Melindungi Kerusakan Oksidasi pada minyak selama Penggorengan dengan antioksidan
Dipublikasikan pada
15 Jan 2010
Melindungi Kerusakan Oksidasi pada minyak selama Penggorengan dengan antioksidan
Oleh Sri Raharjo
Produk pangan siap santap
maupun siap saji yang diolah
dengan melibatkan proses
penggorengan jenis dan
volumenya relatif banyak,
yaitu misalnya mi instan,
snack, dan makanan yang
disajikan di ribuan restoran
fast food. Salah satu
fenomena yang dihadapi
dalam proses penggorengan
adalah menurunnya kualitas
minyak setelah digunakan
untuk menggoreng secara
berulang pada suhu relatif
tinggi (160-180 oC). Untuk
menghambat laju penurunan
kerusakan minyak akibat
reaksi oksidasi pada suhu
tinggi maka penggunaan
antioksidan menjadi salah
satu pilihan
Pada artikel di FOODREVIEW
INDONESIA Edisi Oktober
2007 telah diuraikan tentang
strategi untuk memperpanjang umur
pemakaian minyak dalam proses
penggorengan skala komersial. Pada
artikel ini, secara khusus dibahas
tentang upaya untuk menjaga kualitas
minyak goreng dengan pemakaian
bahan-bahan tambahan yang
berfungsi sebagai antioksidan. Hasilhasil
penelitian tentang pengukuran
efektifitas penggunaan antioksidan
pada minyak goreng sudah banyak
yang dipublikasikan. Namun,
sebagian besar penelitian dilakukan
dalam skala laboratorium, sementara
kondisi yang lebih realistis seperti
dalam setting proses penggorengan
komersial relatif sedikit publikasinya.
Kondisi minyak selama
penggorengan
Sebelum membahas tentang
pemakaian antioksidan, maka lebih
dahulu perlu dipahami apa yang
terjadi pada minyak ketika digunakan
untuk menggoreng. Ketika minyak
sudah mulai dibuka dari kemasannya
dan dituang pada penggoreng maka
terjadilah kontak dengan oksigen
di udara. Pada lapisan permukaan
minyak yang terpapar langsung oleh
oksigen merupakan wilayah yang
paling intensif mengalami reaksi
oksidasi, sedangkan minyak pada
lapisan dibawahnya relatif sedikit
mengalami reaksi oksidasi. Hal ini
antara lain disebabkan oleh kelarutan
oksigen di dalam minyak sangat kecil.
Fakta ini memberikan arahan bahwa
untuk volume minyak yang sama,
lebih menguntungkan menggunakan
penggoreng dengan desain luas
permukaan yang makin kecil.
Selanjutnya ketika minyak mulai
dipanaskan mencapai suhu
penggorengan, maka akan terjadi
penghantaran panas secara konveksi
di dalam minyak yang ditandai
dengan pergerakan minyak
mendistribusikan panas. Kondisi
ini memberikan efek mirip seperti
pengadukan pada minyak, sehingga
hampir seluruh bagian dari minyak
tersebut berpeluang untuk berada
di permukaan dan terpapar oleh
oksigen.
Ketika suhu minyak sudah
siap untuk menggoreng maka pada
lapisan permukaan minyak mulai
terjadi penguapan sebagian, yang
sekaligus juga mengandung panas
untuk dilepas keudara di sekitarnya.
Panas yang tinggi di permukaan
minyak membuat oksigen dan gas-gas
lain di udara semakin tidak mudah
bercampur ke dalam minyak, karena
hampir semua gas akan terdorong ke
luar menjauhi permukaan minyak.
Hal ini memberikan arahan bahwa
ketika minyak sudah cukup panas
maka oksigen di udara tidak lagi
menjadi pendorong terjadinya reaksi
oksidasi.
Minyak nabati yang lazim
digunakan untuk menggoreng
di dalamnya secara alami sudah
terkandung zat-zat yang bersifat
antioksidan (misal: tokoferol,
tokotrienol, dan karotenoid). Untuk
tujuan memperpanjang umur simpan
maka minyak goreng tersebut sering
ditambah dengan zat-zat antioksidan
sintetik misalnya butylated
hydroxyanisole (BHA) atau butylated
hydroxytoluene (BHT) yang diijinkan
pemakaiannya secara internasional.
