Mengkonsumsi mi warna warni


Disajikan dengan kuah atau kering – tipis, tebal atau keriting – dengan cara konsumsi dan jenis yang beragam, negara di Asia menyukai mi. Daftar teratas adalah mi instan. Memiliki karakteristik dengan cetakan mi kuning kering dan sebungkus bumbu kecil, mi instan saat ini menjadi bagian dari pola konsumsi di banyak negara Asia dan setiap negara memiliki pengembangan flavor uniknya tersendiri pada mi instan.

Mi instan telah menciptakan pasar yang kompetitif di banyak negara Asia. Menurut Asosiasi Mi Instan Dunia, 10 dari 15 pasar mi instan teratas di Asia adalah Indonesia dengan menjadi terbesar kedua di dunia untuk pasar mi instan. Dianggap sebagai makanan yang mudah dengan harga yang terjangkau oleh sebagian kelompok, mi instan menjadi pilihan yang populer sebagai makanan cepat saji dan kudapan. Selain itu, perubahan demografis konsumen juga telah membuat produsen mi instan melakukan reposisi, menginovasi bahan pokok menjadi sesuatu yang menarik bagi konsumen saat ini.

Warna Kuning terang pada mi Instan
Warna pada blok mi instan pada umumnya adalah warna kuning yang menggugah selera. Tatrazine, pewarna kuning sintesis, adalah pewarna yang biasa digunakan untuk mendapatkan warna kuning cerah pada cetakan mi yang sangat berasosiasi erat dengan mi instan. Tatrazine sangat umum digunakan sebagai pewarna makanan di seluruh dunia untuk mendapatkan warna kuning pada makanan dan minuman, pewarna ini juga dikenal sebagai E102, FD&C Yellow 5, Yellow 4 dan C.I. 19140. Kendati demikian, beberapa studi menunjukkan bahwa tatrazine menimbulkan potensi dampak kesehatan pada manusia, terutama pada anak-anak.

Intervensi pemerintah
Otoritas regulasi pangan di seluruh dunia telah mengambil langkah untuk melarang atau mengurangi penggunaan tatrazine pada mi instan. Hasil penelitian dari Southampton yang dipublikasikan pada tahun 2007 memicu legislasi Uni Eropa untuk memberlakukan persyaratan peringatan label pada makanan dan minuman yang mengandung 6 bahan pewarna sintesis berikut: tatrazine, quinoline yellow, carmosine, sunset yellow, ponceau 4R dan allura red.

Negara Cina, yang menempati urutan teratas secara global berdasarkan permintaan, telah melarang penggunaan pewarna sintesis pada mi instan. Hal yang sama juga dilakukan oleh Vietnam, sementara negara lain di sekitar Timur Tengah, penggunaan tatrazine memerlukan label peringatan pada kemasan untuk memberitahukan pada konsumen bahwa pewarna tersebut dapat mengakibatkan masalah perilaku atau hiperaktif pada anak-anak. Lebih dekat, di Indonesia, penggunaan tatrazine masih diperbolehkan dengan jumlah penggunaan yang dibatasi. Oleh karena pembatasan tersebut, beberapa merek telah beralih menggunakan pewrana natural.

Perubahan pada citra mi instan

 


Konsumen yang mulai sadar akan kesehatan dan menjauhi penggunaan ingridien buatan menjadi salah satu faktor, kami mulai melihat versi lebih menyehatkan dari merek mi instan yang muncul di pasaran. Beberapa merek seperti Master Kong Stew Beef Instant Noodles memiliki kemasan yang terpisah karena menggunakan daging sapi asli yang diimpor untuk menawarkan alternatif produk yang lebih bergizi. Merek lainnya juga telah memilih untuk memproses mi mereka secara berbeda dengan pengeringan melalui udara panas (air-dry) dibandingkan dengan menggoreng dengan minyak penuh (deep-fry). Dibandingkan dengan menggunakan tatrazine untuk pewarna mi yang dicetak, beberapa merek telah berpindah pada pewarna alami seperti kurkumin, senyawa pigmen warna kuning pada turmerik, atau safflower untuk mencapai tingkat warna kuning yang dicari oleh konsumen Asia pada mi instan.

Bermain dengan warna
Secara kompetitif, ada sejumlah rasa yang dihasilan dari flavor yang umum digunakan seperti sup ayam, kari, hingga rasa eksotis seperti telur asin, chili crab, dan tom yam. Namun, beberapa merek juga mulai mengeksplorasi penggunaan warna pada mi instan untuk menarik konsumen. “Warna adalah elemen penting untuk membuat makanan menarik. Dalam dunia mi instan yang dinamis, warna dapat menjadi pembeda untuk alat pemasaran. Pewarna pada mi menciptakan kesan yang menyenangkan dan secara pasti memberikan pengalaman dalam menikmati mi selain dari faktor flavors,” kata Chr. Hansen Natural Color’s Regional Marketing Manager, Carel Soo. “Menggunakan warna dan menghubungkannya dengan sumber nabati atau ingridien tidak hanya membuat merek menciptakan cita rasa tetapi juga dapat meningkatkan manfaat dari penggunaan bahan alami, sehingga menguatkan merek dengan istilah “halo sehat,” jelas Soo.

