Pemerintah Serius Kembangkan Produk Jamu


Jamu sebagai brand Indonesia ternyata semakin dikenal luas di dunia internasional. Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Prof. Suwijiyo Pramono, dalam Seminar Nasional Aspek Budaya, Kebijakan, dan Filosofi Sains Jamu di IPB International Convention Center Bogor hari ini (2/10). Acara tersebut diselenggarakan oleh Pusat Studi Biofarmaka LPPM IPB bekerja sama dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI. Lebih lanjut dia mengatakan, bahwa hal lain yang cukup menggembirakan adalah meningkatnya minat masyarakat untuk minum jamu, semakin diterimanya jamu di kalangan medis, dan bertambahnya jumlah penelitian tentang jamu.
Namun sayangnya, perkembangan jamu tersebut mendapat tantangan dari membanjirnya produk traditional chinese medicine (TCM) dan produk asing lain, pencampuran bahan kimia obat ke dalam jamu, sedikitnya jumlah yang terdaftar sebagai obat herbal standar dan fotofarmaka, proses registrasi lambat, dan dampak harmonisasi ASEAN. "industri kecil masih banyak kesulitan menjalankan Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik," tutur Suwijiyo.

Sementara itu, Asisten Deputi Urusan Perkebunan dan Hortikultura Kedeputian Bidang Koordinasi Pertanian dan Kelautan Kementerian Koordinator Perekonomian RI - Musdhalifah Machmud mengungkapkan komitmen Pemerintah dalam mengembangkan jamu sebagai brand Indonesia. "Kami sudah menyusun road map dan program untuk pengembangan jamu," tutur Musdhalifah dalam kesempatan yang sama. Menurutnya, saat ini telah disusun tujuan jangka pendek, menengah dan panjang untuk produk jamu tersebut. Beberapa fokus yang menjadi program tersebut antara lain penguatan sumber daya manusia di bidang jamu, penguatan kelembagaan dan regulasi, pengembangan bahan baku terstandar dan bermutu, peningkatan pemanfaatan dan intergrasi jamu dalam pelayanan kesehatan, serta lainnya. @hendryfri

Artikel Lainnya

  • Feb 05, 2023

    Pertimbangan Penggunaan Bahan Tambangan Pangan

    Pada dasarnya, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) hanya digunakan pada produk pangan jika benar-benar diperlukan secara teknologi. BTP tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang tidak memenuhi syarat, cara kerja yang bertentangan dengan Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) dan kerusakan pangan. Penambahan BTP pada produk pangan memiliki beberapa tujuan seperti membentuk pangan, memberikan warna, meningkatkan kualitas pangan, memperbaiki tekstur, meningkatkan cita rasa, meningkatkan stabilitas, dan mengawetkan pangan. ...

  • Feb 04, 2023

    CODEX UPDATE: Adopsi Standar Keamanan Baru

    Akhir tahun 2022 yang lalu telah diselenggarakan Sidang Komisi Codex Alimentarius ke-45 (CAC45), yang terdiri dari sidang pleno dari 21-25 November 2022 (secara daring dan luring), dan dilanjutkan adopsi laporan sidang pada pada 12- 13 Desember 2022 (secara daring). Secara umum dapat dilaporkan bahwa sidang Komisi Codex Alimentarius telah berhasil mengadopsi berbagai standar keamanan pangan baru. Standar baru tersebut terdiri dari teks pedoman, kode praktik, stantard komoditas, batas maksimum residu pestisida dam batas maksimum kontaminan. Disamping itu, CAC45 juga menyepakati beberapa pekerjaan baru untuk pengembangan standar/teks lainnya. Uraian lebih detail dan lengkap dapat diperoleh di laman: https://bit.ly/CAC45meetingdetail ...

  • Feb 03, 2023

    Pentingnya Pengendalian Rempah-Rempah

    Rempah-rempah memiliki potensi bahaya yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Pengendalian harus dimulai dari budidaya tanaman rempah yang sudah menerapkan prinsip good practices. Titik kritisnya adalah pengendalian kelembapan udara karena dengan kelembapan yang tinggi maka pada umumnya mikroba akan lebih mudah tumbuh. Proses pengeringan juga merupakan proses yang sangat penting dalam penanganan pascapanen rempah-rempah. Manajemen keamanan pangan yang komprehensif yang meliputi good hygiene practices (GHP), good manufacturing practices (GMP) dan hazard analysis and critical control points (HACCP), harus diaplikasikan dengan konsisten.  ...

  • Feb 02, 2023

    Kontaminasi Mikroba pada Rempah-Rempah

    Rempah-rempah sebagai contoh adalah pala yang merupakan komoditas ekspor unggulan karena Indonesia termasuk salah satu negara produsen dan pengekspor biji dan fuli pala terbesar dunia. Pala merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan kapang, bila kandungan air dan kelembapan lingkungan tidak dijaga dengan baik. Kapang yang dapat tumbuh di pala tidak saja dari jenis kapang perusak tetapi juga kapang toksigenik. Di antara kapang toksigenik yang dijumpai pada pala adalah Aspergillus flavus penghasil aflatoksin. Alfatoksin utamanya dari jenis B1 merupakan mikotoksin yang paling toksik di antara beberapa mikotoksin yang dikenal mengontaminasi pangan.  ...

  • Feb 01, 2023

    Peningkatan Kualitas dan Keamanan Rempah & Bumbu

    Upaya peningkatan ekspor rempah dan bumbu tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu. Permasalahan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu dapat diamati sejak prapanen sampai dengan pascapanen, sehingga hal ini membutuhkan penanganan yang komprehensif sepanjang rantai pangan pengolahan tersebut. Rempah-rempah yang tidak tertangani dengan baik rentan terhadap kontaminasi mikroba yang dapat menyebabkan kerusakan maupun penyebab foodborne disease. Hal ini menunjukkan perhatian dan penanganan yang serius perlu dilakukan terhadap bahaya bersumber mikroba tersebut beserta toksin yang dihasilkannya. ...