Inovasi Produk Berbahan Matcha untuk Generasi Z

Oleh Sri Raharjo
Pusat Studi Pangan dan Gizi, Departemen Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada
 

Matcha, minuman tradisional Jepang, telah bertransformasi menjadi fenomena global yang merambah berbagai lapisan masyarakat. Popularitas matcha yang meluas ini dapat menjadi model pengembangan rempah dan herbal Indonesia di tingkat global. Matcha, dalam bentuk serbuk hijau cerah ini tidak hanya menghiasi kedai-kedai kopi ternama, tetapi juga menjadi bahan utama dalam berbagai produk pangan, dari late yang creamy hingga hidangan penutup yang lezat. Namun, di balik popularitasnya yang mendunia, matcha juga menyimpan warisan budaya serta profil gizi mengesankan yang membedakannya dari teh hijau biasa. 

Matcha adalah bentuk khusus dari teh hijau yang berasal dari Jepang, dibuat dengan menggiling daun teh menjadi bubuk halus. Kata “matcha” sendiri berasal dari bahasa Jepang: “ma” yang berarti “digiling” atau “halus”, dan “cha” yang berarti “teh”. Berbeda dengan teh celup atau teh daun longgar yang diseduh, matcha sebenarnya adalah suspensi bubuk daun teh dalam air, yang berarti Anda mengonsumsi seluruh daunnya. Perbedaan mendasar antara matcha dan teh hijau biasa terletak pada tiga aspek utama yaitu metode budi daya, proses produksi, dan cara konsumsi. 

Proses produksi matcha

 

 

  • Penaungan (Shading): Proses produksi matcha dimulai sekitar 3-4 minggu sebelum panen, ketika tanaman teh ditutupi dengan jaring hitam atau kanopi khusus untuk mengurangi paparan sinar matahari hingga 90%. Teknik naungan ini, yang dikenal sebagai “tana” atau “jikakise”, merupakan langkah kritis yang membedakan matcha dari teh hijau biasa. Penaungan menciptakan stres fisiologis pada tanaman teh, yang merespons dengan meningkatkan produksi klorofil untuk menangkap lebih banyak cahaya yang tersedia. Hal ini tidak hanya memberikan matcha warna hijau yang cerah tetapi juga mengubah metabolisme tanaman. Produksi L-theanine, asam amino yang bertanggung jawab atas rasa umami matcha, ditingkatkan sementara konversi L-theanine menjadi katekin (yang memberikan rasa pahit) diperlambat.
  • Pemanenan: Daun matcha dipanen dengan hati-hati, biasanya pada musim semi (antara April dan Mei di Jepang), ketika daun muda paling beraroma. Panen pertama (“ichibancha”) dianggap yang terbaik, menghasilkan matcha dengan rasa paling halus dan kompleks. Beberapa perkebunan juga melakukan panen kedua (“nibancha”) dan ketiga (“sanbancha”), meskipun kualitasnya umumnya lebih rendah. Pemetikan dilakukan secara selektif, dengan hanya mengambil tunas muda dan dua daun teratas. Metode panen bervariasi dari panen tradisional dengan tangan hingga panen mekanis, dengan matcha kelas tertinggi biasanya dipanen dengan tangan untuk memastikan kualitas terbaik.
  • Pengukusan: Segera setelah panen, daun matcha dikukus selama 20-45 detik pada suhu sekitar 95°C. Proses pengukusan ini menginaktivasi enzim oksidatif, menghentikan fermentasi dan mempertahankan warna hijau cerah serta komponen bioaktif daun teh. Metode pengukusan adalah karakteristik dari teh hijau Jepang (disebut “sencha”), berbeda dengan metode penggorengan yang digunakan dalam produksi teh hijau China.
  • Pengeringan dan Penyortiran: 
    Artikel bersambung...
    Klik Next › untuk melanjutkan membaca.
Halaman 1 dari 6

Artikel Terkait