnya

    Saat ini, tren konsumsi susu kambing kian marak. Hal ini didorong oleh beberapa faktor, di antaranya kemudahan pencernaan, tidak menimbulkan reaksi alergi, dan dapat digunakan sebagai pelengkap diet bagi kalangan yang memiliki kebutuhan zat gizi khusus. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat pasca pandemi Covid-19 turut memperkuat tren ini. Susu kambing dapat dikonsumsi dalam bentuk susu pasteurisasi maupun olahannya seperti yoghurt, kefir, dan keju. ...

  • Jun 07, 2024

    Tantangan Perubahan Iklim terhadap Keamanan Pangan

    Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sektor pangan global. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, dan meningkatnya frekuensi peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir dan kekeringan, mengganggu produksi pangan di berbagai belahan dunia. Perubahan ini tidak hanya mengurangi hasil panen, tetapi juga mempengaruhi kualitas pangan, meningkatkan risiko ketidakamanan pangan. Kondisi ini sangat meresahkan karena populasi dunia terus bertambah, sehingga kebutuhan pangan semakin mendesak. ...

  • Jun 07, 2024

    Validasi dan Verifikasi dalam Pengontrolan Alergen di Industri Pangan

    Validasi dan verifikasi merupakan dua langkah kunci dalam pengendalian alergen di industri pangan.  ...