Cemaran BakteriClostridum botulinumdalam WPC-80 dari Selandia Baru




Dalam siaran pers-nya (12/8/2013) BPOM mengumumkan bahwa adanya cemaran bakteri Clostridum botulinum pada produk susu/bahan baku susu dari Selandia Baru. Menurut BPOM, hingga saat ini INFOSAN (International Food Safety Network) WHO belum memberikan pemberitahuan kepada BPOM sebagai National Emergency Contact Point di Indonesia perihal kasus kontaminasi Clostridum botulinum pada susu di Selandia Baru yang kemungkinan masuk ke Indonesia. Informasi ini mengindikasikan bahwa bahan baku susu/produk susu yang tercemar berasal dari Selandia Baru sejauh ini tidak diekspor ke Indonesia.

Keterangan resmi dari Kedutaan Besar Selandia Baru di Indonesia dan Fonterra Selandia Baru menyebutkan cemaran Clostridum botulinum terjadi pada 3 (tiga) batch WPC-80 (Whey Protein Concentrate) yang dihasilkan dari salah satu pabriknya dan telah didistribusikan ke 8 (delapan) pelanggannya. WPC 80 diproduksi dari susu sapi dan digunakan sebagai bahan baku industri minuman, makanan dan pakan ternak yang disalurkan di negara Selandia Baru, Australia, China, Malaysia, Viet Nam, Thailand dan Arab Saudi. Dari hasil penelusuran BPOM, informasi INFOSAN, keterangan resmi Kedutaan Besar Selandia Baru dan Fonterra, sejauh ini tidak satupun produk WPC 80 asal Fonterra Selandia Baru didistribusikan ke Indonesia.

Langkah pencegahan pun diambil oleh BPOM, yakni meminta produsen bersangkutan (Fonterra) dan industri pangan maupun importir pangan yang menggunakan bahan baku WPC-80 untuk melaporkan perkembangan isu ini berupa informasi mengenai distribusi bahan baku/produk tersebut. Selajutnya, meminta INFOSAN dan otoritas keamanan pangan di Selandia Baru maupun di negara yang menggunakan bahan baku/produk tercemar ini untuk menginformasikan perkembangan dan pengawasan tindak lanjutnya. Melaksanakan pengawasan berbasis risiko secara proaktif antara lain sampling dan uji laboratorium atas sampel pangan yang dicurigai di pasaran. Dan melakukan penapisan melalui mekanisme SKI (Surat Keterangan Impor) untuk menangkal/mencegah kemungkinan masuknya WPC-80 dan produk turunannya yang tercemar agar tidak memasuki pasar dalam negeri. Jika ada informasi lebih lanjut terhadap kasus ini akan segera diumumkan kepada masyarakat.

Artikel Lainnya

  • Feb 05, 2023

    Pertimbangan Penggunaan Bahan Tambangan Pangan

    Pada dasarnya, penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP) hanya digunakan pada produk pangan jika benar-benar diperlukan secara teknologi. BTP tidak digunakan untuk menyembunyikan penggunaan bahan yang tidak memenuhi syarat, cara kerja yang bertentangan dengan Cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) dan kerusakan pangan. Penambahan BTP pada produk pangan memiliki beberapa tujuan seperti membentuk pangan, memberikan warna, meningkatkan kualitas pangan, memperbaiki tekstur, meningkatkan cita rasa, meningkatkan stabilitas, dan mengawetkan pangan. ...

  • Feb 04, 2023

    CODEX UPDATE: Adopsi Standar Keamanan Baru

    Akhir tahun 2022 yang lalu telah diselenggarakan Sidang Komisi Codex Alimentarius ke-45 (CAC45), yang terdiri dari sidang pleno dari 21-25 November 2022 (secara daring dan luring), dan dilanjutkan adopsi laporan sidang pada pada 12- 13 Desember 2022 (secara daring). Secara umum dapat dilaporkan bahwa sidang Komisi Codex Alimentarius telah berhasil mengadopsi berbagai standar keamanan pangan baru. Standar baru tersebut terdiri dari teks pedoman, kode praktik, stantard komoditas, batas maksimum residu pestisida dam batas maksimum kontaminan. Disamping itu, CAC45 juga menyepakati beberapa pekerjaan baru untuk pengembangan standar/teks lainnya. Uraian lebih detail dan lengkap dapat diperoleh di laman: https://bit.ly/CAC45meetingdetail ...

  • Feb 03, 2023

    Pentingnya Pengendalian Rempah-Rempah

    Rempah-rempah memiliki potensi bahaya yang tidak bisa disepelekan begitu saja. Pengendalian harus dimulai dari budidaya tanaman rempah yang sudah menerapkan prinsip good practices. Titik kritisnya adalah pengendalian kelembapan udara karena dengan kelembapan yang tinggi maka pada umumnya mikroba akan lebih mudah tumbuh. Proses pengeringan juga merupakan proses yang sangat penting dalam penanganan pascapanen rempah-rempah. Manajemen keamanan pangan yang komprehensif yang meliputi good hygiene practices (GHP), good manufacturing practices (GMP) dan hazard analysis and critical control points (HACCP), harus diaplikasikan dengan konsisten.  ...

  • Feb 02, 2023

    Kontaminasi Mikroba pada Rempah-Rempah

    Rempah-rempah sebagai contoh adalah pala yang merupakan komoditas ekspor unggulan karena Indonesia termasuk salah satu negara produsen dan pengekspor biji dan fuli pala terbesar dunia. Pala merupakan media yang cocok untuk pertumbuhan kapang, bila kandungan air dan kelembapan lingkungan tidak dijaga dengan baik. Kapang yang dapat tumbuh di pala tidak saja dari jenis kapang perusak tetapi juga kapang toksigenik. Di antara kapang toksigenik yang dijumpai pada pala adalah Aspergillus flavus penghasil aflatoksin. Alfatoksin utamanya dari jenis B1 merupakan mikotoksin yang paling toksik di antara beberapa mikotoksin yang dikenal mengontaminasi pangan.  ...

  • Feb 01, 2023

    Peningkatan Kualitas dan Keamanan Rempah & Bumbu

    Upaya peningkatan ekspor rempah dan bumbu tentunya harus dibarengi dengan peningkatan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu. Permasalahan kualitas dan keamanan rempah dan bumbu dapat diamati sejak prapanen sampai dengan pascapanen, sehingga hal ini membutuhkan penanganan yang komprehensif sepanjang rantai pangan pengolahan tersebut. Rempah-rempah yang tidak tertangani dengan baik rentan terhadap kontaminasi mikroba yang dapat menyebabkan kerusakan maupun penyebab foodborne disease. Hal ini menunjukkan perhatian dan penanganan yang serius perlu dilakukan terhadap bahaya bersumber mikroba tersebut beserta toksin yang dihasilkannya. ...