Antioksidan sintetik tertiary butyl
hydroquinone (TBHQ) juga diijinkan
pemakaiannya di negara tertentu.
Ketika minyak kondisi suhunya
panas (180oC), maka bukan hanya
sebagian dari minyak yang
mulai menguap, namun juga
antioksidan yang alami maupun
yang ditambahkan ke dalam
minyak juga terkena panas
tinggi dan akhirnya juga bisa ikut
menguap. Pada suhu minyak 180
oC maka BHA dan BHT akan lebih
cepat menguap dibandingkan
dengan tokoferol. Sebagai contoh
BHA dan BHT masing-masing
200 ppm dalam minyak
jumlahnya berkurang
menjadi setengahnya
ketika dipanaskan pada
suhu 180 oC selama 3 jam,
sedangkan tokoferol (1000
ppm) dalam minyak
jumlahnya hanya
berkurang 10% ketika
dipanaskan pada 190
oC selama 10 jam. Hal
ini menunjukkan bahwa
tokoferol selain tidak mudah
menguap ternyata juga
cukup tahan terhadap panas.
Antioksidan sintetik
Selain BHA dan
BHT yang sudah lazim
ditambahkan dalam minyak
goreng komersial, ada
bahan tambahan lain yang
bisa memiliki fungsi sebagai
antioksidan yaitu misalnya minyak
silikon dan askorbil palmitat. Minyak
silikon (polydimethyl siloxane) untuk
pertama kalinya diperkenalkan sebagai antioksidan pada minyak
goreng di tahun 1953. Minyak silikon
yang food grade tersebut dinilai
sangat efektif menghambat kerusakan
minyak selama penggorengan suhu
tinggi karena level pemakaiannya
cukup 1-2 ppm saja, dibandingkan
dengan BHA atau BHT dengan level
200 ppm.
Minyak silikon memiliki
efek perlindungan terhadap minyak
melalui dua mekanisme. Pertama,
molekul silikon ketika berada di
dalam minyak membentuk lapisan
di permukaan minyak, terutama di
wilayah yang berbatasan dengan
udara. Dengan demikian peluang
terjadinya reaksi oksidasi oleh oksigen
di permukaan semakin diperkecil.
Kedua, minyak silikon juga berfungsi
sebagai anti-foaming agent yang
mampu menurunkan tegangan
permukaan minyak sehingga gas-gas
atau uap yang terbentuk atau ada di
dalam minyak selama penggorengan
menjadi lebih mudah lepas ke udara
dan tidak terjadi buih. Mudah
terlepasnya gas atau uap dari minyak
ke udara sekaligus membawa
panas untuk dilepas, sehingga
suhu di permukaan minyak yang
berbatasan dengan udara lebih rendah
dibandingkan dengan di bagian
dalam.
Minyak goreng yang ditambahkan
metil silikon di beberapa negara
sudah diperdagangkan. Jika
belum tersedia dalam kondisi siap
pakai maka penambahan minyak
silikon dalam minyak goreng bisa
dilakukan sendiri. Untuk alasan
kepraktisan pemakaian, maka
minyak silikon dengan konsentrasi
tinggi didispersikan ke dalam sedikit
lemak yang titik bekunya relatif
tinggi (misal: lemak sapi). Setelah
dicampur kemudian dicetak dalam
blok-blok kecil dan didinginkan,
sehingga wujudnya memadat. Untuk
pemakaian maka tinggal mengambil
potongan tersebut secukupnya untuk
dicampurkan pada minyak dalam
penggorengan.
Mengingat mekanisme
perlindungan silikon terhadap
oksidasi minyak seperti dijelaskan
di atas, maka
efektifitas
fungsinya sebagai
antioksidan hanya
akan terlihat jelas
jika diaplikasikan
pada minyak
goreng yang
digunakan untuk
menggoreng
secara batch atau
diskontinyu.
Kerusakan
pada minyak
goreng yang
ditandai dengan
terbentuknya
senyawa-senyawa
yang bersifat
polar lebih
banyak dijumpai
pada setting
penggorengan
yang diskontinyu.
Hal ini disebabkan
pada penggorengan
yang diskontinyu
sempat ada jeda
penurunan suhu
minyak yang
menyebabkan
minyak terpapar
langsung dengan oksigen yang
memicu oksidasi dan menghasilkan
senyawa-senyawa bersifat polar.
