Posbiotik sebagai Ingridien Pangan Fungsional: Inovasi, Produksi, dan Tantangannya

 

Oleh Lilis Nuraida
SEAFAST Center Divisi Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Teknik dan Teknologi - IPB University

Secara global permintaan konsumen terhadap pangan fungsional semakin meningkat, seiring dengan gaya hidup sehat dan konsep wellness. Pangan fungsional merupakan pangan yang selain menyediakan zat gizi juga memberikan manfaat kesehatan. Salah satu perhatian adalah pangan fungsional yang menyehatkan saluran pencernaan. Gangguan pada saluran ini dapat menyebabkan dominasi mikrobiota berbahaya, memicu berbagai penyakit akut dan kronis. Dalam perkembangannya, perhatian tidak hanya tertuju pada mikroorganisme hidup, tetapi juga pada komponen atau metabolit mikroorganisme yang tetap memberikan manfaat kesehatan meskipun mikroorganismenya telah diinaktivasi. Komponen tersebut dikenal sebagai posbiotik.

 

Probiotik, prebiotik dan sinbiotik telah dikenal untuk memodulasi mikrobiota saluran pencernaan untuk memberikan manfaat kesehatan secara langsung maupun tidak langsung. Manfaat probiotik tidak langsung diberikan ketika probiotik menjadi inaktif dan adanya metabolit-metabolit yang dihasilkan di dalam saluran pencernaan, terutama kolon. Penelitian- penelitian mengenai manfaat kesehatan probiotik yang sudah terinaktivasi dan metabolitnya menyebabkan munculnya terminologi biotik baru, antara lain posbiotik, paraprobiotik, ghostbiotics, metabiotik, probiotik non-viable, heat- killed probiotics, tyndallized probiotics, dan cell lysates.

Terminologi posbiotik lebih banyak digunakan, namun demikian definisi yang digunakan pada berbagai publikasi belum baku, misalnya paraprobiotik digunakan untuk sel utuh yang telah diinaktivasi, sementara posbiotik digunakan untuk metabolit dan komponen-komponen selnya. Pada tahun 2019, The International Scientific Association of Probiotics and Prebiotics (ISAPP) menerbitkan konsensus mengenai definisi posbiotik yaitu sebagai sediaan mikroorganisme terinaktivasi dan/atau komponennya yang memberikan manfaat kesehatan bagi inangnya (Salminen et al. 2021). Posbiotik dapat mengandung metabolit yang dihasilkan selama fermentasi.

Penggunaan posbiotik sebagai ingridien pangan fungsional atau suplemen memberikan alternatif terhadap probiotik dari sisi stabilitas dan viabilitasnya, karena produk posbiotik tidak mempersyaratkan viabilitas selama penyimpanan, sehingga umur simpan dapat lebih lama; tidak memerlukan penjaminan terhadap viabilitasnya, sehingga memudahkan penanganan dan transportasi. Selain itu, penggunaan posbiotik juga mengurangi risiko terjadinya translokasi mikroorganisme terutama pada populasi rentan. Selain sel yang diinaktivasi, posbiotik mencakup berbagai senyawa bioaktif yang merupakan hasil metabolisme mikroorganisme dan komponen-komponen sel yang memberikan manfaat kesehatan.

Persyaratan posbiotik
Selain menyepakati mengenai definisi posbiotik, ISAPP juga mengusulkan kriteria sediaan untuk dapat dikategorikan sebagai posbiotik (Salminen et al. 2021):

  1. Karakterisasi molekular untuk menilai keamanan mikroorganisme posbiotik;
  2. Deskripsi detail prosedur inaktivasi dan matriksnya;
  3. Konfirmasi inaktivasi mikroorganisme sehingga dipastikan tidak ada mikroorganisme hidup;
  4. Uji klinis yang terkontrol untuk membuktikan manfaat kesehatan terhadap inang;
  5. Deskripsi detail komposisi sediaan posbiotik;
  6. Kajian keamanan sediaan posbiotik terhadap inang sesuai dengan tujuan penggunaan.

ISAPP menambahkan bahwa metabolit yang telah dipurifikasi tidak dikategorikan sebagai posbiotik. Vaksin uga tidak dapat dikategorikan sebagai posbiotik. Posbiotik juga tidak harus berasal dari mikroorganisme probiotik, namun identitasnya harus diketahui dan ditentukan berdasarkan pada analisis molecular (Salminen et al. 2021). Oleh karena itu fermentasi pangan tradisional dengan proses fermentasi menggunakan kultur yang tidak teridentifikasi tidak dapat dikategorikan sebagai posbiotik. Mikroorganisme yang digunakan untuk membuat posbiotik kebanyakan berasal dari mikroorganisme yang sudah dikenal sebagai probiotik dari taksa Lactobacillaceae dan genus Bifidobacterium.

Bagaimana membuat posbiotik?
Produksi posbiotik melibatkan proses bioteknologi untuk menghasilkan sediaan bioaktif secara konsisten dan aman oleh karena itu jalur biosintesis dalam proses fermentasi perlu dipahami. Meena et al. (2025) menggambarkan 4 tahapan produksi posbiotik yaitu:

 

  1. Produksi biomassa dan biosintesis metabolit dengan fermentasi,

  2. Inaktivasi sel dan pemecahan sel,

  3. proses hilir (pemisahan atau pemekatan sel, metabolit dan komponen sel,

  4. pengawasan mutu dan karakterisasi.

  5. Artikel bersambung...
    Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 4

Artikel Terkait