KONSUMSI MINUMAN RINGAN & RISIKO TIMBULNYA OBESITAS


Pengertian minuman ringan yang dibahas dalam artikel ini adalah nonalcoholic ready to drink atau secara populer dikenal dengan sebutan soft drink. Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM) menyatakan bahwa konsumsi minuman ringan di Indonesia lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Diungkapkan bahwa konsumsi minuman ringan per kapita di Indonesia pada tahun 2011 sebanyak 2,4 liter per tahun, lebih rendah dibandingkan dengan Filipina 34,1 liter, Thailand 32,2 liter, Malaysia 19,0 liter, Vietnam 6,2 liter dan Kamboja 4,5 liter.

 

ASRIM juga menyatakan bahwa masyarakat Indonesia lebih cenderung mengonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK), serta saribuah dan minuman teh siap saji, daripada minuman ringan. Pertumbuhan konsumsi minuman  ringan di Indonesia hanya sebesar 4 % per tahun, sedangkan air minum dalam kemasan mencapai 7 % per tahun dan minuman teh siap saji mencapai 7,7 % per tahun.

 

Minuman ringan diproduksi dengan cara mencampurkan bahan-bahan (ingridien) dalam bentuk serbuk kering dan gula dengan air, kemudian ke dalamnya ditambahkan gas karbon dioksida dan akhirnya dilakukan pengemasan. Pada awalnya gula yang digunakan adalah sukrosa, tetapi kemudian digantikan dengan high fructose syrup (HFS) dengan alasan lebih ekonomis, karena fruktosa mempunyai kemanisan sekitar 1,5 kali sukrosa. HFS yang banyak digunakan diproduksi dari pati jagung secara enzimatis, dan dikenal dengan sebutan sebagai high fructose corn syrup (HFCS).

 

Oleh Prof (em) Dr Ir Deddy Muchtadi, MS

Selengkapnya artikel ini dapat dibaca di majalah FOODREVIEW INDONESIA edisi  April 2014, yang dapat diunduh di www.foodreview.co.id

Artikel Lainnya

  • Apr 26, 2022

    Peluang Snack Savoury di Indonesia

    Indonesia merupakan negara kepulauan yang dianugerahi dengan melimpahnya rempah yang tersebar hampir di seluruh wilayahnya. Tren kesehatan pada produk snack savoury didorong oleh kebutuhan akan pilihan yang lebih menyehatkan dengan jenis produk yang lebih rendah garam, lemak, dan gula. Di Indonesia, pengembangan produk snack savoury yang lebih menyehatkan ini memiliki peluang yang besar karena bahan bakunya yang melimpah seperti menggunakan kulit ikan, tempe, dan nori. Selain itu, dapat pula dikombinasikan dengan kearifan pangan tradisional yang saat ini juga tersedia. Ingridien fungsional juga dapat menjadi salah satu potensi untuk dikembangkan menjadi snack yang lebih menyehatkan. ...

  • Apr 26, 2022

    Ragam Snack Savoury di Indonesia

    Di Indonesia, snack dengan flavour savoury terus mengalami pertumbuhan terutama karena kondisi untuk terus berada di rumah. Secara global, tren snack di berbagai negara dapat berbeda- beda sesuai dengan apa yang menjadi ketertarikan konsumen di suatu daerah tersebut. Ada beberapa flavour savoury yang umum ditemukan pada produk snack Indonesia diantaranya adalah flavour panggang dan bakar seperti barbekyu dan hickory, panas dan pedas seperti cabai, flavour daging seperti ayam dan sapi, boga bahari serta flavour lokal seperti nasi goreng. Sedangkan flavour yang dipersepsikan memiliki kaitan dengan snack yang lebih menyehatkan diantaranya adalah flavour herba dan rempah seperti lada, jahe, dan lain sebagainya. ...

  • Apr 24, 2022

    Evaluasi Sensori pada Industri Pangan

    Evaluasi sensori diaplikasikan untuk berbagai lingkup penggunaan dalam industri pangan. Masing-masing lingkup penggunaan memiliki tujuan yang berbeda sehingga jenis uji sensori yang digunakan pun juga berbeda. ...

  • Apr 23, 2022

    Masa Depan Protein Nabati

    Protein memiliki peran strategis dalam pertumbuhan manusia. Karena itu, konsumsi protein perlu diperhatikan untuk dapat memenuhi kebutuhan yang diperlukan. Dewasa kini, protein berbasis nabati menunjukkan eksistensinya. Alternatif protein ini diprediksi didorong munculnya golongan fleksitarian (mengonsumsi lebih banyak pangan bersumber nabati daripada hewani).  ...

  • Apr 22, 2022

    Pengembangan Produk Snack Lebih Menyehatkan

    Snack yang lebih menyehatkan memang telah menjadi perhatian global pada hampir seluruh konsumen. Salah satu pendorong dari tren ini adalah meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) terutama obesitas dan penyakit kardiovaskular, penyakit pernapasan kronis, diabetes, dan beberapa bentuk kanker yang berasal dari obesitas. Penyakit tidak menular ini dianggap sebagai salah satu masalah terbesar dalam masyarakat modern saat ini. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit tidak menular adalah pembunuh utama di Asia Tenggara, merenggut sekitar 8,5 juta jiwa setiap tahun. ...