Dengan kata lain penggunaan silikon
dalam minyak untuk penggorengan
yang terus-menerus (kontinyu)
efeknya tidak nyata jika dibandingkan
dengan minyak goreng tanpa
penambahan silikon.
Antioksidan alami
Di antara kelompok
antioksidan yang diekstrak dari
bagian tanaman yang menunjukkan
efektifitas yang tinggi antara lain
adalah tokoferol, tokotrienol, dan
ekstrak rosemary. Penelitian tentang
penggunaan antioksidan alami
pada minyak goreng sudah banyak
dipublikasikan, namun pemakaian
ekstrak antioksidan alami tersebut
secara komersial belum banyak
dilakukan tertutama di Indonesia.
Hal ini antara lain disebabkan
ekstrak antioksidan alami harganya
cenderung relatif lebih mahal
dibandingkan yang sintetik dan dosis
pemakaiannya cenderung lebih tinggi
(di atas 200 ppm).
Mengingat untuk
mendapatkan antioksidan murni dari
ekstrak tanaman sangat sulit dan
mahal, maka untuk kepraktisannya
bisa ditempuh dengan memanfaatkan
minyak-minyak nabati tertentu yang
kaya akan antioksidan tersebut.
Misalnya minyak wijen yang kaya
tokoferol dan avenasterol, atau
minyak bekatul yang kaya akan
tokoferol, tokotrienol, avenasterol,
dan oryzanol. Dalam aplikasinya pada
minyak goreng sering ditambahkan
minyak wijen atau minyak bekatul
dengan dosis 2-4%. Namun perlu
diingat bahwa jika minyak sawit
atau minyak kelapa yang digunakan
sebagai media penggoreng maka di
dalamnya sudah terdapat asam lemak
jenuh yang relatif lebih stabil terhadap
oksidasi daripada asam lemak tidak
jenuh. Selain itu pada minyak sawit
juga masih terkandung banyak
tokoferol dan karotenoid, sehingga
tidak memerlukan lagi penambahan
antioksidan dalam jumlah banyak.
Prof. Dr. Sri Raharjo, Dosen Jurusan
Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas
Gadjah Mada
Melindungi Kerusakan Oksidasi pada minyak selama Penggorengan dengan antioksidan
Oleh Sri Raharjo
Produk pangan siap santap
maupun siap saji yang diolah
dengan melibatkan proses
penggorengan jenis dan
volumenya relatif banyak,
yaitu misalnya mi instan,
snack, dan makanan yang
disajikan di ribuan restoran
fast food. Salah satu
fenomena yang dihadapi
dalam proses penggorengan
adalah menurunnya kualitas
minyak setelah digunakan
untuk menggoreng secara
berulang pada suhu relatif
tinggi (160-180 oC). Untuk
menghambat laju penurunan
kerusakan minyak akibat
reaksi oksidasi pada suhu
tinggi maka penggunaan
antioksidan menjadi salah
satu pilihan
Pada artikel di FOODREVIEW
INDONESIA Edisi Oktober
2007 telah diuraikan tentang
strategi untuk memperpanjang umur
pemakaian minyak dalam proses
penggorengan skala komersial. Pada
artikel ini, secara khusus dibahas
tentang upaya untuk menjaga kualitas
minyak goreng dengan pemakaian
bahan-bahan tambahan yang
berfungsi sebagai antioksidan. Hasilhasil
penelitian tentang pengukuran
efektifitas penggunaan antioksidan
pada minyak goreng sudah banyak
yang dipublikasikan. Namun,
sebagian besar penelitian dilakukan
dalam skala laboratorium, sementara
kondisi yang lebih realistis seperti
dalam setting proses penggorengan
komersial relatif sedikit publikasinya.
Kondisi minyak selama
penggorengan
Sebelum membahas tentang
pemakaian antioksidan, maka lebih
dahulu perlu dipahami apa yang
terjadi pada minyak ketika digunakan
untuk menggoreng. Ketika minyak
sudah mulai dibuka dari kemasannya
dan dituang pada penggoreng maka
terjadilah kontak dengan oksigen
di udara. Pada lapisan permukaan
minyak yang terpapar langsung oleh
oksigen merupakan wilayah yang
paling intensif mengalami reaksi
oksidasi, sedangkan minyak pada
lapisan dibawahnya relatif sedikit
mengalami reaksi oksidasi. Hal ini
antara lain disebabkan oleh kelarutan
oksigen di dalam minyak sangat kecil.