Membuat warna bekerja pada mi instan
Menurut Chr. Hansen Color’s Regional Application Center Manager, Jude Wong, beberapa pertimbangan utama saat menambahkan warna pada mi cetak termasuk dalam proses pembuatan, pengemasan, dan umur simpan yang diinginkan. Wong mengatakan bahwa proses produksi mi cetakan tersebut memiliki proses yang sulit karena mempertimbangkan beberapa faktor seperti pH dari larutan kansui, proses pengukusan, penggorengan atau pengeringan. Larutan kansui atau larutan alkalin adalah salah satu ingridien utama dalam membuat mi yang dicetak dan memiliki tingkat pH yang tinggi antara 12-8. “Sangat penting bahwa warna yang digunakan dapat bertahan dari pH yang tinggi, lingkungan yang panas, serta kestabilan selama proses tanpa berubah,” ungkap Wong.



Pertimbangan lainnya adalah kemasan yang digunakan. Biasanya, mi instan dikemas dengan kemasan plastik buram, pada pasar premium, mi instan dikemas dengan kemasan metalized foil. Kemasan metalized foil ini disarankan untuk digunakan dibandingkan kemasan biasa karena kekuatannya sebagai penahan cahaya dan oksigen sehingga dapat menjaga kualitas dari isi lebih lama. Mi yang dicetak berwarna dengan pewarna alami lebih sensitif pada cahaya dan oksigen, untuk dapat bertahan lebih lama ,penggunaan kemasan yang tepat adalah salah satu faktor utama.

“Beberapa pewarna alami yang biasa digunakan dalam mi berkisar pada pigmen kurkumin dan beta-karoten untuk kuning, carmine untuk merah muda, klorofil cooper untuk hijau dan sebagainya. Rangkaian pewarna Fruitmax® kami berasal dari sumber nabati seperti safflower atau konsentrat wortel oranye atau kuning untuk memenuhi kebutuhan konsumen dari clean labelling tanpa E-number atau INS number,” ujar Wong.

“Kebanyakan mi instan memiliki umur simpan 6 bulan hingga satu tahun, sehingga penggunaan warna harus stabil dalam jangka waktu ini. Dengan produk yang terpapar cahaya dan suhu saat berada di etalase, penting untuk memilih jenis warna alami yang tepat,” pungkas Wong.

Cari tahu secara bijaksana bagaimana anda mewarnai makanan dan minuman secara alami di www.chr-hansen.com/color. Anda juga dapat menghubungi melalui 
info-sea@chr-hansen.com
atau
contact@indesso.com.

UNDUH MATERI DI SINI

Artikel Lainnya

  • Jun 25, 2024

    Peningkatan Kualitas SDM Indonesia dengan Program Minum Susu

    Kualitas SDM Indonesia selalu mengalami perkembangan, namun masih perlu ditingkatkan. Tantangan utama meliputi peningkatan kualitas pendidikan, akses terhadap layanan kesehatan berkualitas, dan pengurangan ketimpangan ekonomi dan sosial. Pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan kualitas SDM melalui berbagai program dan kebijakan. Diperlukan partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan. ...

  • Jun 24, 2024

    Yoghurt: Ragam & Inovasinya

    Yoghurt merupakan produk susu fermentasi populer yang dihasilkan oleh bakteri asam laktat; serta kaya akan protein, vitamin, dan mineral. Selain itu, yoghurt juga dapat dikonsumsi untuk penderita intoleransi laktosa, karena sebagian laktosa telah terfermentasi menjadi asam laktat dan komponen lainnya. ...

  • Jun 21, 2024

    Susu Kambing: Karakteristik & Fungsionalitasnya

    Saat ini, tren konsumsi susu kambing kian marak. Hal ini didorong oleh beberapa faktor, di antaranya kemudahan pencernaan, tidak menimbulkan reaksi alergi, dan dapat digunakan sebagai pelengkap diet bagi kalangan yang memiliki kebutuhan zat gizi khusus. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat pasca pandemi Covid-19 turut memperkuat tren ini. Susu kambing dapat dikonsumsi dalam bentuk susu pasteurisasi maupun olahannya seperti yoghurt, kefir, dan keju. ...

  • Jun 07, 2024

    Tantangan Perubahan Iklim terhadap Keamanan Pangan

    Perubahan iklim telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sektor pangan global. Kenaikan suhu, perubahan pola curah hujan, dan meningkatnya frekuensi peristiwa cuaca ekstrem seperti banjir dan kekeringan, mengganggu produksi pangan di berbagai belahan dunia. Perubahan ini tidak hanya mengurangi hasil panen, tetapi juga mempengaruhi kualitas pangan, meningkatkan risiko ketidakamanan pangan. Kondisi ini sangat meresahkan karena populasi dunia terus bertambah, sehingga kebutuhan pangan semakin mendesak. ...

  • Jun 07, 2024

    Validasi dan Verifikasi dalam Pengontrolan Alergen di Industri Pangan

    Validasi dan verifikasi merupakan dua langkah kunci dalam pengendalian alergen di industri pangan.  ...