BUBUK DAUN KELOR: Ingridien Potensial Pangan Fungsional


Oleh Teti Estiasih
Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Brawijaya

Tanaman kelor (Moringa oleifera), yang dijuluki sebagai "the miracle tree", telah lama dikenal akan ketahanannya di daerah kering dan kemampuannya menjadi sumber gizi vital. Namun, belakangan ini, popularitasnya melesat seiring terungkapnya beragam khasiat bubuk daun kelor bagi kesehatan. Di luar penggunaannya dalam pengobatan tradisional, bubuk daun kelor kini menjadi sorotan utama dalam industri pangan modern berkat profil zat gizinya yang mengesankan dan potensi fungsionalnya.

Di Indonesia dan banyak negara, kelor lazim digunakan untuk pengobatan tradisional, dan sebagian memanfaatkan kelor untuk mengatasi gizi buruk. Daun kelor secara tradisional digunakan dalam berbagai obat tradisional seperti ekstrak daunnya untuk menyembuhkan konjungtivitis; daun segar juga diresepkan untuk penderita anemia, serta untuk ibu hamil dan menyusui dapat meningkatkan produksi ASI. Jus yang diperoleh dari daunnya digunakan untuk menormalkan tekanan darah dan kadar glukosa darah. 

Di antara bagian pohon kelor, daun kelor adalah yang paling banyak dimanfaatkan dan diungkap khasiat kesehatannya secara ilmiah. Penambahan daun kelor ke dalam produk pangan umumnya dalam bentuk bubuk karena memudahkan formulasi dan penanganan. Pasar dunia bubuk daun kelor terus tumbuh diproyeksikan mencapai omzet lebih dari 14 juta USD pada tahun 2028. Pertumbuhan pasar global bubuk daun kelor disebabkan khasiat kesehatan daun kelor dan peningkatan kesadaran akan pentingnya pangan yang menyehatkan. Penelitian yang banyak dilakukan untuk khasiat kesehatan daun kelor adalah dalam bentuk ekstrak. Walaupun penelitian khasiat bubuk daun kelor terbatas, tetapi bubuk daun kelor terbukti secara ilmiah bersifat antidiabetes, antikolesterol dan antidislipidemia, antikanker, antioksidan, antiinflamasi, dan antihipertensi. Zat gizi dalam daun kelor yang menonjol adalah kandungan protein, susunan asam amino yang baik, dan tinggi vitamin C dan α-tokoferol. Protein dalam bubuk daun kelor dapat berubah menjadi peptida bioaktif dalam pencernaan yang mempunyai kemampuan menghambat enzim pengkonversi angiotensin yang berperan dalam peningkatan tekanan darah. Pro-vitamin A dalam bentuk ß-karoten cukup tinggi pada bubuk daun kelor, selain itu, kaya mineral seperti kalsium, potasium, dan zat besi.

Salah satu upaya untuk menghasilkan pangan fungsional adalah dengan menggunakan bahan-bahan yang mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi kesehatan. Cara lain untuk menghasilkan pangan fungsional adalah dengan fermentasi yang menghasilkan senyawa bioaktif, atau fortifikasi dengan ekstrak senyawa bioaktif. Salah satu bahan yang secara historis diyakini memiliki manfaat bagi kesehatan adalah bubuk daun kelor. Bubuk daun kelor merupakan sumber bahan fungsional yang berharga termasuk protein, vitamin, mineral, dan fitonutrien seperti karotenoid, tokoferol, polifenol, flavonoid, alkaloid, dan tanin. Secara umum, penambahan berbagai bagian kelor ke dalam produk-produk seperti roti, kue kering, camilan, dan minuman, meningkatkan profil nutrisi produk (protein, asam amino esensial, mineral, dan serat).

Bubuk daun kelor merupakan alternatif pengganti susu dan telur,serta membantu para vegan/vegetarian untuk mengonsumsi kandungan protein yang sama. Dalam produk susu dan daging, tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas antioksidan dan antimikroba. Pada setiap produk pangan, penambahan konsentrasi tinggi menyebabkan warna kehijauan, rasa herbal, dan perubahan sifat mekanis (tekstur, kekerasan, kekenyalan, volume, dan kekenyalan), yang berdampak negatif pada penerimaan produk akhir.

Sifat fungsional bubuk daun kelor

Artikel bersambung...
Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 5

Artikel Terkait