Fakta ini memberikan arahan bahwa
untuk volume minyak yang sama,
lebih menguntungkan menggunakan
penggoreng dengan desain luas
permukaan yang makin kecil.
Selanjutnya ketika minyak mulai
dipanaskan mencapai suhu
penggorengan, maka akan terjadi
penghantaran panas secara konveksi
di dalam minyak yang ditandai
dengan pergerakan minyak
mendistribusikan panas. Kondisi
ini memberikan efek mirip seperti
pengadukan pada minyak, sehingga
hampir seluruh bagian dari minyak
tersebut berpeluang untuk berada
di permukaan dan terpapar oleh
oksigen.
Ketika suhu minyak sudah
siap untuk menggoreng maka pada
lapisan permukaan minyak mulai
terjadi penguapan sebagian, yang
sekaligus juga mengandung panas
untuk dilepas keudara di sekitarnya.
Panas yang tinggi di permukaan
minyak membuat oksigen dan gas-gas
lain di udara semakin tidak mudah
bercampur ke dalam minyak, karena
hampir semua gas akan terdorong ke
luar menjauhi permukaan minyak.
Hal ini memberikan arahan bahwa
ketika minyak sudah cukup panas
maka oksigen di udara tidak lagi
menjadi pendorong terjadinya reaksi
oksidasi.
Minyak nabati yang lazim
digunakan untuk menggoreng
di dalamnya secara alami sudah
terkandung zat-zat yang bersifat
antioksidan (misal: tokoferol,
tokotrienol, dan karotenoid). Untuk
tujuan memperpanjang umur simpan
maka minyak goreng tersebut sering
ditambah dengan zat-zat antioksidan
sintetik misalnya butylated
hydroxyanisole (BHA) atau butylated
hydroxytoluene (BHT) yang diijinkan
pemakaiannya secara internasional.
Antioksidan sintetik tertiary butyl
hydroquinone (TBHQ) juga diijinkan
pemakaiannya di negara tertentu.
Ketika minyak kondisi suhunya
panas (180oC), maka bukan hanya
sebagian dari minyak yang
mulai menguap, namun juga
antioksidan yang alami maupun
yang ditambahkan ke dalam
minyak juga terkena panas
tinggi dan akhirnya juga bisa ikut
menguap. Pada suhu minyak 180
oC maka BHA dan BHT akan lebih
cepat menguap dibandingkan
dengan tokoferol. Sebagai contoh
BHA dan BHT masing-masing
200 ppm dalam minyak
jumlahnya berkurang
menjadi setengahnya
ketika dipanaskan pada
suhu 180 oC selama 3 jam,
sedangkan tokoferol (1000
ppm) dalam minyak
jumlahnya hanya
berkurang 10% ketika
dipanaskan pada 190
oC selama 10 jam. Hal
ini menunjukkan bahwa
tokoferol selain tidak mudah
menguap ternyata juga
cukup tahan terhadap panas.
Antioksidan sintetik
Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Selain BHA dan
BHT yang sudah lazim
ditambahkan dalam minyak
goreng komersial, ada
bahan tambahan lain yang
bisa memiliki fungsi sebagai
antioksidan yaitu misalnya minyak
silikon dan askorbil palmitat. Minyak
silikon (polydimethyl siloxane) untuk
pertama kalinya diperkenalkan sebagai antioksidan pada minyak
goreng di tahun 1953. Minyak silikon
yang food grade tersebut dinilai
sangat efektif menghambat kerusakan
minyak selama penggorengan suhu
tinggi karena level pemakaiannya
cukup 1-2 ppm saja, dibandingkan
dengan BHA atau BHT dengan level
200 ppm.
Minyak silikon memiliki
efek perlindungan terhadap minyak
melalui dua mekanisme. Pertama,
molekul silikon ketika berada di
dalam minyak membentuk lapisan
di permukaan minyak, terutama di
wilayah yang berbatasan dengan
udara. Dengan demikian peluang
terjadinya reaksi oksidasi oleh oksigen
di permukaan semakin diperkecil.
Kedua, minyak silikon juga berfungsi
sebagai anti-foaming agent yang
mampu menurunkan tegangan
permukaan minyak sehingga gas-gas
atau uap yang terbentuk atau ada di
dalam minyak selama penggorengan
menjadi lebih mudah lepas ke udara
dan tidak terjadi buih. Mudah
terlepasnya gas atau uap dari minyak
ke udara sekaligus membawa
panas untuk dilepas, sehingga
suhu di permukaan minyak yang
berbatasan dengan udara lebih rendah
dibandingkan dengan di bagian
dalam.
Minyak goreng yang ditambahkan
metil silikon di beberapa negara
sudah diperdagangkan. Jika
belum tersedia dalam kondisi siap
pakai maka penambahan minyak
silikon dalam minyak goreng bisa
dilakukan sendiri. Untuk alasan
kepraktisan pemakaian, maka
minyak silikon dengan konsentrasi
tinggi didispersikan ke dalam sedikit
lemak yang titik bekunya relatif
tinggi (misal: lemak sapi). Setelah
dicampur kemudian dicetak dalam
blok-blok kecil dan didinginkan,
sehingga wujudnya memadat. Untuk
pemakaian maka tinggal mengambil
potongan tersebut secukupnya untuk
dicampurkan pada minyak dalam
penggorengan.
Mengingat mekanisme
perlindungan silikon terhadap
oksidasi minyak seperti dijelaskan
di atas, maka
efektifitas
fungsinya sebagai
antioksidan hanya
akan terlihat jelas
jika diaplikasikan
pada minyak
goreng yang
digunakan untuk
menggoreng
secara batch atau
diskontinyu.
Kerusakan
pada minyak
goreng yang
ditandai dengan
terbentuknya
senyawa-senyawa
yang bersifat
polar lebih
banyak dijumpai
pada setting
penggorengan
yang diskontinyu.
Hal ini disebabkan
pada penggorengan
yang diskontinyu
sempat ada jeda
penurunan suhu
minyak yang
menyebabkan
minyak terpapar
langsung dengan oksigen yang
memicu oksidasi dan menghasilkan
senyawa-senyawa bersifat polar.
Dengan kata lain penggunaan silikon
dalam minyak untuk penggorengan
yang terus-menerus (kontinyu)
efeknya tidak nyata jika dibandingkan
dengan minyak goreng tanpa
penambahan silikon.
Antioksidan alami
Di antara kelompok
antioksidan yang diekstrak dari
bagian tanaman yang menunjukkan
efektifitas yang tinggi antara lain
adalah tokoferol, tokotrienol, dan
ekstrak rosemary. Penelitian tentang
penggunaan antioksidan alami
pada minyak goreng sudah banyak
dipublikasikan, namun pemakaian
ekstrak antioksidan alami tersebut
secara komersial belum banyak
dilakukan tertutama di Indonesia.
Hal ini antara lain disebabkan
ekstrak antioksidan alami harganya
cenderung relatif lebih mahal
dibandingkan yang sintetik dan dosis
pemakaiannya cenderung lebih tinggi
(di atas 200 ppm).
Mengingat untuk
mendapatkan antioksidan murni dari
ekstrak tanaman sangat sulit dan
mahal, maka untuk kepraktisannya
bisa ditempuh dengan memanfaatkan
minyak-minyak nabati tertentu yang
kaya akan antioksidan tersebut.
Misalnya minyak wijen yang kaya
tokoferol dan avenasterol, atau
minyak bekatul yang kaya akan
tokoferol, tokotrienol, avenasterol,
dan oryzanol. Dalam aplikasinya pada
minyak goreng sering ditambahkan
minyak wijen atau minyak bekatul
dengan dosis 2-4%. Namun perlu
diingat bahwa jika minyak sawit
atau minyak kelapa yang digunakan
sebagai media penggoreng maka di
dalamnya sudah terdapat asam lemak
jenuh yang relatif lebih stabil terhadap
oksidasi daripada asam lemak tidak
jenuh. Selain itu pada minyak sawit
juga masih terkandung banyak
tokoferol dan karotenoid, sehingga
tidak memerlukan lagi penambahan
antioksidan dalam jumlah banyak.
Prof. Dr. Sri Raharjo, Dosen Jurusan
Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian
Fakultas Teknologi Pertanian Universitas
Gadjah Mada
Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.